Sore itu, hujan turun sangat deras, angin bertiup cukup kencang. Hari yang cukup berat untuk menjalankan aktivitas. Kondisi yang cukup mampu menguji, membuat manusia berpikir dua-tiga kali untuk melangkahkan kaki, menjalankan niat, menunaikan janji, dan meneguhkan hati untuk tetap panceg pada suatu pilihan.
Selepas tarawih, hujan reda. Malam menjadi sangat dingin. Satu, dua, tiga jemaah Nujuhlikuran mulai berdatangan. Dengan wajah berseri-bahagia, seakan sedang merayakan kemenangannya untuk tetap panceg pada keteguhannya sendiri.
Kami duduk melingkar, merapatkan barisan, memenuhi ruangan serba guna; Saung Imagine. Dengan khidmat, Nujuhlikuran pun dimulai dengan tawashshulan, shalawat—kepada Nabi Muhammad Saw, serta do’a untuk Mbah Nun dan seluruh anak-cucunya.
Selepas itu, kami mulai memasuki ruang diskusi. Disambut dengan sapaan hangat Aang (anak berumur 10 tahun, salah satu siswa reguler Sakola Motékar), dan sedikit cerita tentang pengalamannya berdialog bersama idolanya—Mas Sabrang—beberapa pekan yang lalu. Selain itu, ia juga menyampaikan satu hal, berkaitan dengan betapa pentingnya sebuah pertemuan.
Pertemuan Nujuhlikuran yang bertema “Panceg” ini, ternyata hadir menandai perjalanannya yang ke-8 tahun. Saat itu, beberapa pegiat Nujuhlikuran—Andi, Deri, dan Idang—menyambung pembicaraan dengan kisah singkat tentang perjalanan satu windu Nujuhlikuran.
Kemudian, kisah itu dilanjut dengan Deni—sesepuh dan pegiat Nujuhlikuran—yang mengawalinya dengan penegasan posisi dan definisi antara Nujuhlikuran dan Sakola Motékar. Hal itu penting disampaikan untuk menghindari kekeliruan dan kebingungan. Pertama, bukan Sakola Motékar yang membuat Nujuhlikuran, tapi Nujuhlikuranlah yang menjadi sebab adanya Sakola Motékar. Ia tidak dibangun di atas teori-teori pendidikan yang megah. Tapi ia dibangun di atas fondasi nilai-nilai Miayah yang selalu disampaikan Mbah Nun, dan para marja’ Maiyah lainnya. Kedua, Nujuhlikuran bukan forum doktrinisasi atau semacamnya. Sebab Nujuhlikuran—sebagaimana Maiyah—tidak sedang mencari masa, menjadi Organisasi Kemasyarakatan, apalagi menjadi partai politik—menyaingi PSI. Sebab Nujuhlikuran adalah ruang bagi siapa saja untuk bersilaturahmi, bertukar pikiran, dan bertukar rasa. Seperti yang dikatakan Mbah Nun, bahwa “tak ada satu pun Maiyahan, yang diselenggarakan tanpa niat ngaji bareng.”
Berikutnya, Deni mulai masuk memberikan alas tikar diskusi. Ia menyampaikan bahwa panceg diambil dari bahasa Sunda yang berarti teguh, tegak, dan tidak mudah goyah. Dalam kata lain, panceg juga bisa diartikan sebagai konsisten. Dalam khasanah Islam, sikap yang panceg ini setara dengan istiqamah yang memiliki akar kata yang sama dengan term mustaqim. Sehingga, dalam mentadabburi surat al-Fatihah, sirath al-mustaqim tidak diartikan sebagai jalan yang lurus, tetapi jalan yang membuat manusia senantiasa terjaga dalam keistiqamahan.
Selanjutnya, giliran Boi—pegiat Nujuhlikuran—yang senantiasa menerjemahkan gagasan dari tema diskusi, menjadi sebuah gambar yang ilustratif dan simbolik. Sebagai pembuat pamflet, ia menceritakan proses kreatifnya. Selain itu, ia juga memaknai panceg sebagai suatu sikap yang kukuh dalam menjalani suatu hal, meskipun hal tersebut berisiko tinggi. Pemaknaan itu ia dapatkan dari kegemarannya berativitas di alam bebas.
Sedangkan Iki—pegiat Nujuhlikuran—mulai mendefinisikan panceg dari suatu kisah terkait “Perjalanan Keluarga dan Keledai” yang cukup populer di dalam khazanah keislaman. Kisah tersebut cukup mengilustrasikan sikap inkonsistensi yang merupakan oposisi dari sikap konsistensi ataupun panceg. Menurutnya, ada beberapa hal yang bisa diambil dari kisah tersebut. Pertama, untuk menumbuhkan sikap panceg, diperlukan juga sikap ‘bodo amat’ terhadap komentar dan nyinyir para netizen yang pasti akan hadir untuk menguji perjalanan manusia. Tetapi sikap ‘bodo amat’ ini tidak berlaku untuk nasihat dari orangtua dan guru. Sikap tersebut hanya hadir sebagai salah satu filter untuk setiap input yang akan diproses di dalam monolog diri. Kedua, pikiran merupakan sesuatu yang cukup paradoksal. Ia bisa membuat manusia menjadi konsisten sekaligus inkonsisten. Sebab terlalu memikirkan ‘apa kata orang,’ bisa menjadikan inkonsisten. Tapi menihilkan pikiran; berjalan tanpa landasan prinsip yang kuat, juga mustahil seseorang mampu menjadi pribadi yang konsisten.
Selain itu, Iki juga menyinggung sedikit bagaimana Al-Quran membincang konsep istiqamah, yang terdapat dalam surat Fusilat ayat 30:
إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ تَتَنَزَّلُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَبۡشِرُواْ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ
Dari ayat tersebut, bisa diketahui bahwa istiqamah merupakan hal yang luar biasa. Sebab jelas, Allah Swt akan menurunkan malaikat kepada mereka orang-orang yang istiqamah. Hal tersebut selaras dengan perkataan ulama, bahwa “istiqamah lebih baik daripada seribu karamah.”
Kemudian, Deni menyambung perbincangan menyoal ambiguitas pikiran dengan kata-kata indah yang terletak dalam do’a; “yā muqallib al-qulūb, tsabbit qalbī `ala ad-dīnika wa lā thā`atika” (Ya Allah, dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu). Menurutnya, ambiguitas tersebut senantiasa dialami manusia. Satu-satunya yang mampu membantu meneguhkan kembali hati manusia adalah sang pembolak-balik hati itu sendiri.
Selain itu, Deni juga menyampaikan salah satu metodologi untuk mempermudah dalam bersikap panceg. Singkatnya, manusia harus bisa membedakan tujuan dan cara. Tujuan, adalah sesuatu yang harus ‘dipancegkan,’ sedangkan cara bisa sangat fleksibel. Ia kemudian menyoroti Mas Sabrang, yang kini tengah bereksperimen-mengeksplorasi cara untuk menggapai tujuannya yang tak pernah berubah.
Radit—aktivits—lebih menyoroti persoalan panceg dalam konteks nasional. Ia mengemukakan metodologi 3P; polo (pikiran), pola, dan palu (keputusan/kekuasaan). Lanskap fenomena yang terjadi dalam realitas masyarakat Indonesia saat ini adalah tidak adanya keselarasan antara para pemikir, pembuat strategi, dan pemegang kekuasaan. Hal tersebutlah yang menyebabkan munculnya ketidakjelasan orientasi dan langkah yang diambil.
Kemudian Asep—aktivis—mempertegas kembali definisi istiqamah. Menurutnya, istiqamah tidak seperti yang diandaikan banyak orang. Sebab istiqamah bukan berarti satu, tetapi tetap fleksibel terhadap berbagai cara dan fokus pada tujuan.
Hal tersebut kemudian direspon oleh Alula—siswa kelas 9 Sakola Motékar—yang tengah sibuk dengan pulpen dan buku catatannya. Ia menyampaikan impiannya yang ingin menjadi seorang penulis. Menurutnya, dalam menggapai mimpi juga diperlukan banyak cara yang variatif. Selain itu, ia juga menyampaikan, bahwa ia sedang berusaha untuk konsisten menjalani latihan menulis one day one page (satu hari satu halaman).
Beralih ke Restu—fasilitator Sakola Motékar. Ia mengawali pembicaraan dengan menceritakan hal yang tengah ia gumuli. Saat ini, ia tengah konsisten mempelajari konsep dan praktik pendidikan yang ideal. Alasannya adalah; pertama, ia terlanjur menjadi salah satu mahasiswa fakultas pendidikan. Kedua, ia juga miris melihat ketidakjelasan praktik pendidikan di Indonesia. Dengan alasan itulah ia mulai konsisten mempelajari konsep pendidikan ideal dan perlahan mempraktikkannya di Sakola Motékar. Terakhir, ia menutup pembicaraan dengan mengutip perkataan salah satu Penyair asal Ciamis yang berbunyi, “sing satia kanu deukeut, ké nu deukeut bakal mawa kanu jauh” (setalah kepada hal-hal yang dekat, hingga suatu saat nanti, yang dekat itulah yang akan membawa kita jauh).
Saat ini—respon Deni—pendidikan tidak sedang mempedulikan fadhilah yang dimiliki setiap manusia. Sehingga, yang terjadi dalam kurikulumnya adalah konsep penyeragaman.
Selain itu Deni juga menyampaikan suatu cerita, dimana ada dua orang yang hendak memasuki hutan belantara. Orang pertama masuk dengan tujuan, dan orang kedua masuk tanpa tujuan. Dari kedua orang yang berbeda itu mana yang lebih bagus? Jawabannya adalah tentu orang yang masuk dengan tujuan, tapi tidak kaku dalam melihat peluang yang ada.
Kemudian Isa—aktivis—kembali menyoroti persoalan panceg dalam konteks sosial. Menurutnya, hal fundamental yang diperlukan untuk membangun konsistensi dalam konteks sosial adalah kolaborasi lintas komunitas, organisasi, dan sektor-sektor lainnya.
Edgar—aktivis—kemudian merespon dengan bangga dan percaya diri menyatakan bahwa ia adalah orang yang konsisten. Sebab ia adalah fans fanatik Manchester United (MU) sejak lama. Meskipun mengalami degradasi, dan beberapa tahun tanpa gelar, ia sudah terlatih untuk teguh dan setia terhadap MU. Begitulah kiranya gambaran orang yang konsisten. Kalah-menang tetap MU. Terlatih sebagai fans MU, ia juga kemudian menyampaikan bahwa ia sedang konsisten menggiati desa, meskipun banyak curiga dan tuduhan yang selalu ia terima.
Selain itu, Edgar juga menyoroti perihal program Makan Bergizi Gratis yang sedang panas dikritisi mahasiswa. Ia berharap, semoga saja gerakan di bulan Ramadhan ini tidak berujung pada Tunjanga Hari Raya.
Kembali ke persoalan pendidikan, Deni kembali mengulas soal fadhilah dan penyeragaman. Ia mengatakan bahwa salah satu metodologi untuk menemukan fadhilah diri adalah dengan mengetahui nasab manusia secara genial. Kemudian, ia menyinggung soal Sekolah Gajah, dan meminta Aang untuk menceritakannya.
Setelah menceritakan bagaimana Sekolah Gajah, Aang menyimpulkan bahwa gajah di pertunjukkan sirkus mungkin terlihat pintar. Tapi sebenarnya mereka telah gagal menjadi gajah. Sebab mereka telah jauh dari fadhilah gajah itu sendiri. Gajah seharusnya tinggal di hutan, dan mencari makan sendiri. Begitulah juga kiranya yang terjadi dalam persoalan pendidikan di Indonesia. Dengan kurikulum yang menyeragamkan, maka keragaman fadhilah yang dimiliki manusia akan terabaikan.
Disambung oleh Pepi—aktivis—yang menyampaikan bahwa prinsip adalah hal yang sangat penting. Ketika prinsip itu tidak ada, maka manusia akan mudah untuk inkonsisten. Dan begitulah realita yang terjadi dalam kebanyakan ruang komunal. Kemudian, ia juga menyampaikan bahwa panceg itu mirip dengan disiplin yang sering dipandang seolah-olah memenjarakan, padahal sejatinya membebaskan masa depan.
Hal tersebut kemudian direspon oleh Ramdan—mahasiswa—yang mengatakan bahwa sikap panceg juga dipengaruhi oleh faktor eksternal, yaitu lingkungan. Sebab berdasarkan pengalamannya, ketika tinggal di Yogyakarta banyak kebiasaannya yang berubah. Salah satunya adalah, ia akan merasa malu ketika nongkrong tanpa mengerjakan suatu hal.
Kini giliran Deri—dosen dan pegiat Nujuhlikuran—yang mengungkap analisisnya berkaitan permasalahan yang ada di Ciamis. Menurutnya, ada beberapa poin yang perlu dicatat sebagai permasalahan, di antaranya adalah perihal data, kondusivitas, dan kolaborasi. Kemudian ia mengatakan bahwa hal-hal tersebut hanya bisa diselesaikan dengan konsolidasi. Lalu, ia membayangkan hadirnya aktor seperti Tyrion yang terdapat dalam film Game of Thrones, yang berperan sebagai hand of the king yang mampu menjadi juru bisik yang berpengaruh.
Hal tersebut langsung direspon oleh Deni. Katanya, “jangankan bisikan, teriakan saja sulit untuk memberi pengaruh.” Dalam konteks pemerintahan, ada banyak kepentingan. Gagasan, konsep, dan niat yang baik tidak cukup untuk memberi pengaruh, sebab hal tersebut juga akan dipertaruhkan di dalam beragamnya kepentingan.
Dilanjut oleh Ebel—pegiat Nujuhlikuran—yang mengungkapkan pendapatnya mengenai makna panceg. Menurutnya, ilustrasi panceg bisa terlihat dalam produk teknologi. Ia mengambil contoh dalam hardware yang ada dalam smartphone. Dalam setiap perkembangan fitur dan kecanggihan smartphone, ada satu yang tak pernah berubah, yaitu pita basis (baseband) yang mengatur fungsi jaringan seluler, seperti sinyal, IMEI, dan konektivitas data.
Melewati tengah malam, Dede—pelaku seni—memberikan tanggapan yang singkat melalui sebuah pribahasa yang berbunyi, “pondok nyogok panjang nyugak.” Pribahasa tersebut ditarik ke dalam konteks berkumpul. “Dengan konsisten berkumpul, semua hal; entah itu hal baik ataupun buruk, bisa direspon dengan cepat,” pungkasnya.
Selaras dengan itu, Deni juga menyampaikan statement terakhirnya, bahwa kesadaran harus senantiasa dijaga. Bagaimana cara menjaganya? Salah satu caranya adalah dengan tetap konsisten berkumpul dan berdiskusi.
Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi. Pertukaran pikiran, rasa, dan pertemuan telah mengubah malam yang dingin menjadi hangat kebersamaan.
Sebagai pamungkas, Iki mengutarakan harapannya. Semoga, Nujuhlikuran bisa terus istiqamah dan panceg pada nilai-nilai yang disampaikan Mbah Nun, dan marja’ Maiyah lainnya. Seperti angka delapan itu sendiri, yang senantiasa konsisten berjalan dalam perjalanan tak bertepi. (Red. Nujuhlikuran)









