Malam itu, udara terasa dingin. Bukan hanya karena angin yang berhembus pelan, tapi juga karena ada jarak yang baru saja dipatahkan. Rindu yang lama tersimpan, akhirnya menemukan jalannya untuk pulang. Satu per satu orang berdatangan, saling berjabat tangan, mengucapkan “wilujeng boboran.”
Pertemuan itu terasa sederhana, tapi justru di situlah letak kemewahannya.
Dengan khidmat, kegiatan diawali dengan tawashshulan. Lantunan doa mengisi ruang, seolah menjadi jembatan yang menghubungkan pertemuan malam itu dengan mata air nilai-nilai yang lebih dalam. Suasana yang semula dingin, perlahan menjadi hangat.
Memasuki ruang dialog, Aang—siswa reguler Sakola Motékar berusia 10 tahun—membuka percakapan dengan pernyataan yang sederhana, tapi mengandung gema yang panjang: bahwa lebaran bukanlah akhir, melainkan awal. Ia menyinggung bagaimana para ulama di Indonesia dengan kecerdasannya merumuskan ijtihad melalui tradisi mudik, sebagai cara untuk menghayati makna Idul Fitri.
Ramadhan, katanya, berarti membakar. Maka pertanyaannya menjadi sangat personal: apa yang telah kita bakar selama sebulan itu?
Deni kemudian menyambung pembicaraan dengan mengurai satu istilah yang kerap disalahpahami: bid’ah. Ia menyoroti bagaimana sebagian orang terlalu mudah menghakimi, tanpa memahami batasannya. Padahal, dalam perkara duniawi, Rasulullah Saw telah memberi ruang melalui sabdanya: antum a`lamu bi `umuri dunyakum.
Dalam konteks Idul Fitri, ia mengajak untuk menghayati kalimat inna lillahi wa inna ilaihi rajiun melalui peristiwa mudik. Bahwa sejauh apa pun manusia pergi, pada akhirnya ia akan kembali. Namun ia juga mengingatkan, jangan sampai manusia justru terjebak pada simulasi, dan melupakan esensi. Dalam pribahasa Sunda, hal itu disebut jati kasilih ku junti—yang hakiki tertutup oleh yang remeh.
Percakapan kemudian bergerak ke ranah bahasa dan makna. Idwar—dosen Bahasa Sunda—mengurai diksi “bobor” dan “babar.” Bobor dimaknai sebagai putus, seperti dalam istilah boboran siam yang menandai tuntasnya puasa. Sedangkan babar, yang semula berarti tikar, kini dimaknai sebagai melahirkan—sebuah pergeseran makna yang justru memperkaya pemahaman.
Dari sana, ia mengaitkan Idul Fitri dengan kisah pewayangan Tirta Pawitra, tentang Bima yang mencari kesejatian diri dengan menghadapi Dewa Ruci—cerminan dari dirinya sendiri. Sebuah perjalanan yang tidak keluar, tapi justru masuk ke dalam.
Dalam kosmologi Sunda, ia melanjutkan, Idul Fitri adalah momen kembalinya manusia ke Buana Nyungcung, setelah sebelumnya ditempa di Buana Larang. Sebuah perjalanan pulang yang tidak hanya bersifat geografis, tapi juga eksistensial.
Kahlil—siswa berusia 12 tahun—kemudian mengambil alih percakapan dengan caranya sendiri. Ia bercerita tentang perjalanannya bertemu seorang dosen di ITB, dan dari sana ia mulai mengurai satu pertanyaan mendasar: apa itu seni?
Ia membaginya menjadi tiga: seni murni, kriya, dan desain. Sebuah penjelasan yang sederhana, tapi menunjukkan bagaimana proses belajar sedang berlangsung, bukan sebagai hafalan, tapi sebagai pengalaman.
Selanjutnya, Deni kembali menegaskan bahwa pendidikan seharusnya berangkat dari pemahaman sebab-akibat. Dan itulah yang sedang diupayakan dalam proses belajar anak-anak di Sakola Motékar.
Adapun Fajar, menambahkan satu hal yang terasa sederhana, namun sering luput: bahwa puasa dan Idul Fitri sejatinya mengajarkan manusia untuk pandai merawat.

Diskusi dijeda dengan satu sajian lagu yang dibawakan oleh Iki dan Kahlil. Mereka membawakan lagu “Tanpa Aku” karya Panji Sakti.
Mengutip salah satu baitnya, terselip kalimat yang terasa begitu dekat dengan tema malam itu: tentang mencintai jalan pulang. Iki kemudian mengajak untuk merenung, mengapa pulang menjadi sesuatu yang sulit? Mungkin karena manusia sudah lupa bagaimana mencintai rumahnya sendiri.
Cheppy kemudian melanjutkan dengan lagu ciptaannya, “Ha-Nya,” menambah warna dalam perbincangan yang tidak hanya rasional, tapi juga emosional.
Sedangkan Rina, hadir dengan membacakan puisi Gus Mus berjudul “Pilihan,” mengingatkan bahwa hidup pada dasarnya adalah rangkaian pilihan.
Adapun Ripqi melihat forum ini sebagai taman yang indah, tempat perbedaan tumbuh tanpa perlu saling meniadakan. Seperti yang pernah dikatakan Bung Karno, perbedaan adalah taman bunga.
Asep kemudian mengingatkan tentang pentingnya catatan. Bahwa hidup manusia tidak pernah lepas dari rekam jejak, dan Idul Fitri menjadi momen untuk kembali membuka catatan itu, agar manusia dapat kembali pada fitrahnya.
Lalu Deni kembali menutup satu lingkar pembahasan dengan menyinggung pentingnya keseriusan dalam bertirakat. Bahwa dalam proses latihan, manusia harus disiplin dan bersungguh-sungguh. Namun ketika sampai pada ruang ekspresi, ia bisa menjadi lebih lepas. Sebagaimana seorang musisi yang ketat dalam latihan, namun bebas ketika tampil di panggung.
Ebel kemudian membawa diskusi ke dalam dunia seni murni. Menurutnya, seni murni memiliki kedekatan dengan fitrah manusia. Ia melampaui sekadar estetika, dan mencapai wilayah kesadaran yang lebih dalam. Dalam prosesnya, dialektika menjadi salah satu jalan, hingga pada akhirnya seorang seniman tiba pada kesadaran spiritual.
Dengan sederhana, Restu merespon melaluio ikhtiarnya: menjalani tirakat one day one page, sebagai bentuk konsistensi dalam belajar menulis.
Malam semakin larut. Percakapan terus mengalir, menembus batas antara pikiran dan rasa.
Sebagai penutup, Deni melemparkan satu pertanyaan reflektif: setelah melalui Ramadhan dan Idul Fitri, tirakat apa yang akan kita pilih untuk menjadi lebih baik?
Pertemuan itu pun tidak benar-benar selesai. Ia hanya berhenti pada waktu. Sebab sejatinya, setiap pertemuan adalah babar—melahirkan kesadaran baru. Dan setiap yang telah bobor—yang telah putus dari kebiasaan lama—semoga benar-benar memberi ruang bagi sesuatu yang lebih jernih untuk tumbuh.








