Malam itu, adalah malam yang spesial. Tidak hanya karena bertepatan dengan momen idul adha, tetapi juga bertepatan dengan milad yang ke-73 dari guru kami tercinta, Emha Ainun Nadjib.
Maka, tawashshulan pada malam itu tidak seperti biasanya. Di dalam kekhusyuan, terdapat perasaan yang bercampur. Haru, sedih, senang, dan rindu menjadi satu. Usai tawashshulan, kami memanjatkan doa bersama, terkhusus untuk Mbah Nun.
Setelah selesai, kami mulai melanjutkan dengan berdiskusi. Perbincangan mengalir dari makna qurban menuju perbincangan yang lebih luas tentang ketulusan, kebermanfaatan, dan tanggung jawab sosial manusia. Qurban tidak hanya dipahami sebagai ritual tahunan, tetapi juga sebagai pelajaran hidup yang terus relevan sepanjang zaman.
Boy (pegiat) mengawali diskusi dengan refleksi bahwa qurban mengajarkan manusia untuk rela dan taat. Sebagaimana Nabi Ibrahim rela mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya, dan sebagaimana Nabi Ismail menunjukkan kepatuhan kepada orang tuanya, qurban menjadi pelajaran tentang bagaimana manusia menempatkan kehendak Allah di atas kepentingan dirinya sendiri.
Perbincangan kemudian mengarah pada sosok Mbah Nun dan kebermanfaatan ilmu yang beliau wariskan. Aang (siswa reguler) menyampaikan bahwa Mbah Nun merupakan salah satu figur yang berhasil mengamalkan hadits tentang tiga amalan yang tidak terputus setelah kematian: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan orang tuanya. Melalui gagasan, ilmu, dan ruang belajar yang beliau bangun, kebermanfaatan itu terus mengalir kepada banyak orang hingga hari ini.
Hal tersebut kemudian diperkuat oleh Deni (pegiat) yang mengajak peserta melihat posisi ulama di zaman sekarang. Jika pada masa Nabi segala persoalan dapat ditanyakan secara langsung kepada beliau, maka hari ini umat membutuhkan sosok yang mampu menjembatani sabda Nabi dengan realitas kehidupan modern. Dalam pandangannya, Mbah Nun merupakan salah satu figur yang mampu menjalankan peran tersebut. Karena itulah, istiqamah bertawashshul, Nujuhlikuran, dan Bermaiyah menjadi ikhtiar untuk tetap tersambung dengan mata rantai ilmu yang berujung kepada Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Orang jawa bilang, gondelan klambine sing gondelan kanjeng nabi.
Suasana forum kemudian diselingi pembacaan puisi “Rumah Sejati” karya Emha Ainun Nadjib yang dibawakan oleh Alula, ditemani iringan musik Kahlil dan Aang (siswa-siswi reguler). Melalui puisi tersebut, Alula menangkap pesan bahwa manusia sesungguhnya tidak dituntut untuk selalu berhasil dalam urusan duniawi. Dunia hanyalah tempat singgah, sedangkan akhirat adalah rumah yang sejati dan tujuan pulang yang abadi.
Tema kebermanfaatan lalu menemukan bentuk yang lebih konkret ketika Bilal (konten kreator di bidang sosial) berbagi pengalaman tentang aktivitas sosial yang selama ini ia jalani. Ia mengaku baru memahami bahwa apa yang ia lakukan selama ini merupakan bagian dari filantropi. Meski kehidupannya sendiri tidak selalu mudah, ia tetap membantu merehabilitasi rumah-rumah orang yang membutuhkan. Baginya, mencintai manusia dengan tulus adalah bentuk kepercayaan bahwa Allah akan mengurus kehidupannya dengan cara-Nya sendiri.

Dari sini, pembahasan berkembang menuju makna syukur dan kebahagiaan. Deni mengingat kembali dawuh Mbah Nun bahwa apa pun hulunya, hilirnya harus syukur dan bahagia. Menurutnya, salah satu keistimewaan Mbah Nun adalah kemampuannya menyampaikan nilai-nilai agama dengan cara yang menenangkan dan memudahkan manusia. Dakwah tidak hadir sebagai beban, melainkan sebagai kabar gembira yang membuat orang semakin dekat dengan Allah dan sesama manusia.
Iki kemudian menambahkan bahwa dalam setiap peristiwa kehidupan selalu terdapat pesan dan hikmah yang patut disyukuri. Bahkan dalam keadaan yang tampak sulit sekalipun, manusia tetap dituntut untuk menemukan alasan-alasan untuk bersyukur, sebab syukur merupakan cara pandang yang memungkinkan seseorang tetap melihat cahaya di tengah berbagai ujian. Sebagaimana firman Allah Swt, “wabasysyirhum bi`adzabin aliim.”
Asep (pegiat) mengaitkan hal tersebut dengan tanggung jawab sosial. Menurutnya, ketika seseorang telah selesai dengan dirinya sendiri, ia memiliki kewajiban moral untuk menghadirkan kontribusi nyata bagi lingkungan sekitarnya. Kontribusi itu tidak harus besar, yang penting mampu memberi manfaat bagi orang lain.
Menariknya, nilai-nilai tersebut juga dirasakan oleh Jon (siswa) yang beragama Katolik. Sebagai kelompok minoritas di lingkungan tersebut, ia mengaku tetap merasa aman, diterima, dan memiliki kebebasan untuk beribadah maupun melakukan aktivitas sosial. Pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa nilai kemanusiaan dapat menjadi titik temu yang melampaui sekat-sekat identitas.
Deni kemudian menegaskan bahwa filantropi tidak selalu membutuhkan modal yang besar. Besar dan kecil merupakan ukuran yang relatif. Yang paling penting adalah tumbuhnya kesadaran untuk memberi. Karena itu, salah satu investasi terbesar yang dilakukan Mbah Nun selama ini bukan sekadar investasi materi, melainkan investasi kesadaran.
Di sisi lain, Ake (aktivis-mahasiswa) mengingatkan bahwa praktik filantropi di masyarakat juga perlu dikritisi. Tidak sedikit pihak yang menjadikan aktivitas sosial sebagai topeng untuk memperoleh keuntungan pribadi atau melakukan tindakan yang tidak adil. Karena itu, ketulusan tetap harus menjadi fondasi utama dari setiap gerakan sosial.
Andi (pegiat) menambahkan bahwa manusia perlu memiliki kemampuan untuk mengubah setiap peluang menjadi kebaikan. Dalam kondisi apa pun, selalu ada ruang bagi seseorang untuk menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Menjelang akhir forum, Deni menutup diskusi dengan sebuah perumpamaan yang sederhana namun kuat. Di tengah berbagai persoalan bangsa yang terasa begitu besar, manusia mungkin tidak mampu menyelesaikan semuanya sekaligus. Namun, seperti semut yang membawa setetes air dalam peristiwa pembakaran Nabi Ibrahim, setiap orang tetap memiliki tanggung jawab untuk melakukan apa yang mampu ia lakukan. Ukuran keberhasilan tidak selalu terletak pada besarnya hasil yang dicapai, melainkan pada kesungguhan untuk terus mencicil kebaikan, sekecil apa pun bentuknya.[]








