Malam itu, langit Lamongan terlihat mendung menggantung seperti sedang memayungi proses sinau bareng, tidak seperti hari-hari sebelumnya yang hampir dari sore sampai malam hujan gerimis, forum Sinau Bareng kembali digelar di halaman belakang Warkop Sedjati dalam suasana hangat dan cair. Jamaah duduk melingkar, sebagaimana biasanya: tanpa jarak, tanpa podium tinggi, tanpa klaim paling benar. Tema yang dibicarakan adalah Pro-Eksistensi Ilahiah—sebuah upaya menyadari kembali kehadiran Tuhan dalam setiap gerak kehidupan. Diskusi diawali dengan refleksi tentang zaman yang sering disebut era post-truth. Bukan untuk disalahkan atau di lawan, melainkan untuk dipahami sebagai bagian dari dinamika sejarah manusia. Dalam perkembangan sejak era renaissancehingga modern dan post-modern, kehidupan semakin sistematis, materialistik. Teknologi berkembang pesat, mesin menggantikan banyak peran manusia, dan pandemi Covid-19 mempercepat sistem daring dan ketergantungan pada mekanisme digital.
Namun di tengah perubahan itu, pertanyaanya: di mana posisi kesadaran Ilahiah dalam hidup kita?
Kesadaran Ilahiah yang Tidak Hilang
Mas Zainuri menjadi salah satu yang pertama mengurai tema. Ia menegaskan bahwa Ilahiah tidak pernah hilang dari kehidupan manusia.
Yang sering pudar itu bukan Tuhan, tapi kesadaran kita,ujarnya pelan namun tegas.
Menurutnya, manusia hari ini bisa saja tanpa sadar meng-Ilahikansesuatu—entah sistem, uang, jabatan, bahkan opini publik. Ketika sesuatu dijadikan pusat ketergantungan dan sandaran mutlak, di situlah orientasi Ilahiah bergeser.
Beliau mengingatkan dawuh Mbah Nun:
Ikutilah arus itu, tapi jangan ikut terseret.
Bagi Mas Zainuri, kalimat itu bukan sekadar petuah moral, melainkan peta jalan. Mengikuti arus berarti adaptif terhadap perkembangan zaman. Tidak anti-teknologi, tidak menolak sistem. Tetapi tidak ikut terseret berarti tetap memiliki pusat kesadaran. Pro-eksistensi Ilahiah adalah kemampuan menghadirkan Tuhan dalam perubahan, bukan menjauh dari perubahan.
Belajar dari Sejarah dan Perjalanan
Mas Teguh melanjutkan pada kisah Ratu Sima yang menata keseimbangan ekonomi rakyatnya: tidak kaya berlebihan, tidak pula miskin tertekan. Kebijakan itu bukan sekadar urusan materi, tetapi bagian dari kesadaran bahwa kehidupan harus berada pada titik tengah.
Beliau juga menghadirkan analogi perjalanan. Dalam sebuah kendaraan, ada penumpang yang percaya penuh pada sopir, ada yang gelisah karena takut, dan ada yang percaya kepada Yang Menggerakkan semuanya.
Pro-eksistensi Ilahiah terletak pada kesadaran terakhir: bahwa di balik sebab-akibat, ada kehendak Tuhan yang bekerja.
Pasrah yang Aktif
Diskusi berkembang pada makna pasrah dan ikhtiar.
Mas Fahmi menyoroti kecenderungan zaman ini yang memaknai pasrah sebagai menyerah. Padahal dalam tradisi Jawa, nerimo ing pandumbukan sikap pasif, tetapi menerima dan tawakal setelah ikhtiar maksimal.
Jamaah lain bernama Mas Rokib mengutip hadits qudsi:
“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku”(HR. Bukhari &Muslim) menegaskan bahwa Allah memperlakukan hamba-Nya berdasarkan keyakinan hati mereka. Berprasangka baik (husnuzan) mendatangkan kebaikan, sementara berprasangka buruk mendatangkan keburukan. Ini mengajarkan pentingnya optimisme dan keyakinan akan rahmat Allah dalam setiap keadaan.
Menurutnya, kepasrahan adalah bentuk husnuzan kepada Tuhan. Dalam bekerja, dalam berusaha, bahkan ketika hasil belum terlihat jelas, sikap batin tetap bersandar kepada-Nya.
Mas Fajar menambahkan bahwa batas antara pesimis dan pasrah memang tipis. Yang membedakan adalah keberlanjutan ikhtiar. Jika seseorang berhenti berusaha, itu pesimis. Jika ia tetap berusaha dan menyerahkan hasilnya kepada Tuhan, itulah pasrah (tawakal).
Menjelang pukul 23.00, rintik hujan turun pelan. Jamaah bergeser mendekat ke bawah atap. Tidak ada yang beranjak pulang. Kegayengan tetap terjaga.
Ilahiah dalam Hal-Hal Sederhana
Perbincangan kemudian menyentuh praktik keseharian, termasuk dunia pertanian. Teguh dan Fahmi mengingatkan bahwa tradisi leluhur—mulai dari penentuan masa tanam hingga ritual simbolik—sebenarnya lahir dari pengalaman panjang berinteraksi dengan alam. Itu bukan sekadar simbol, melainkan bentuk kesadaran relasional antara manusia, alam, dan Tuhan.
Mengapa banyak orang sulit percaya satu sama lain hari ini? Karena pusat kesadaran sering bergeser pada ego dan emosi. Hari ini, banyak petani terjebak pada pendekatan instan: pupuk cepat hasil, obat kimia berdaya tinggi, dan orientasi tunggal pada keuntungan materi. Relasi dengan alam tergeser oleh kalkulasi ekonomi.
Pro-eksistensi ilahiah dalam konteks ini berarti mengembalikan kesadaran bahwa bertani bukan hanya soal hasil panen, tetapi soal kelarasan dengan ciptaan Tuhan. Tidak hanya menyadari Tuhan secara pribadi, tetapi menghadirkan nilai-Nya dalam relasi sosial.
Ilahiah tidak berhenti pada doa, tetapi hadir dalam cara manusia memperlakukan tanah, air, dan waktu.
Mas Agus mengingatkan agar semua tidak berhenti pada wacana.
Minimal sadar, apa yang kita lakukan bisa menyenangkan orang disekitar kita, menyenangkan disini adalah bermanfaat bagi orang disekitar kita.tuturnya.
Seperti contoh menyenangkan orang lain yaitu: Lulus kuliah untuk membahagiakan orang tua. Bekerja dengan tanggung jawab. Gotong royong dengan tuntas. Semua itu adalah bentuk praktik ilahiah.
Spirit yang Dibawa Pulang
Menjelang akhir, forum tidak menawarkan kesimpulan final. Tidak ada deklarasi. Tidak ada dikotomi benar-salah. Yang terbangun adalah kesadaran kolektif bahwa Tuhan tidak perlu dibenturkan dengan modernitas.
Pro-eksistensi ilahiah adalah menghadirkan Tuhan dalam modernitas itu sendiri—dalam kerja, belajar, bertani, berdiskusi, bahkan dalam cara memperlakukan sesama.
Forum ditutup dengan harapan sederhana: setiap jamaah pulang dengan spirit baru di wilayahnya masing-masing. Menghidupkan nilai ilahiah bukan dengan slogan besar, tetapi dengan kesadaran kecil yang konsisten.
Karena pada akhirnya, keberadaan kita menjadi bermakna ketika kehadiran kita membawa kebaikan—dan disanalah Ilahiah menemukan ruangnya.
Tepat pukul 01.00 acara dipungkasi dengan doa, semoga apa yang sedang sakit segera diangkat penyakitnya, dan semoga yang sedang berbahagia senantiasa bersyukur atas nikmat yang didapat. (Red. Semesta)









