Acara Maiyah Cirrebes edisi 28 Februari 2026 mengangkat tema Pusaka Puasa sebagai ajakan untuk menjaga pusaka spiritual dalam perjalanan hidup. Kegiatan diawali dengan tawashulan, kemudian dilanjutkan dengan refleksi kehidupan jamaah yang diarahkan pada tema Pusaka Puasa untuk di-titeni, di-sinau-i, serta dibagikan nilai dan pengalamannya kepada sesama.
Salah satu penggiat Maiyah Cirrebes menegaskan bahwa pusaka maiyahan adalah tawashulan. Ia bukan sekadar pembuka acara, melainkan laku yang wajib dijalani dalam lingkar Maiyah. Bukan untuk menghadirkan syariat baru, melainkan sebagai proses pengakhlakan diri—melatih kerendahan hati di hadapan Allah SWT. Dalam ilmu Maiyah, tawashulan dipahami sebagai ibadah muamalah: selama tidak ada larangan, selama membawa kebaikan dan kemanfaatan, maka ia patut dijaga dan dijalankan. Namun, kewajiban ini dimaknai sebagai etika internal Maiyah, bukan untuk diberlakukan kepada masyarakat umum.
Menjaga pusaka puasa juga tercermin dalam kisah salah satu jamaah yang berbagi pengalaman perjalanannya menuju Maiyah malam itu. Ia seorang penjual ayam geprek yang tetap membuka dagangannya sejak siang hari. Hingga menjelang sore, belum satu pun pembeli datang. Dalam kegundahan, terlintas niat di hatinya untuk membawa seluruh dagangan ke maiyahan dan membagikannya kepada jamaah. Namun menjelang Maghrib, seluruh dagangannya justru diborong oleh seorang pembeli.
Perjalananya menuju Cirrebes malam itu ditemani gerimis. Jamaah tersebut teringat ungkapan Mbah Nun bahwa bila menuju Maiyah dalam gerimis, di situ ada kehadiran Mbah Nun. Rintik hujan pun menjadi bagian dari perjalanan menjaga pusaka puasanya: menahan kegundahan, merawat syukur, dan memelihara rindu bermaiyah yang menyatu dalam diri.

Rutinan malam itu dihadiri Mas Harianto, yang datang jauh-jauh dari Yogyakarta untuk bersilaturahmi dan bermaiyah bersama. Sebelum ke Cirrebes, pada malam sebelumnya ia juga menghadiri rutinan Maiyah bersama jamaah maiyah di Majalengka.
Kehadiran Mas Harianto pada malam itu menjadi momen yang bermakna. Ia bukan sekadar jamaah Maiyah, tetapi juga bagian dari tim redaksi Maiyah serta dikenal dekat secara personal dengan Mbah Nun. Menanggapi hal tersebut, Mas Harianto justru menyampaikan sebuah ilustrasi dengan penuh kerendahan hati. Ia mengibaratkan: matahari itu memberi penerangan secara menyeluruh: yang jauh tetap menerima cahayanya, sementara yang dekat justru bisa jadi lebih merasakan panasnya. Ungkapan sederhana ini disambut dengan tawa hangat para jamaah Maiyah yang hadir.
Setelah suasana cair dan akrab, Mas Harianto membuka pemaparan dengan konsep dasar Maiyah. Dalam proses maiyah, yang utama bukanlah menjadi lebih pintar, melainkan menjadi lebih dekat dengan Allah SWT. Di dalamnya harus ada proses aktivasi spiritual. Hal ini berbeda dengan diskusi akademik seperti di kampus atau forum lain, yang umumnya lebih menekankan aktivitas intelektual semata. Akibatnya, yang sering muncul adalah adu argumen, pertarungan logika, serta perdebatan tentang siapa yang benar dan siapa yang salah.
Terkait tema Pusaka Puasa, Mas Harianto mengisahkan strategi peperangan dalam tradisi kekeratonan. Dalam barisan pasukan perang, yang berada di barisan terdepan adalah pasukan pemanah, digunakan saat musuh masih berada jauh. Ketika musuh semakin dekat, disusul pasukan bertombak. Sementara di barisan paling belakang terdapat panglima yang memegang keris—senjata yang secara bentuk justru tidak ideal untuk pertempuran terbuka. Keris ini melambangkan pusaka, yang mengisyaratkan bahwa musuh sejati bukanlah yang berada di luar diri, melainkan yang ada di dalam diri manusia sendiri.
Menjaga pusaka puasa harus diasah sepanjang hayat. Ia tidak berhenti saat waktu berbuka, dan tidak selesai ketika Ramadhan usai. Bahkan setelah waktu berbuka puasa tiba, manusia tetap diajak menahan diri agar tidak berlebihan. Pada malam hari, puasa berlanjut dalam bentuk pengendalian emosi serta kesadaran moral dalam setiap tindakan.

Refleksi lain datang dari seorang jamaah yang berprofesi sebagai Sekretaris Desa. Dengan kejujuran dan kejernihan hati, ia mengakui bahwa pada awalnya dirinya tidak menyukai puasa. Namun ketika puasa tetap dijalani dengan kesungguhan, ia justru merasakan kehadiran Allah SWT yang begitu dekat. Kedekatan itu melahirkan kegelisahan batin yang jujur, hingga sempat mendorongnya mempertimbangkan mundur sementara dari jabatannya.
Kegelisahan tersebut bersumber dari suara nurani yang terusik, terutama terkait laporan pertanggungjawaban pemerintahan desa yang ia rasa belum sepenuhnya selaras dengan nilai kejujuran dan ketenteraman hatinya. Menanggapi hal itu, Mas Harianto menegaskan bahwa politik pada hakikatnya adalah jalan yang suci—yakni proses distribusi keadilan melalui jalan kekuasaan. Kritik terhadap pemerintahan sejatinya bukan ditujukan pada kekuasaannya, melainkan pada praktik kezalimannya, siapa pun yang sedang memegangnya.
Mas Harianto kemudian mengingatkan prinsip dasar pengabdian: falyā‘budū rabbahādzal-bait—mengabdi sepenuh hati kepada Tuhan Pemilik kehidupan. Pengabdian tersebut diwujudkan melalui kasih sayang terhadap lingkungan sekitar, baik dalam ruang pendidikan, pemerintahan, maupun kehidupan sosial lainnya. Dengan laku pengabdian yang dilandasi kasih sayang, ia meyakini akan berlaku janji Allah: alladzī ath‘amahum min jū‘in wa āmanahum min khauf—bahwa ketenangan, kesejahteraan, dan rasa aman akan dijamin oleh-Nya.

Setelah menyimak tanggapan tersebut, jamaah tersebut memantapkan diri untuk tetap mengabdi dengan meluruskan kembali niat dan meneguhkan kasih sayang terhadap sesama.
Pada akhirnya, menjaga pusaka puasa adalah menjaga keseimbangan dan keotentikan diri. Ia menjadi jalan yang diperjalankan oleh Allah SWT agar manusia memperoleh derajat di hadapan-Nya, yang otomatis akan mendapatkan martabat di hadapan makhluk-Nya—sebuah pusaka yang tidak diwariskan melalui benda, melainkan melalui kesadaran dan laku hidup. (Red. CirRebes)








