Sabtu malam, 28 Februari 2026. Jarum jam menunjukkan pukul 21.00 WIB ketika hujan turun cukup deras di Dusun Bumbungan, Desa Sumbersuko, Kabupaten Pasuruan. Jalanan kecil menuju OTES Omah Tengah Sawah tampak basah oleh guyuran langit sejak sore. Namun hujan malam itu justru seperti menjadi pembuka suasana—menghadirkan kesunyian yang hangat sebelum perjumpaan dimulai.
Satu per satu jamaah Sinau Bareng Maiyah Sulthon Penanggungan tetap berdatangan. Ada yang datang dengan pakaian masih lembap, ada yang menenteng jas hujan seadanya. Derasnya cuaca tidak mengurangi semangat mereka. Barangkali karena yang dicari malam itu bukan sekadar acara, melainkan ruang untuk pulang sejenak kepada diri sendiri.
Kegiatan diawali dengan pembacaan tawashshul, menghadiahkan doa kepada para pendahulu—mereka yang telah lebih dahulu menapaki jalan kehidupan dan meninggalkan jejak keteladanan. Suasana kemudian semakin teduh saat lantunan Surat Ar-Rahman menggema pelan, diikuti sholawat dengan formasi yang sangat minimalis. Tanpa kemewahan perangkat, kesederhanaan justru menghadirkan kedekatan rasa di antara yang hadir.
Memasuki sesi pengantar materi bertema “KODE ETIK +26”, Mas Umar mengajak jamaah menengok kembali perjuangan paling mendasar manusia: proses bertumbuh. Ia menyoroti pesan dalam Surat Al-Qasas ayat 26 tentang sosok manusia ideal—mereka yang memiliki kekuatan sekaligus dapat dipercaya. Kekuatan tanpa integritas berpotensi merusak, sementara integritas tanpa keteguhan sering kali tak mampu bertahan menghadapi zaman.

Diskusi semakin hidup dengan kehadiran Pak Sri Ardani bersama keluarga dari Surabaya. Sosok yang pernah menjadi pengajar sekaligus turut merawat pondok pesantren milik Kyai Muzammil di Bantul selama empat tahun itu membagikan pengalaman kehidupan yang sederhana namun sarat makna. Kisah-kisah pengabdian, perjalanan batin, serta perjumpaan dengan berbagai karakter manusia mengalir hangat di tengah forum.
Cak Hasan kemudian menggali lebih jauh pengalaman Pak Ardani. Percakapan berlangsung cair—sesekali diselingi tawa, namun tetap menyimpan pelajaran mendalam tentang kesabaran, amanah, dan cara manusia menjaga niat di tengah dinamika kehidupan.
Pembahasan malam itu perlahan bergerak melampaui refleksi personal. Tema KODE ETIK +26 mengantarkan jamaah pada realitas sosial yang tengah dihadapi bersama: fenomena komersialisasi agama. Diskusi mengemuka bahwa agama di satu sisi menjadi sumber nilai yang memperkuat manusia, namun di sisi lain tidak sedikit dimanfaatkan sebagai sarana membangun citra dan kepentingan duniawi.
Forum tidak hadir untuk menunjuk siapa yang salah. Justru Sinau Bareng menjadi ruang mawas diri—mengajak setiap individu bertanya kepada dirinya sendiri. Sebab ketika keseimbangan antara kekuatan dan integritas terus diabaikan, pembusukan sosial perlahan terjadi. Kehancuran tidak datang secara tiba-tiba, melainkan tumbuh dari kompromi kecil yang dibiarkan berulang.
Para pegiat Maiyah malam itu seolah diingatkan: memahami gejala zaman bukan untuk merasa paling benar, tetapi agar lebih waspada menjaga diri. Perjuangan terbesar manusia bukan sekadar menghadapi dunia luar, melainkan memastikan dirinya tidak ikut larut dalam arus yang ia sadari sedang kehilangan arah.

Sebagaimana tradisi Sinau Bareng, pembelajaran yang berlangsung selalu bersifat personal. Setiap tema menjadi cermin bagi masing-masing jamaah—tentang perjalanan hidup, tanggung jawab sebagai individu, serta peran sebagai bagian dari masyarakat dan bangsa.
Menjelang penghujung acara, wirid Hasbunallah dilantunkan bersama. Suara yang pelan namun mantap memenuhi ruang malam. Setelah diskusi panjang dan perenungan mendalam, jamaah kembali diingatkan bahwa segala ikhtiar manusia pada akhirnya tetap bersandar kepada Yang Maha Mengatur.
Makna KODE ETIK +26 pun mengendap perlahan: bahwa menjadi manusia yang kuat dan terpercaya adalah fondasi awal perjuangan membangun diri—sebuah langkah kecil namun menentukan dalam mewujudkan peradaban yang bermartabat.
Di luar, hujan mulai mereda. Malam kembali tenang. Jamaah pulang membawa langkah yang mungkin sama seperti saat datang, namun dengan hati yang sedikit lebih terang—menyemai kekuatan, sekaligus menjaga integritas, di tengah perjalanan panjang menjadi manusia.
Redaksi Sulthon Penanggungan








