Filantropi sering dipahami sebagai kedermawanan. Memberi bantuan, memberi uang, atau membantu mereka yang kekurangan. Padahal dalam kehidupan manusia, filantropi kadang hadir dalam bentuk yang jauh lebih sunyi dan tidak selalu terlihat.
Ada orang yang memberi banyak, tetapi membuat manusia lain bergantung. Ada pula yang mungkin tidak memiliki banyak hal untuk dibagikan, tetapi kehadirannya membuat orang lain tumbuh, berani, dan merasa berharga. Barangkali di situlah salah satu cara membaca filantropi manusia Emha Ainun Nadjib.
Selama puluhan tahun, Mbah Nun tidak hanya berbicara tentang sedekah. Beliau mengajarkan jalan hidup yang sederhana namun dalam: tandur, puasa, shodaqoh. Menanam, menahan diri, lalu berbagi. Tiga hal yang tampak biasa, tetapi sesungguhnya seperti mata air yang terus menghidupi banyak orang.
Tandur mengajarkan bahwa hidup bukan sekadar menikmati hasil, melainkan menyiapkan kehidupan bagi yang lain. Puasa mengajarkan bahwa manusia harus mampu mengendalikan dirinya sendiri sebelum merasa mampu mengatur orang lain. Dan shodaqoh bukan sekadar memberi kelebihan, tetapi melatih hati agar tidak membeku oleh kepentingan diri sendiri.
Namun mungkin, filantropi terbesar Mbah Nun bukan hanya pada apa yang beliau berikan, melainkan pada bagaimana beliau memperlakukan manusia lain. Beliau sering membesarkan hati orang lain. Membuat orang kecil merasa punya harga diri. Membuat orang bingung merasa masih punya harapan. Membuat orang yang berbeda pendapat tetap merasa diterima sebagai manusia. Banyak orang datang dengan rasa minder, rasa gagal, atau rasa tidak berarti, lalu pulang dengan hati yang lebih tegak. Dan itu tidak selalu dilakukan lewat ceramah besar. Kadang cukup lewat perhatian kecil, candaan sederhana, atau kesediaan mendengarkan tanpa menghakimi.
Di tengah dunia yang sering membuat manusia saling mengecilkan, Mbah Nun justru berkali-kali mengajarkan tentang kedaulatan dan otentisitas. Tentang keberanian menjadi diri sendiri. Tentang pentingnya manusia berdiri di atas kesadarannya sendiri, bukan sekadar ikut arus dan keramaian.
Yang membuat filantropi manusia Emha terasa berbeda barangkali karena ia tidak lahir dari posisi, jabatan, ataupun kemewahan hidup. Ada orang menjadi dermawan karena memiliki kekuasaan. Ada yang mudah memberi karena memiliki kelimpahan harta, pengaruh, atau nama besar. Tetapi pada diri Mbah Nun, yang lebih dahulu terasa justru kualitas manusianya. Cara beliau memandang manusia lain sebagai manusia. Tidak sibuk meninggikan diri, tidak tergesa menghakimi, dan tidak menjadikan orang lain kecil agar dirinya tampak besar. Barangkali itulah sebabnya banyak orang merasa dekat dengan beliau, bahkan sebelum memahami isi ceramahnya. Karena yang hadir bukan sekadar seorang budayawan, kiai, seniman, atau tokoh publik, melainkan manusia yang berusaha memanusiakan manusia lainnya.
Barangkali itulah sebabnya banyak hal lahir dari lingkungan Maiyah. Bukan karena diajarkan untuk menjadi pengikut, melainkan didorong untuk menemukan jalan hidupnya masing-masing secara merdeka dan bertanggung jawab.
Karena itu, filantropi manusia Emha bukan terutama soal materi. Bukan pula soal pencitraan kebaikan. Yang terasa justru bagaimana beliau membuka ruang agar manusia lain bisa tumbuh tanpa kehilangan dirinya sendiri.
Maka malam ini bukan sekadar mengenang ulang tahun seseorang. Bukan pula untuk mengagungkan seorang tokoh. Melainkan mencoba membaca satu pelajaran penting: bahwa memberi manfaat kepada manusia lain tidak selalu harus dimulai dari kekayaan besar. Kadang cukup dengan menanam. Kadang cukup dengan menahan ego. Kadang cukup dengan membesarkan hati manusia lain agar kembali percaya pada dirinya sendiri.
Dan pada 27 Mei ini, di usia Mbah Nun yang ke-73, izinkan lingkar kecil ini menyampaikan doa dan terima kasih. Semoga Allah melimpahkan kesehatan, panjang keberkahan umur, keluasan hati, serta penjagaan bagi Mbah Nun, keluarga, dan seluruh jamaah yang terus menanam kebaikan di berbagai penjuru kehidupan.
Sebab mungkin, banyak orang tidak sadar bahwa dirinya pernah diselamatkan bukan oleh bantuan besar, melainkan oleh hati yang dibesarkan, oleh keberanian yang ditumbuhkan, dan oleh ruang kemanusiaan yang selama ini diam-diam Mbah Nun rawat dengan penuh kasih.
Mari duduk bersama. Melingkar. Bukan sekadar mengenang Mbah Nun, tetapi mencoba membaca kembali nilai-nilai kemanusiaan yang beliau tanamkan. Lalu di tengah kehidupan hari ini, seperti apa filantropi dijalankan? Apakah masih lahir dari ketulusan untuk memanusiakan, atau perlahan berubah menjadi citra dan pertunjukan? Apakah manusia masih benar-benar hadir untuk manusia lainnya, atau justru semakin sibuk dengan dirinya sendiri? Sebab mungkin, dunia tidak sedang kekurangan orang besar, yang mulai langka justru manusia yang mampu membesarkan hati manusia lain.








