Mengangkat tema “Warasatul Maiyah”, suasana ngaji bareng Masyarakat Maiyah Cirrebes menjadi semakin kaya akan keberagaman—baik dalam suasana hati, pikiran, maupun laku ngelmu. Semua terasa begitu hidup. Ekspresi jamaah dalam bersinau tampak jelas, menyimpan tantangan, keseriusan, dan tentu saja harapan.
Tema “Warasatul Maiyah” menghadirkan beragam sudut pandang dari setiap jamaah. Salah satu penggiat Maiyah Cirrebes mengajak jamaah untuk bersama-sama merumuskan makna tema ini, baik dalam konteks “warisan” yang kerap hadir dalam kehidupan masyarakat, maupun dalam kaitanya dengan nilai-nilai inti dari hadis “al-‘ulama warasatul anbiya”.
Salah satu jamaah merespons dengan tegas bahwa Maiyah adalah ruang kebersamaan yang di dalamnya terdapat nilai-nilai kehidupan; Maiyah bukanlah sekadar eksistensi. Dengan nada santai namun sarat makna, ia menyampaikan bahwa jika Maiyah justru menjadi beban dalam kehidupan, maka tinggalkan saja. Sebab, salah satu nilai utama dalam Maiyah adalah kedaulatan. Bahkan, awal pertama berdirinya rutinan bulanan Maiyah Cirrebes pada Januari 2018, tema yang diangkat adalah “Kedaulatan”.
Di sisi lain, salah satu penggiat Cirrebes membuka pintu ruang baru untuk merespons hadis “al-‘ulama warasatul anbiya” melalui lima pilar jalan kenabian yang telah dijabarkan oleh marja Maiyah, Ki Nursamad Kamba/Syaikh Kamba (Allah yarhamuh), yaitu:
1. Independensi atau kemandirian—tidak bergantung pada orang lain dan berani bertanggung jawab.
2. Penyucian jiwa—membebaskan diri dari sifat-sifat buruk (takhalli).
3. Penanaman sifat terpuji—kearifan dan kebijaksanaan.
4. Amanah—kejujuran dan tanggung jawab.
5. Keintiman dengan Tuhan—cinta kasih sebagai pusat.
Dalam khazanah Maiyah, jamaah tentu tidak asing dengan ungkapan “muhammadkan hamba”. Para pelaku Maiyah, salikul Maiyah, adalah mereka yang terus berupaya, tanpa henti, dalam pikiran, ucapan, dan laku kehidupan untuk mencintai serta meneladani Nabi Muhammad Saw.
Mengingat lima pilar jalan kenabian tersebut, salah satu jamaah mengutarakan bahwa penggunaan istilah marja’ dalam Maiyah merupakan pilihan kata yang sangat presisi dan sarat makna. Ruang lingkupnya perlu terus dipelajari. Secara sederhana, marja’ adalah tempat kembali yang menjembatani kita untuk mencintai Rasulullah saw.
Para salikul Maiyah akan terus berupaya menghadirkan nilai-nilai terpuji “Muhammad” dalam pikiran, ucapan, dan laku. Setidaknya, menjadi teladan terdekat di lingkungan keluarga, demi menumbuhkan generasi yang memegang prinsip segitiga cinta: Allah, Rasulullah, dan hamba-Nya.
رَبِّ لَا تَذَرْنِيْ فَرْدًا وَّاَنْتَ خَيْرُ الْوٰرِثِيْنَ
Pada sesi akhir maiyahan ini, Mas Gandi selaku penggiat Maiyah Cirrebes yang selalu memimpin tawashulan menutup kegiatan dengan mengajak jamaah mentadabburi dua ayat Al-Qur’an yang beliau lantunkan sekaligus jelaskan maknanya:
اَمْ حَسِبْتُمْ اَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَّثَلُ الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْۗ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاۤءُ وَالضَّرَّاۤءُ وَزُلْزِلُوْا حَتّٰى يَقُوْلَ الرَّسُوْلُ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗ مَتٰى نَصْرُ اللّٰهِۗ اَلَآ اِنَّ نَصْرَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti yang dialami orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang dengan berbagai cobaan, hingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, ‘Kapankah datang pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214)
اَمْ حَسِبْتُمْ اَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ جَاهَدُوْا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصّٰبِرِيْنَ
“Apakah kamu mengira akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu dan belum nyata pula orang-orang yang sabar.” (QS. Ali ‘Imran: 142)









