Maiyah lingkar mahasiswa sukses menyelenggarakan MLM Camp batch 1 di Padukuhan Ngasemayu, Kalurahan Salam, Kapanewon Patuk Gunung Kidul DIY. Acara tersebut berlangsung selama 5 hari, mulai dari Sabtu 29 November sampai Jumat 5 Desember 2025.
Mengusung tema “Masa Depan Dunia Pertanian: Menata Visi Transformatif Ala Gen-Z”, kegiatan camp ini tidak seperti pada umumnya orang nge-camp di gunung dan sebagainya, melainkan tinggal langsung (live in) di rumah petani (induk semang) di mana para peserta secara langsung membantu aktivitas induk semang.
Rumah induk semang yang ditempati berjumlah 9 rumah, dan jumlah peserta 25 orang. Peserta berasal dari berbagai wilayah: Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, DIY, Banten, Bengkulu, Pontianak, dan Lombok. Meski beragam latar belakangnya, namun keharmonisan dan rasa kekeluargaannya sangat terlihat saat mereka bercerita di forum. Ada yang saling belajar dan bertukar bahasa daerahnya seperti Sunda, Jawa, Bengkulu, dan lainnya.
Penempatan peserta ada yang bertiga dan berdua dalam 1 rumah. Mengenai jumlah peserta, yang mendaftar sebanyak 450 orang, namun setelah diseleksi ulang menjadi 45 orang. Sedang jumlah peserta yang hadir dan bisa mengikuti acara MLM camp berjumlah 25 orang dan 20 lainnya tidak bisa mengikuti karena peserta berasal dari Aceh, dan Sumatera yang sedang mengalami musibah banjir bandang.

Persyaratan utama peserta adalah membuat policy brief di mana peserta diminta menarasikan apa kegelisahan yang mereka rasakan, dan bagaimana solusi serta apa tindakan (action plan) yang akan dilakukan pasca acara. Peserta juga diharapkan memiliki kesadaran peran dan aksi untuk kemaslahatan umat dan Indonesia emas. Setiap hari, peserta harus membantu induk semangnya, entah ngarit, bertani, berkebun, sampai membersihkan kotoran hewan dan aktivitas lainnya di waktu pagi sampai siang.
Rangkaian acara MLM camp adalah pembukaan, penyampaian materi, pelatihan pupuk organiq dan ditutup dengan sinau bersama dengan KiaiKanjeng. Itulah rangkaian acara yang dilaksanakan di Ngasemayu Gunung Kidul, sedang acara yang terakhir yaitu ziarah ke maqbarah keluarga besar Mbah Nun sekaligus menghadiri pengajian Padhangmbulan di Mentoro, Jombang.
Pembukaan acara dilaksanakan pada malam Ahad, 29 November 2025 dengan dihadiri induk semang, pejabat setempat, tokoh masyarakat, mahasiswa KKN, dan para peserta. Pembukaan ditandai dengan penyerahan pacul secara simbolik dari Marja’ Maiyah Mbah Adil Amrullah kepada peserta.
Untuk rangkaiam acara perharinya, hari Ahad/hari pertama materi “Menjawab Krisis Berkelanjutan Dunia Pertanian: Dekolonisasi Regenerasi Pertanian” oleh Mbah Adil Amrullah dilanjut materi MLM Agrinext : Desa Sebagai Arah Peradaban Dan Peran Mahasiswa Sebagai Khalifah Sosial, oleh Muntiara Rambe.
Hari Senin/hari kedua: pelatihan pupuk organiq (memakai Q yang berarti organiq Qur’ani) dibersamai oleh Cak Sholichin, dilanjut penyampaian materi oleh Mas Rinto Setiawan dan Mas Prayogi dari Sekolah Negarawan tentang Pendidikan Politik : Gen-Z Sebagai Aktor Perubahan dan Dinamika Perkembangan Zaman : Optimalisasi Teknologi Digital.
Hari selasa/hari ketiga, pelatihan tentang Peran Pemuda Dalam Menjaga Kebijaksanaan oleh Mas Jamal Jufree dan dilanjut Integrasi Ideologi Indonesia : Membaca Ulang Pemikiran Ideologi di Indonesia dan Relevansi di Era Sekarang oleh Mas Adma Devantara. Sedang sebagai penutup materi adalah Nilai-Nilai Maiyah Sebagai Pondasi Gen-Z Dalam Menjalankan Kehidupan oleh Mas Helmi Mustofa.

Sebagai penutup acara di Ngasemayu ialah Tawashshulan dan Sinau Bareng dengan KiaiKanjeng pada Rabu malam Kamis, 3 Desember di Joglo Bapak Janarko. Acara ini berjalan sangat khidmat, dibuka dengan penampilan gejok lesung padukuhan Baran yang merupakan alat musik tradisional. Sempat juga berkolaborasi dengan KiaiKanjeng dalam sholawat Tombo Ati. Sinau bersama disampaikan oleh Mas Islamiyanto dan Mas Helmi Mustofa dibersamai Mas Doni, Pak Imam Fatawi dan Pakde-pakde Kiai Kanjeng.
Para jama’ah sama sekali tidak ada yang beranjak pulang satupun sampai acara selesai pukul 23.30 WIB. Semangat, kehadiran, serta dukungan dari berbagai pihak mulai dari Jamaah Maiyah masyarakat, karang taruna, Banser dan polsek Patuk menjadikan acara meriah dan lancar. Pemerintah setempat, seperti Ibu dukuh, pak lurah juga mengikuti sampai akhir, bahkan pak polisinya pun menyumbang satu lagu di sesi Sinau Bareng.
Silaturahmi dan pemberian bingkisan foto peserta dan induk semang dilakukan pada hari Kamis. Semua peserta keliling ke setiap rumah induk semang sekaligus berpamitan pulang. Tawa dan tangis mewarnai keharmonisan tersebut meskipun 5 hari namun kenangannya insyaallah bertahun-tahun dan mungkin tidak akan terlupakan. Karena kedekatan emosional dari induk semang dan peserta sangat erat, peserta sudah dianggap seperti anak sendiri.
Induk semang pun terkadang menjemput peserta ke forum dan menunggu ia pulang, betapa sayangnya induk semang kepada peserta, apalagi pada hari keberangkatan ke Jombang hari Jumat para induk semang ikut mengantar ke bus dan membawakan bekal, seperti nasi bungkus, dan jajan dengan berpesan “Ini buatmu dan teman-temannya saat di jalan, takut lapar”. Semua itu disebut apa? Jika bukan tentang kasih sayang yang begitu besar. Mas Helmi menyebutnya sebagai “cinta lokasi”, maksudnya adalah Desa Salam menjadi lokasi di mana berlangsung cinta dan kasih sayang kebaikan antara induk semang dan masyarakat dengan para peserta MLM Camp

Sesampainya di Jombang pada waktu maghrib dilanjut ishoma dan setalah itu ziarah ke maqbarah keluarga besar Mbah Nun. Peserta bisa dibilang 90% belum kenal Maiyah karena baru pertama kali bersentuhan dengan acara Maiyah. Lebih-lebih ke Padhangmbulan. Sedang saat pengajian berlangsung peserta diminta naik panggung dan menceritakan kesan pesan selama kegiatan dan apa yang bisa di tandur (di tanam) karena kebetulan sekali tema pengajiannya tentang Nandur atau nanam. 6 orang peserta mewakili daerahnya, ada Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, Bengkulu, dan Pontianak.
(Redaksi MLM)








