Pilihan tema Pasebanan edisi 109 di bulan Mei 2026 ini merujuk tulisan almarhum Mbah Fuad di bagian akhir Pengantar Tadabbur Maiyah Padhangmbulan, hal. 7:
Mengapa Tadabbur.
Kajian Al-Qur’an di Maiyah Padhangmbulan diarahkan kepada tadabbur karena dinilai sesuai dengan kebutuhan jamaah. Jamaah Maiyah Padhangmbulan sangat heterogen dan sebagian besar awam ilmu-ilmu keagamaan. Oleh karena itu, yang diperlukan jamaah bukanlah kajian ilmiah, tapi kajian imaniah amaliah. Yang diperlukan bukan pemahaman Al-Qur’an secara meluas atau mendalam, tapi cukup memahami makna ayat secara umum kemudian melakukan perenungan, penghayatan, lalu mengamalkannya dalam kehidupan nyata. Oleh karena itu, pilihan ayat-ayatnya pun disesuaikan dengan kebutuhan untuk pembangunan jiwa dan kehidupan.
Dalam rentang waktu tak kurang dari 33 tahun kajian imaniah amaliah di Sumur Maiyah Padhangmbulan inilah Allah menghendaki Masyarakat Maiyah Paseban Majapahit ikut lahir, tumbuh, dan berkembang.
Kini, di kurun waktu sembilan tahun perjalanannya, tentu saja Paseban Majapahit tidak mungkin terpisah, berpisah, dan dipisahkan dari nilai-nilai Maiyah yang sudah diajarkan, serta hal-hal baik yang telah diteladankan oleh Alm. Mbah Fuad, oleh Mbah Nun, dan oleh Marja’ Maiyah lainnya.
Tumbuhnya cinta, ukhuwah, kebersamaan, dan paseduluran, di Paseban Majapahit hingga saat ini adalah bukti nyata. Bahwa kesetiaan cinta, keteguhan tekad, dan kesinambungan langkah, untuk menjaga dan melanjutkan tradisi Ilmu Maiyah bukan hanya sekedar konsep, wacana, atau janji manis belaka. Paseban Majapahit menjadi bagian yang tak terpisahkan dari anugerah Allah berupa anak cucu Maiyah yang insya Allah tetap istiqomah sinau nguri-uri kesadaran sikap “Kacantrikan Imaniah Amaliah”.
Paseban Majapahit adalah satu dari sekian banyak lingkar dan simpul Maiyah yang diperjalankan Allah untuk terus sinau merawat serta meneguhkan kebersamaan dalam kecintaan kepada Allah, dan Rasulullah, serta hamba-Nya. Inilah sisi kacantrikan imaniah yang menjadi inti sari perjalanan.
Sinau untuk tetap bareng-bareng mengamalkan kebaikan serta mengupayakan kebermanfaatan yang nyata bagi sesama. Terlebih bagi warga Masyarakat Maiyah Paseban Majapahit sendiri, yang masih dikehendaki Allah untuk tetap setia dan terus berproses dalam merawat cinta yang telah tertabur dan menjaga ukhuwah yang tetap terjalin hingga saat ini. Itulah sisi kacantrikan amaliah yang terus diteladani.
Paseban Majapahit terus sinau ngramut paseduluran dengan semangat kekeluargaan, dan terus belajar mensyukuri ruang kebersamaan yang penuh kegembiraan dan kebahagiaan. Amiin, insya Allah.








