Gusti…
Betapa tuli pendengaran kami!
Perkenankan, jika mungkin, di hari nanti kami bisa mendengar tidak dengan telinga kami yang amat terbatas ini, perkenankan juga kami mendengarkan tidak hanya suara-suara, yang amat sering menjebak jiwa dungu ini, tetapi juga mendengarkan apa pun saja: “cahaya, inti warna, sepi” – atau bisikan-Mu yang tiada terperi.—Emha Ainun Nadjib, syair Asmaul Husna.
Alhamdulillah, di bulan ini kita kembali dipertemukan dan diperjalankan pada etape kelima dalam sinau bareng Waro’ Kaprawiran—satu langkah kecil dari dua belas etape yang sejak awal kita niatkan bersama. Setiap pertemuan kita upayakan menjadi ruang sinau bareng; bukan sekadar tempat “setor kuping” atau duduk rapi menerima satu arah suara, melainkan ruang yang hidup, tempat kita hadir dengan butiran makna masing-masing—dengan sudut pandang, jarak pandang, dan cara pandang yang beragam. Semoga setiap pertemuan ini tetap menjadi ruang yang hangat dan jernih—tempat kita bisa saling mendengar dengan lapang, saling menyapa dengan tulus, dan berjalan bersama dalam mendidik diri kita dalam Sinau Bareng.
Jauh sebelum dunia pendidikan modern yang serba seragam dan berbatas kurikulum, kita menemukan cara belajar yang lebih cair dan membumi. Pada masa para empu dan pandhita, para pemilik “sumur ilmu” yang Waskita, sebagaima dalam Serat Wulangreh pupuh Dhandhanggula, terselip pitutur bagi para pencari ilmu: Lamun sira anggeguru kaki / Amiliha manungsa kang nyata / Ingkang becik martabate / Sarta kang wruh ing ukum / Kang ngibadah sarta wirangi / Sokur oleh wong tapa / Ingkang wus amungkul / Tan mikir paweweh ing liyan / Iku pantes sira guranana kaki / Sarta kawruhana.
Pada ruang nilai seperti itulah, para pencari ilmu datang dengan laku nyuwita, ngenger, dan nyantrik, mengabdikan diri sebagai jalan untuk menimba makna. Para empu tidak pernah mengikrarkan diri menjadi guru yang mencari murid, dan padepokan tidak berdiri sebagai lembaga yang mengiklankan janji kesuksesan atau kepandaian; tak ada formulir pendaftaran, tak ada prasyarat administratif yang memberatkan.
Cantrik hadir karena terpanggil oleh keteladanan hidup sang guru, daya tarik yang lahir dari laku, bukan dari promosi. Maka cantrik bukan sekadar romantisme masa lalu, tetapi cermin cara manusia membangun hubungan dengan ilmu secara utuh. Di sana, belajar tidak dipisahkan dari hidup namun justru menjadi napas dari keseharian. Kedekatan antara cantrik dan empu melahirkan ruang yang memungkinkan ilmu tumbuh secara organik, bukan dipaksakan.
Dalam relasi seperti itu, kehadiran, kesabaran, dan kesetiaan menjadi “kurikulum” yang tak tertulis, sementara sikap hidup sang guru menjadi “buku ajar” yang terus terbuka. Maka ilmu tidak berhenti pada apa yang diketahui, tetapi menjelma menjadi cara bersikap dan memaknai kehidupan. Belajar bukan lagi soal cepat atau lambat, lulus atau tidak, melainkan tentang sejauh mana seseorang mampu menyerap, menghidupi, dan merawat nilai.
Rangga Warsita dalam Serat Kridhamaya, memposisikan “Cantrik” sebagai tataran paling awal dalam jenjang pencari ilmu. Di atasnya ada “Manguyu”, mereka yang mulai diberi amanah membimbing; lalu “Janggan”, yang ilmunya sudah cukup; lantas “Puthut”, yang kedalamannya makin matang; hingga “Wasi” dan “Pandhita Muda”. Namun boleh jadi jika itu kita memaknainya bukan sebagai tingkatan, namun sebagai sebuah tahapan proses sinau, mengingat cantrik bukan murid sekolah yang asal materi telah tuntas disampaikan, entah paham tidak paham, maka layak naik tingkat.
Cantrik lebih pada proses sebagaimana Maiyah dengan Ta’dib – Pemberadaban. Mbah Nun menguraikan Ta’dib sebagai, “Proses pembelajaran untuk menjadi manusia beradab. Sebuah halaqah ilmu kehidupan. Dalam proses Ta’dib, siswa tidak dituangi pengetahuan, tapi justru diproses untuk kosong kembali, baru kemudian digali kemungkinan-kemungkinan dari dalam diri mereka masing-masing. Kemungkinan itu bisa bakat, kecenderungan, potensi, susunan faktor-faktor yang ditakdirkan Tuhan pada diri setiap orang. Bisa juga sisa-sisa ilmu, pengetahuan, dan pengalaman yang sudah mengendap, sudah mengalami sublimasi di dalam proses hidup mereka. Di dalam proses penggalian, para siswa diajak mengembarai berbagai kemungkinan memahami, menafsirkan, menganalisis, mendalami, menghayati, sekaligus membiasakan diri bersentuhan dengan berbagai macam output atau hasil multi-pemahaman itu.”
Maka secara irama dan tahap, Ta’dib dibangun dan dijalani melalui tahap: TA’LIM, dari tidak atau belum tahu menjadi tahu; TAFHIM, dari belum paham menjadi paham; TA’RIF, tahu, paham tapi belum benar-benar mengerti; TA’MIL/TAF’IL, tahu dan paham, bahkan berhasil mengerti tapi belum tentu bisa atau melakukan; TAKHLIS, tahu, paham, mengerti, dan bisa, dan ikhlas melakukannya.
Dengan demikian, jika seluruh tahapan itu bukan sekadar jenjang yang harus dilampaui, melainkan laku yang terus berputar dan saling menghidupi, maka pertanyaannya: di manakah posisi kita hari ini? Apakah kita masih berada pada tahap tahu, merasa sudah paham, atau justru sedang diuji untuk benar-benar mengerti dan mengamalkan? Ataukah tanpa sadar kita berhenti pada ilusi merasa sudah sampai?
Barangkali yang lebih penting bukan seberapa tinggi kita merasa telah naik, tetapi seberapa jujur kita menjalani setiap prosesnya. Sebab bisa jadi, seseorang yang setia menjadi cantrik justru lebih dekat pada hakikat Ta’dib dibanding mereka yang tergesa-gesa ingin disebut pandhita.
Maka mari kita menata hati, menjernihkan pikiran, merangkai nilai merajut makna, untuk tidak tergesa menyimpulkan, melainkan membuka ruang untuk memaknai bagaimana proses sinau ini dalam hidup kita masing-masing. Apa yang sebenarnya sedang dibentuk – pengetahuan kita, atau keadaban kita? Dan sejauh mana kita memberi ruang pada diri sendiri untuk benar-benar berproses, bukan sekadar mengumpulkan tahu?








