Sebelum Sinau Bareng, seperti biasanya sejak Tawashshulan dibuat dan kami pelajari semampu kami, kemudian menjadi awal mula Maiyahan sebelum Sinau Bareng kami laksanakan. Di Basecamp Tong-il Qoryah, Daegu. Sabtu malam, 25 April 2026. Dimulai sekitar 23:45 Waktu Korea. Sinau Bareng menyusul di sekitar pukul 01:30 KST (Korean Standart Time).
Dulur-dulur yang hadir berasal dari Daegu yang memang dekat dari area Basecamp TQ (yang berada di area Seongseo Industrial Complex) dan ada juga yang berasal dari Changwon, Gumi serta penghuni Basecamp TQ itu sendiri. Maiyahan menjadi “jeda” bagi kami di tengah kesibukan menjadi Pekerjanya Allah, karena Bos utama bagi Jama’ah Maiyah sejatinya adalah Allah, sementara Bos di Perusahaan adalah Perantara. Sebagaimana yang sudah pernah dikupas oleh Mbah Nun dan JM ketika Sinau Bareng Mburuh kepada Allah, di Gresik – Jawa Timur dan di Kenduri Cinta dengan Tema: Manufakturing Kawula Gusti.
Sebuah renungan yang di-trigger dari dua fenomena, bunuh diri secara fisik dan kelahiran secara fisik pula. Setiap manusia mempunyai potensi untuk bunuh diri secara fisik, mungkin karena kejenuhan dalam hidup di dunia yang fana. Atau mungkin karena lelah, seakan-akan energi dalam diri sudah habis, sehingga satu-satunya jalan adalah menghabisi dirinya. Apakah demikian perintah Tuhan? Jalan yang tepatkah yang ia lakukan menurut Tuhan? Bukan wilayah kita untuk menilai, tapi hadirnya Agama adalah Meyakini nilai yang kita prasangkai menurut Tuhan itu tepat atau tidak. Karena adanya Agama ketika kita tidak bisa menjangkau melalui ilmu. Salah satu contohnya adalah kita tidak tahu nama Allah, kalau Allah sendiri tidak memperkenalkan diriNya untuk menjadikan nama itu sebagai sebutan atau panggilan Kemesraan.

Berawal dari keresahan bersama melihat fenomena sosial yang terjadi di Indonesia melihat anak muda yang diberitakan “Bunuh Diri” di Jembatan Cangar – Mojokerto, Adik kita di NTT, dan lain sebagainya yang sebabnya berbeda-beda. Memantik kami untuk mengambil tema ini.
Bunuh diri di sini memiliki dua pemaknaan yaitu fisik dan batin. Bunuh diri fisik memiliki banyak faktor yang mempengaruhinya entah internal atau eksternal. Internal: banyak problem dalam hidupnya, bisikan nafsu, kesepian ataupun tak memiliki tujuan hidup. Eksternal: Sesuatu yang mempengaruhi dari luar diri apapun bentuknya.
Untuk mencegah itu terjadi manusia harus memiliki bentengnya sendiri entah doa, wirid, shodaqoh, sholawat atau lain sebagainya. Mbah Nun sering kali memberi fondasi kepada Anak-Cucunya, seperti: “Tetep “Nyambung” terus yo Rèèk”. Bahwa hidup harus terus menerus Nyambung dengan Allah dan Kanjeng Nabi, sehingga ketika dunia tidak menyetujui bahkan menghakimi. Kita punya fondasi dalam hidup, sehingga tidak goyah dengan berbagai macam keadaan, tidak mudah terpukau oleh gemerlap dunia, menjadi manusia segala cuaca (Man of All Seasons or Man for All Seasons).

Memang kadang-kadang tidak mudah, licin, banyak masalah dan macam-macam gegap gempitanya. Maka, mengerti tujuan dan tetap waspada terhadap jalan yang kita lalui adalah salah satu opsi untuk menghadapinya.
Hadist Riwayat Al-Hakim menjadi salah satu jawaban dari pertanyaan ketika Sinau Bareng, yang menekankan pentingnya perbaikan diri terus-menerus. Orang yang merugi adalah mereka yang hari ini sama dengan kemarin, sementara yang celaka lebih buruk dari kemarin. Motivasi ini mendorong peningkatan kualitas iman, amal, ilmu, dan produktivitas setiap hari.
Tadabbur dari surat Al-Baqarah di sebagian ayat 54, terdapat perintah: “Maka bertobatlah kepada Tuhan yang menciptakan kamu dan bunuhlah diri kalian masing-masing”. Adalah tanda bahwa apakah kami sudah membunuh diri kami masing-masing yang kemarin dan lahir kembali hari ini? Jawabannya ada di diri kami masing-masing.
Kalau membahas satu kata “Diri”, akan ada banyak perspektif tentang itu, apalagi ada kata tambahan ‘bunuh’. Apakah manusia mampu membunuh dirinya? Kalau dia menggantungkan badannya dengan mengikat lehernya, apakah dirinya ikut terikat dan tergantung, atau hanya badannya? Kalau ada orang menjatuhkan tubuhnya dari jembatan, apakah dirinya ikut terjatuh dan tidak ada lagi tanggung jawab setelah ia meninggal? Jika itu disebut bunuh diri, diri yang mana yang ia bunuh? Apakah kalau kita selesai dalam menjalani hidup di dunia, selesai pulakah kita dan tidak menjalani kehidupan lagi setelahnya?
Sinau Bareng kami tutup menjelang Subuh. Masih banyak lagi tanya-jawab dan hasil diskusi yang tidak semuanya mampu kami tulis di Reportase kali ini, semoga bermanfaat.[] (Redaksi Tong-il Qoryah)









