Sinau Bareng Gugurgunung malam itu mengangkat tema “Padhepokan Wakafa”. Acara dimulai tepat pukul 20.00 WIB dengan pembacaan tawashshul yang dipimpin oleh Pak Tri. Setelah tawashshul selesai dilantunkan, forum dilanjutkan dengan pembacaan mukadimah oleh Mas Kasno sebagai pengantar untuk memasuki tema pembahasan malam itu.
Pada sesi gelar tikar tema, Mas Agus mengawali pembahasan dengan membedah beberapa fenomena yang banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah fenomena banjir informasi yang terjadi di era saat ini. Menurutnya, berbagai stimulasi yang hadir melalui media dan lingkungan sering kali memancing respon emosional seseorang. Oleh karena itu, informasi yang diterima perlu diimbangi dengan pendekatan yang lebih utuh melalui rumus 5W1H agar tidak terjebak pada kesimpulan yang tergesa-gesa. Juga sangat penting untuk merasakan getaran narasi, sebab sekarang yang asli dan palsu sudah semakin susah dibedakan. Dengan kita melatih kepekaan terhadap getaran narasi, kita sedang membangun sistem kewaspadaan dini.

Pembahasan kemudian merambah pada aspek ekonomi yang menurutnya tidak dapat dipisahkan dari ekologi, ekosistem, perilaku, dan kultur masyarakat. Dalam konteks perilaku, nilai-nilai kenabian seperti sidiq, tabligh, amanah, dan fathonah menjadi bagian penting yang perlu dihadirkan dalam kehidupan. Keseluruhan unsur tersebut pada akhirnya menjadi benih yang akan menentukan arah pertumbuhan suatu masyarakat. Selain itu, Mas Agus juga menyinggung persoalan identitas yang dibangun di atas kompetisi serta fenomena FOMO (fear of missing out) yang semakin banyak mempengaruhi cara pandang dan perilaku manusia saat ini. Takut ketinggalan, takut nggak beken, takut enggak dianggap sejajar pada level sosial, adalah ketakutan yang salah tempat. Ketakutan terbesar kita itu sesungguhnya ketika dicabut predikat abdillah dan khalifah. Karena dua hal itu identitas yang patut diperjuangkan bukan malah diabaikan diganti dengan label dan stempel sosial.
Pembahasan berikutnya dilanjutkan oleh Pak Pawit, salah seorang praktisi pertanian yang hadir jauh dari Temanggung. Dalam uraiannya, beliau mengajak jamaah melihat kembali pentingnya pertanian yang thoyyib. Pertanian tidak hanya dipahami sebagai aktivitas budidaya tanaman semata, tetapi juga sebagai bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di muka bumi. Pertanian yang baik adalah pertanian yang ramah lingkungan, menjaga keberlangsungan alam, sekaligus menjadi bentuk tanggung jawab seorang pemimpin dan penerus kehidupan.

Memasuki sesi tanya jawab, berbagai tanggapan dan pertanyaan mulai mengalir dari jamaah. Mas Yusuf mengawali dengan pertanyaan mengenai bentuk pemberdayaan lingkungan yang dapat dilakukan, baik di wilayah perkotaan maupun pedesaan. Ia juga mempertanyakan seperti apa model budidaya yang tepat untuk dijalankan dalam konteks tersebut.
Selanjutnya, Mas Dany mengajukan pertanyaan yang lebih teknis terkait kebutuhan lahan dan media tanam. Ia menanyakan bagaimana perhitungan kalkulasi yang perlu disiapkan apabila ingin memulai kegiatan budidaya secara lebih serius.
Mas Satrio kemudian bertanya mengenai produk yang dapat digunakan untuk membantu memperbaiki unsur tanah, sekaligus menanyakan di mana produk tersebut dapat diperoleh. Jua apabila tidak ada lahan yang bisa digarap, apakah bisa diterapkan pada area tanam yang lebih terjangkau, misalnya polybag atau planter bag. Semua pertanyaan berkaitan dengan pertanian ditanggapi oleh Pak Pawit.

Mas Kasno selaku penata diskusi memberikan pandangan juga bahwa langkah awal yang paling memungkinkan adalah memulai dari rumah masing-masing. Juga menganggapi uraian Mas Agus bahwa behaviour setelah ekosistem dan ekologi, sepertinya merupakan ejawantah ekosofi yakni term yang menandai perilaku seseorang yang bukan cuma tajam di sektor horisontal namun juga peka pada sektor vertikal. Mas Kasno juga sependapat dengan gagasan Mas Satrio, menanam menggunakan polybag dipandang sebagai cara sederhana yang dapat dilakukan siapa saja tanpa harus menunggu memiliki lahan yang luas.
Pandangan tersebut kemudian diperkuat oleh Mas Arif. Menurutnya, apabila kegiatan pertanian hendak diarahkan menjadi sebuah usaha atau skala bisnis, maka terlebih dahulu perlu ditentukan pasar yang ingin digarap, strategi yang akan digunakan, serta pola kesepakatan jual belinya. Selain itu, perlu ada pembagian peran yang jelas antara pihak yang fokus pada produksi dan pihak yang bergerak di bidang pemasaran. Namun demikian, sebelum melangkah terlalu jauh ke arah bisnis, Mas Arif mengajak jamaah untuk terlebih dahulu menumbuhkan mental menanam. Kebiasaan dan kesadaran untuk menanam dapat dimulai dari rumah masing-masing melalui media sederhana seperti polybag maupun pekarangan rumah yang dipandang memungkinkan.

Menjelang akhir diskusi, Mas Agus kembali memberikan penegasan. Menurutnya, dalam menanam tidak perlu terlalu dibebani oleh target-target tertentu terhadap tanaman yang ditumbuhkan. Biarkan tanaman tumbuh secara natural sesuai kehendak Yang Maha Kuasa. Yang lebih penting adalah mempertebal kembali niat awal dalam setiap ikhtiar yang dilakukan. Sebab niat yang kuat akan menjadi pondasi bagi proses yang dijalani.
Diskusi berlangsung hangat dan mengalir hingga larut malam. Berbagai pandangan yang muncul tidak hanya membahas persoalan teknis pertanian, tetapi juga menyentuh aspek kesadaran, perilaku, dan tanggung jawab manusia terhadap lingkungan hidupnya.
Sinau Bareng malam itu diakhiri tepat pukul 01.30 WIB dengan bacaan hamdalah sebagai ungkapan syukur atas ilmu, perjumpaan, dan kebersamaan yang telah terjalin sepanjang forum berlangsung. Meskipun acara Sinau Bareng telah ditutup namun semuanya baru benar beranjak sekitar jam 03.00 pagi. Malam itu seolah malam perbincangan yang lesehan di bawah atap Padhepokan Wakafa yang meski serba sederhana, namun penuh rasa bahagia. (Redaksi Majlis Gugurgunung)









