Angka 8 (wolu) dalam falsafah Jawa dimaknai sebagai keberuntungan dan kebaikan yang tak terputus. Makna itu berkesinambungan dengan logo Tembang Pepadhang: tulisan latin yang menyambung menjadi satu kesatuan, mengibaratkan persaudaraan yang utuh di dalam forum. Maka perayaan 8 tahun Tembang Pepadhang ini bukan sekadar penanda waktu, melainkan pengingat bahwa kita diikat dalam laku yang sama.
Laku ketika pulang membawa terang, laku cinta kepada sesama, dan laku kehidupan.
Tembang Pepadhang hadir untuk ngademke ati madhangke pikiran, bukan sekadar hiburan belaka. Seperti cahaya yang membawa dan menusuk dalam kehidupan. Namun, apakah selama ini kita benar-benar pulang dengan terang atau hanya menjadi penikmat suasana yang hangat?
Bulan ini Cak Nun menapaki usia 73 tahun. 73 tahun yang mengajar tanpa menggurui, menjadi jembatan tanpa minta diinjak. Simbah telah menuntun kita bukan dengan kekuasaan, tetapi dengan kesabaran, kejujuran, dan keberanian berpikir merdeka. Disini kita pun rindu kepada sang penuntun ke jalan kebenaran, rindu pada laku lampah beliau, dan rindu berjumpa dengan beliau. Mbah Nun tidak pernah loko-loko memberi solusi atas masalah. Bagi yang lulus ujian, ia akan legowo mengambil hikmah dari setiap momen yang terjadi.
Di tengah dunia yang semakin bising, kita sering kehilangan arah dan lebih memilih nyaman daripada benar. Jamaah Maiyah saat ini sedang diuji nilai maiyahnya, sedang dilatih “berdiskusi” dengan diri sendiri tanpa kehadiran fisik beliau. Hanya berlandaskan petuah yang menjadi ajaran kita. Walaupun begitu, Cak Nun pernah mengingatkan dalam tulisan Caknun.com bahwa “Maiyah adalah di mana saja kita berada, di rumah, di tempat bekerja, di rumah ibadah maupun di pasar, di jalan dan di manapun saja, selalu kita bersama Allah dan Rasulullah. Kapan saja kita sadar maupun tidur, di pagi hari, siang sore atau malam hari selalu kita bersama Allah dan Rasulullah.”
Maka perayaan milad ini tidak hanya sekadar untuk bersenang-senang, melainkan sebagai momen untuk mengevaluasi seberapa kuat kita menjalankan prinsip maiyah, seberapa luas kita bisa menyebar manfaat, dan seberapa baik cara hidup yang sebenarnya kita lakukan.
Oleh karena itu, sinau bareng kali ini mengajak kita untuk terus maju, bukan hanya mengingat masa lalu. Mari nyalakan cahaya, bukan di depan banyak orang, tapi di dalam hati kita. Ini bukan untuk dilihat orang lain, tetapi agar kita bisa pulang dengan benar. Karena maiyah yang sebenarnya tidak dilihat dari seberapa meriahnya acara, tetapi dari seberapa terang jalan hidup kita setelah acara selesai. (Bunga Kiscayaning)








