Selepas shalat tarawih, tepat pukul 20.30 WIB, lantai 2 Gedung Dakwah Islamiyyah Kota Tasikmalaya kembali menjadi ruang perjumpaan batin. Jamaah berkumpul dalam Sinau Bareng Maiyah Lingkar Daulat Malaya edisi ke-110. Malam itu, tema yang diangkat adalah “Karakatan Shiyam”—sebuah frasa yang mengundang perenungan panjang tentang perjuangan puasa dan kedaulatan diri.
Majelisan dibuka oleh Kang Ihsan Farhanuddin dengan tawashshulan yang khusyuk. Dalam prolognya, ia menegaskan bahwa pola “main” ngaji bareng di Maiyah bukanlah forum satu arah, melainkan ruang kedaulatan. Setiap orang berhak merespons, mengelaborasi, mendengar, dan mengambil hikmah sesuai kedalaman masing-masing. Sebagaimana dawuh Emha Ainun Nadjib (Mbah Nun), “Kita berkumpul bukan untuk menyamakan pikiran, tetapi untuk menyamakan hati dalam keberagaman pikiran”. Di situlah kedaulatan tumbuh: bukan dari keseragaman, melainkan dari kesadaran.

Mukadimah tema disampaikan oleh Kang Acep Muhadjir. Ia menggugat kebiasaan tahunan umat Islam dalam menjalani Ramadhan. Apakah puasa hanya seremoni yang berulang—sekadar menahan lapar dan dahaga serta mengubah jadwal makan—atau sungguh menjadi metodologi latihan pengendalian diri? Pertanyaan itu menggema di antara jamaah. Mbah Nun pernah mengingatkan, “Ibadah bukan soal rutinitas, tetapi soal transformasi”. Maka Ramadlan seharusnya bukan sekadar kalender, melainkan laboratorium perubahan.
Mas Yanuwar Effendi mengurai makna “karakatan”. Ia bisa berarti perjuangan, tetapi juga bisa dibaca sebagai “karatan”—kotoran atau kegelapan dalam hati dan pikiran. Karakatan Shiyam, dengan demikian, adalah perjuangan membersihkan karat batin yang menempel dalam diri. Sebagaimana pesan Mbah Nun, “Musuh terbesar manusia adalah diri sendiri, bukan diluar dirinya”. Puasa menjadi proses pengikisan, bukan hanya penahanan. Sambung Ihsan mengutip dari Mbah Nun.

Kang Heru kemudian mengajukan pertanyaan subtil: bagaimana menempatkan secara tepat antara berbuat baik kepada orang lain dan kepada diri sendiri? Pertanyaan itu membawa jamaah pada kesadaran keseimbangan. Mbah Nun pernah berkata, “Jangan sampai kebaikanmu kepada orang lain justru menjadi kezaliman terhadap dirimu sendiri.” Kebaikan sejati adalah yang lahir dari kesadaran, bukan keterpaksaan.
Kang Yusep menyoroti realitas teknologi yang belum sepenuhnya selaras dengan akhlak manusia. Ia mengajak setiap pribadi menjadi filter bagi dirinya sendiri. “Peranmu di manapun, jadilah penyaring atas apa yang membuat hatimu tidak enak,” ujarnya. Mbah Nun menasihati, “Teknologi itu netral. Yang menentukan surga atau neraka adalah niat dan akhlak penggunanya”. Bahkan dalam selorohnya, Kang Yusep mengingatkan bahwa laki-laki yang terlalu banyak bicara atau perempuan yang tiba-tiba diam, bisa jadi sedang menyimpan persoalan. Sebuah humor reflektif yang menghangatkan malam.

Kang Ridwanullah menambahkan bahwa kadar pengendalian diri tidak bisa disamaratakan. Maka di Maiyahan kita senantiasa dilatih untuk tidak tergesa gesa dalam menilai atau memutuskan sesuatu. Merespon fenomena people pleaser atau rasa tidak enakan bisa jadi berakar pada rasa “ingin diakui sebagai orang baik”. Mbah Nun mengajarkan, “Kalau engkau masih sibuk dianggap baik oleh manusia, engkau belum merdeka”. Kedaulatan lahir ketika seseorang tidak lagi menggantungkan nilai dirinya pada penilaian orang lain.
Kang Hisyam melihat bahwa nilai puasa sejatinya telah banyak diinternalisasi dalam kehidupan, namun masyarakat kapitalistik secara masif mendorong peningkatan syahwat dan libido yang sejatinya ilusi. “Dunia modern menciptakan kebutuhan-kebutuhan palsu agar manusia lupa kebutuhan sejatinya”, demikian kira-kira napas ajaran Mbah Nun yang sering diulang dalam berbagai kesempatan. Puasa menjadi rem di tengah akselerasi hasrat.

Kang Mansur menegaskan bahwa menahan lapar dan haus belum tentu sejalan dengan kemampuan menahan syahwat mata, telinga, pikiran, dan perasaan. Puasa bukan hanya urusan perut, melainkan penjagaan seluruh indera. Mbah Nun pernah mengingatkan, “Yang paling sulit dari puasa bukan menahan makan, tetapi menahan diri.”
Di tengah kehangatan diskusi, Kang Yosep menghadirkan sedekah musik. Lagu “Jangan Sombong” yang akrab di telinga jamaah sejak 2016–2021 menggema kembali. Bulu kuduk merinding. Suasana menjadi syahdu ketika Hisyam menyelipkan pembacaan puisi di sela-sela lantunan. Musik dan puisi berpadu, menghadirkan pendalaman sekaligus kegembiraan. Seperti dawuh Mbah Nun, “Seni adalah jalan sunyi untuk menyampaikan kebenaran tanpa menyakiti”. Malam itu, kebenaran terasa lembut namun menghujam.
Selepas lantunan lagu, majelisan dilanjutkan dengan kesegaran baru. Kang Billy Muhammad Ramadhan mengangkat tema muwajahah—tatap muka yang kini kian langka, tertutup hijab tebal layar Video Call, Zoom, dan pertemuan daring. Ia mengajak jamaah merenung : mengapa shalat, yang urusan pribadi, justru diperintahkan melalui peristiwa agung Isra Mi’raj? Rasulullah yang dipanggil langsung oleh Allah untuk menghadapNya, ketika kondisi Rasulullah sedang dalam kesedihan yang mendalam juga. Padahal jelas Shalat bukan untuk Allah, tetapi untuk diri yang shalat itu sendiri. Forum Ngaji bareng sebulan sekali ini sebagai ruang penyeimbang, semacam charger. Kita saling bertatap muka, merespon secara berdaulat, menertawakan diri kita masing-masing dan saling menyuguhkan kegembiraan, padahal didalam isi pikiran dan hati kita masing masing sedang dijejali tantangan hidup yang berat. Sholat saja, Allah yang manggil Rasulullah untuk menghadapNya, Lha ini cuma urusan remeh temeh, kita ingin berinteraksi, berjumpa temu kangen, masa via online? Disinilah Maiyah konsisten menjaga dan merawat nilai nilai perjumpaan yang menebar cinta, kegembiraan dan jalinan persaudaraan.

Sementara respon terhadap tema kali ini, kang Billy menambahkan bahwa Ramadlan adalah madrasah dengan tujuan takwa. Lalu selepas Ramadlan, apakah arah itu benar-benar diteruskan dan diperjuangkan ataukah menguap dan hilang?
Ia menjelaskan bahwa puasa mengajarkan regulasi dan manajemen diri. Sesuatu yang halal saja dibatasi, apalagi yang haram. Fashion modern pun dikritisi—bagaimana manusia menautkan identitas dengan merek demi validasi sosial. “Yang kita latihkan bukan asesorisnya, tetapi fungsinya,” tegasnya. Mbah Nun sering berkata, “Nilai dirimu bukan pada apa yang kau pakai, tetapi pada nilai apa yang kau beri.”
Kang Ihsan kembali merespons fenomena people pleaser. Jangan-jangan rasa tidak enakan itu sekadar hasrat ingin disebut baik. Mbah Nun menegaskan, “Dirimu itu tidak penting di hadapan manusia. Yang penting adalah kebenaran yang kau perjuangkan, kebaikan dan kebermanfaatan yang kau suguhkan.” Dari kesadaran itulah tumbuh independensi – kedaulatan dan kemandirian.
Kang Billy menambahkan respon tentang ‘brainrot’, penurunan daya kognisi, memori manusia akibat dari kebiasaan scrolling media sosial yang dilakukan tanpa niat yang jelas. Scroll secara asal-asalan akan menurunkan daya ingat memori yang tak disadari. Ia juga mengingatkan pentingnya mengelola niat dan kesungguhan berangkat dari nilai yang terpancar dari Rahman dan RahimNya — keluasan dan kedalaman. Banyak orang mengejar keluasan (rahman), tetapi lupa mendalami (rahim). Mengutip perkataan dari Mbah Nun, ia menutup dengan kalimat yang menohok : “Latihlah dirimu sungguh-sungguh melakukan hal yang tidak enak bagimu, maka kejujuranmu akan terasah”. Shalat dan puasa memang tak selalu nyaman, tetapi disanalah kedalaman jujur dibuka kalau anda ‘revolusioner’ melaksanakannya .
Malam itu, Maiyahan bukan sekadar forum diskusi, melainkan cermin bersama. Karakatan Shiyam menjadi pengingat bahwa puasa adalah perjuangan membersihkan karat batin, menumbuhkan kedaulatan diri, dan mengembalikan manusia pada fungsi kebermanfaatannya. Di tengah gemuruh zaman, jamaah pulang dengan satu kesadaran: Ramadhan bukan hanya bulan, melainkan proses panjang menjadi manusia yang lebih merdeka dan lebih jujur kepada dirinya sendiri. (Red. LDM)
Tasikmalaya, 27 Febuari 2026 / 9 Ramadhan 1447 H








