Tumpeng nasi kuning dan peluncuran Buletin Cirrebes edisi perdana menghadirkan warna yang berbeda dalam rutinan Maiyah bulan Mei tahun ini. Keduanya menjadi simbol rasa syukur kepada Allah Swt. karena telah menghadirkan Mbah Nun dan Maiyah dalam kehidupan kita bersama. Rasa syukur tersebut kemudian menumbuhkan niat, tekad, dan doa yang termuat dalam tema maiyahan malam itu, yaitu “Cinta Sepanjang Zaman.”
Tema cinta sepanjang zaman diangkat dalam rangka menyambung dan mengikat tali kasih untuk menguatkan jangkar ketauhidan kita seutuhnya. Dalam Maiyah, kita mengenal istilah “Segitiga Cinta”, yaitu Allah, Rasulullah, dan hamba-Nya.
Seperti biasa, acara maiyahan malam itu dibuka dengan pembacaan tawasulan, kemudian dilanjutkan dengan penjabaran serta pantikan-pantikan mengenai tema yang akan disinaui bersama. Salah satu penggiat Cirrebes memulai dengan penekanan bahwa cinta sepanjang zaman ini pusat arahnya bukan kepada Mbah Nun, melainkan kepada Rasulullah saw. Mencintai Mbah Nun adalah bagian dari cinta kepada Rasulullah saw. Bahkan, bukan hanya kepada Mbah Nun saja, kepada siapa pun, kapan pun, dan di mana pun kita berada, jika cara kita mencintainya mengikuti cara cinta Rasulullah kepada manusia, maka sejatinya cinta itu menyatu dengan cinta Rasulullah saw.

Kuncinya terletak pada kesadaran diri kita kepada Rasulullah saw. Mbah Nun pernah mengatakan bahwa bershalawat dalam rangka mencintai Rasulullah bukan hanya melalui ucapan. Sekadar mengingat Rasulullah pun sudah termasuk kategori cinta kepadanya. Yang ditekankan adalah kesadaran cinta, dan itulah yang harus terus diperjuangkan sepanjang zaman. Hal ini selaras dengan tujuan Rasulullah saw diutus untuk seluruh alam, yaitu menebarkan kasih sayang.
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”
Mengenai pantikan kesadaran cinta di atas, salah satu jamaah merespons dengan sebuah cerita mengenai Mbah Nun pada era reformasi yang lebih memilih jalan arus bawah: berkumpul, menemani masyarakat, bershalawatan, dan belajar bersama. Kesadaran bersama dalam bermasyarakat dan bernegara merupakan tonggak utama untuk memperbaiki bangsa. Jamaah lainnya juga menambahkan bahwa pada awal-awal Maiyahan di Padhangmbulan Jombang, perkembangannya bukan hanya karena kajian Al-Qur’an yang disampaikan, melainkan juga karena banyaknya pertanyaan dari jamaah yang sadar akan berbagai persoalan kehidupan, seperti ekonomi, sosial, bahkan hingga ranah politik.

Dalam Maiyah, setiap keadaan dan permasalahan dikaji serta diuraikan untuk diperbaiki bersama-sama dengan memasukkan gelembung-gelembung cinta di dalamnya. Seperti halnya persoalan korupsi, keserakahan, dan pemalsuan yang dilakukan oleh para pejabat pemerintahan. Dalam semua hal itu, yang dipermasalahkan dalam Maiyah bukan hanya kerugian materi negara semata, melainkan yang jauh lebih penting adalah nilai-nilai kesadaran kemanusiaannya. Maiyah tetap mencintai manusianya, meskipun harus menyampaikan hal yang dianggap keras sebagai bentuk cintanya.
تَبَّتْ يَدَآ أَبِيْ لَهَبٍ وَتَبَّۗ
مَآ أَغْنٰى عَنْهُ مَالُهٗ وَمَا كَسَبَۗ
سَيَصْلٰى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍۙ

Maiyahan malam itu terus berjalan dengan asyik dan khidmat. Ada satu momen yang membuat malam itu terasa begitu penuh cinta dan makna, yaitu ketika salah satu penggiat Cirrebes yang paling sepuh membacakan sebuah puisi yang ditulis dan dibacakan pada malam itu juga. Beberapa kalimat dalam puisi tersebut di antaranya:
Apa yang hendak kita buat?
Menghafal teori atau mewaspadai zaman?
Atau sama sekali tidak peduli!
Maiyah adalah sebuah Metode Membaca
Yang mentasbihkan Koma sebagai panglima
Menyerahkan Titik pada pegiatnya
Agar mengerti kemandirian
Paham integritas bersama kedaulatan
Lalu di mana letak Maiyah?
Angin berbisik:
“Di tiap-tiap tindakan dan pijakan sucinya cintamu, sepanjang menuju perbaikan zaman.”
Puisi tersebut seakan menjadi penegasan atas seluruh pembahasan malam itu. Bahwa cinta bukan sekadar perasaan atau ungkapan, melainkan kesadaran yang hadir dalam setiap tindakan dan pijakan kehidupan. Sebuah kesadaran yang menuntun manusia untuk terus belajar, memperbaiki diri, merawat kasih sayang, serta menjaga hubungan dengan Allah, Rasulullah, dan sesama manusia. Itulah pijakan cinta yang terus diperjuangkan dalam Maiyah sebagai jalan panjang menuju perbaikan zaman.









