Kita adalah rakyat kecil. Kita tidak datang dengan niat untuk berkuasa atas Indonesia. Kita tidak memiliki kekuatan untuk mengatur negeri ini, menentukan seluruh kebijakannya, atau memastikan ke mana bangsa ini akan berjalan. Kita menjalani kehidupan dengan kemampuan yang terbatas. Maka kepada Allah kita kembali dengan kesadaran yang sederhana:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ
Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung.
Namun menjadi rakyat kecil bukan berarti kita terbebas dari tanggung jawab. Tidak memiliki kekuasaan bukan berarti tidak memiliki kepedulian. Tidak mampu mengatur seluruh Indonesia bukan berarti kita tidak bisa berbuat sesuatu bagi Indonesia.
Barangkali kita bisa merenungkan tiga kata dalam rasa bahasa Jawa: nyunggi, mikul, dan ngemban. Ketiganya sama-sama berbicara tentang membawa sesuatu, tetapi tempatnya berbeda: nyunggi di kepala, mikul di pundak, dan ngemban di dada. Dari sana kita bisa belajar memahami amanah, beban, dan cinta.
Nyunggi adalah membawa sesuatu di atas kepala. Kita bisa membayangkan para pejabat negara sebagai orang-orang yang nyunggi amanah rakyat. Mandat rakyat berada di atas kepala mereka.
Kemudian ada mikul. Mikul berada di pundak. Kita bisa membayangkan para pejabat pemerintahan sebagai mereka yang mikul urusan rakyat: pelayanan publik, pembangunan, ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan berbagai persoalan kehidupan sehari-hari. Pundak adalah tempat beban ditanggung. Tetapi sesuatu yang dipikul bukan untuk dipamerkan, melainkan untuk ditunaikan. Pada akhirnya, setiap tanggung jawab akan berhadapan dengan pertanyaan: untuk siapa pekerjaan itu dilakukan dan kepada siapa amanah itu dipertanggungjawabkan?
Lalu ada ngemban. Ngemban berada di dada. Di sinilah kita, rakyat kecil, menemukan ruang tanggung jawab kita sendiri. Kita tidak sedang ingin nyunggi kekuasaan dan tidak merasa mampu mikul seluruh urusan pemerintahan. Tetapi kita masih bisa ngemban Indonesia. Sebab sesuatu yang kita emban bukan hanya sesuatu yang dibawa karena beratnya, melainkan sesuatu yang kita dekatkan dengan dada karena ada hubungan batin dengannya. Ada cinta, kepedulian, dan kesediaan untuk menjaga.
Manusia diberi amanah sebagai khalifah di bumi.
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً.
“Dan ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.” (QS. Al-Baqarah: 30).
Bumi itu sangat luas, Indonesia pun luas. Maka sebelum kita membayangkan menjadi khalifah bagi seluruh bumi, barangkali kita perlu bertanya: sudahkah kita menjadi khalifah bagi diri sendiri? Sudahkah kita mampu memimpin hawa nafsu, menjadi manusia yang baik bagi keluarga, dan membawa kebaikan bagi orang-orang di sekitar kita?
Kita bukan bangsa yang baru lahir kemarin. Republik Indonesia lahir pada tahun 1945, tetapi manusia Nusantara dan kebudayaannya telah menjalani perjalanan panjang sebelumnya. Kita mewarisi tanah, bahasa, kebudayaan, gotong royong, nilai kehidupan, dan pengalaman generasi-generasi terdahulu.
Barangkali Indonesia bisa kita bayangkan seperti seorang anak yang masih tumbuh. Kadang belum tahu arah, kadang membuat kita kecewa. Tetapi karena ia masih tumbuh, ia membutuhkan teladan, arahan, penjagaan, dan kasih sayang. Masa depannya tidak cukup hanya dikeluhkan; ia perlu dipikirkan dan dipersiapkan.
Maka meng-emban Indonesia bukanlah ajakan untuk menjadi penguasanya. Kita tidak perlu merasa sanggup memikul seluruh persoalannya. Cukuplah kita membawa Indonesia dalam cara kita hidup: melalui keluarga yang kita didik, pekerjaan yang kita jalankan, lingkungan yang kita jaga, dan kebaikan yang kita usahakan dalam kehidupan sehari-hari.
Setelah ikhtiar dilakukan, kita belajar melepaskan keinginan untuk menguasai hasilnya. Sebab tugas manusia adalah berusaha dengan sungguh-sungguh, sementara hasil akhirnya tetap berada dalam kehendak Allah Ta’ala.
حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ ۖ نِعْمَ الْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ النَّصِيرُ
“Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia sebaik-baik tempat berserah. Dia sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.”
Mari datang, duduk bersama, berbagi rasa dan belajar bersama. Barangkali dari perjumpaan sederhana ini, kita menemukan cara untuk meng-emban Indonesia—dengan cara kita hidup, dengan kepedulian, dan dengan kebaikan yang kita hadirkan di tengah kehidupan.








