Kata “laku” berasal dari bahasa Jawa yang akar maknanya: berjalan, menjalani, melakukan, menempuh hidup. Dalam budaya Jawa, laku bukan sekadar aktivitas fisik. Tapi lebih dekat dengan: tirakat, proses penghayatan, disiplin batin, cara seseorang menjalani hidup. Dalam perspektif Islam, makna laku dekat dengan: mujahadah (bersungguh-sungguh melatih diri), riyadhoh (latihan spiritual), amal (tindakan nyata, bukan sekadar ucapan). Ilmu tanpa laku dianggap belum hidup. Karena itu ada ungkapan: “Ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah”. Artinya, kebenaran harus dijalani, bukan hanya diketahui.
Sedangkan kata “ajeg” berarti: teguh, stabil, tidak goyah, konsisten. Sesuatu yang tidak mudah berubah karena keadaan, tidak ikut arus, punya pendirian atau keteguhan yang lahir dari kesadaran. Dalam perspektif Islam, makna ajeg dekat dengan konsep: istiqamah (konsisten di jalan yang benar), tsabat (keteguhan hati), qana’ah (tidak mudah goyah oleh dunia).
Laku Ajeg berarti perilaku atau tindakan yang dilakukan secara konsisten, terus-menerus, dan tidak berubah-ubah. Cara menjalani hidup dengan konsisten, sadar, dan teguh dalam nilai yang diyakini. Kesetiaan terhadap proses hidup dan nilai kebenaran.
Kita sepakat Laku Ajeg itu dilakukan oleh Mbah Nun, beliau ialah guru bangsa, seorang pemimpin negara dan keluarga yang mampu memberikan telazan dalam mengaktualisasi nilai-nilai agama dan moralitas kehidupan. Karena yang dijaga bukan popularitas, melainkan keberlanjutan nilai, menghidupkan kesadaran berpikir. Lalu, nilai apa yang sedang kita jaga dengan ajeg dalam hidup kita sendiri?
Laku Ajeg bukan hanya untuk mengenang perjalanan Mbah Nun tetapi apakah kita juga bersedia memeriksa perjalanan kita sendiri, walau bahwa mayoritas manusia hari ini menjadi sangat individualistis, terasing dari sesama dan terjebak dalam rutinitas mekanis yang mengikis nilai-nilai spiritualitas dan kemanusiaan.
Tetapi kita tetap setia terhadap memahami proses hidup dan nilai kebenaran. Maka menjadi manusia barangkali adalah upaya terus-menerus untuk merawat posisi batin. Karena cara kita menampung hidup, menentukan apa yang bisa tumbuh dan tinggal didalamnya. Perubahan tidak selalu dimulai dari istana, kadang dimulai dari lingkaran kecil orang-orang yang mau berpikir bersama.
Wallahu a’lam bishawab.








