Kenikmatan, keteduhan, dan ketenteraman batin-lahir yang saya alami selama diperjalankan hadir dalam Silaturahmi Nasional (Silatnas) Penggiat Simpul Maiyah, pada 6-7 Desember 2025 di Rumah Maiyah, Kadipiro, Yogyakarta bukan hanya soal rasa nyaman yang berhasil menyentuh hati saya.
Lebih dari itu, Ada berlapis-lapis rasa yang lebih mendalam, seperti pintu terbuka yang mempersilakan saya masuk ke ruang di baliknya. Saya seakan diajak untuk memasuki ruangan tak terbatas; mengajak saya menengok kembali perjalanan panjang yang saya jalani dalam orbit frekuensi Maiyah hampir satu dekade terakhir ini.
Dua momen sakral—Silatnas 2025—menjadi titik yang paling membekas pada diri saya; pembukaan melalui Tawashshulan dan penutupan yang dipungkasi dengan lantunan Shohibu Bati. Ketika tiba pada zikir Hasbunallah wa ni’mal wakil… ni’mal maula wa ni’man nashir… dikumandangkan, diiringi pakdhe-pakdhe Kiai Kanjeng, dan ketika rekaman suara Mbah Nun memasuki lirik Mursyidu imani… Anta syamsu qolbi… Qomaru fu’adi… Ya Qurrotu ‘aini… Syafi’u nashibi… Ya maula jihadi… Ufuqu syauqi.. Ya baabu akhirati…
Air mata saya tumpah. Mbrebes mili sederas-derasnya. Seakan saya disentuh oleh sesuatu yang jauh lebih tua daripada usia saya sendiri. Sesuatu yang lebih panjang dan lebih luas dari pengalaman batiniah maupun dhohiriah saya sendiri.
Seperti ada spiral waktu yang membentang dari detik itu, kembali ke masa-masa tahun 2015-2016 ketika pertama kali saya dipertemukan dengan majalah BMJ (Buletin Maiyah Jawa Timur) di SMA Darul Ulum 2 Jombang—saya dapat dari seorang teman saya yang rutin hadir ke Padhangmbulan.

Detik itu terus bergulir ke rangkaian pengalaman saya ber-Maiyah; Sinau Bareng Cak Nun & Kiai Kanjeng, perjumpaan dengan Damar Kedhaton Gresik, hadirnya berbagai kesempatan diperjalankan menyambung-nyambangi silaturahmi rutinan Simpul-simpul Maiyah, hingga paseduluran dengan JM yang semakin hari terasa semakin melingkar tanpa benar-benar saya rencanakan.
Di sana, ada poros batin yang saya rasakan: Bangkalan-Jombang-Jogja. Poros itu semacam peta wasita sinandhi yang selama ini bekerja diam-diam menemani serta menyambungkan langkah-langkah saya.
Ingatan itu kemudian membawa saya pada satu fragmen secuil peristiwa paling berkesan: detik-detik duduk semeja dengan Mbah Nun di Warung Apung Rahmawati pada 2022, menjelang Sinau Bareng Big Picture: Memahami Heritage Para Wali di Jawa. Ada Mas Ale, Cak Lutfi, beberapa dulur Bangbang Wetan dan “pengawal” Mbah Nun berpeci khas warna merah. Lalu, dua dulur Damar Kedhaton; Cak Fauzi dan Cak Teguh.
Poin utama yang melingkar dalam ingatan saya bukan pada pertemuan itu, tetapi ketika Mbah Nun menyampaikan banyak insight dalam pembukaan acara expo bertajuk East Java Heritage 2022 atau Ekspo Peninggalan Sejarah dan Cagar Budaya Jawa Timur 2022 dengan tema besar “Citragama Wali dan Peradaban Islam Jawa Timur” bertempat di Wahana Ekspresi Poesponegoro (WEP) Gresik.
Saat itu, Mbah Nun menyampaikan satu pemantik berpikir bagi penyelenggara, para peneliti sejarah, dan masyarakat pada umumnya yang hadir dalam pembukaan Ekspo tersebut terkait berpikir heritage. Yakni, memilih seberapa jauh ke belakang kita menelusur. 10 tahun? 100 tahun? 1000 tahun? Atau sejauh sangkan paraning dumadi. Yakni, kesadaran Nur Muhammad, titik mula penciptaan jagat semesta beserta seluruh isinya.
Pemantik berpikir heritage yang disampaikan Mbah Nun tiga tahun lalu itu, kembali bergetar dalam kesadaran saya saat mengikuti rangkaian Silatnas 2025 dengan membawa tema besar Sangkan Paran Majlis ‘Ilmu Maiyah. Saya sepeti mengalami resonansi yang menyeluruh. Seakan apa yang dulu saya dengar secara perspektif intelektual, kini hadir dan terasa nyata saya alami secara batin.
Terlebih ketika pada hari kedua Silatnas Mas Jamal Jufree Ahmad—yang selama hampir satu dekade saya kenali hanya lewat tulisan—menjelaskan konsep kerangka waktu dalam pemaparannya menjelaskan detail poin-poin yang disajikan lewat layar proyektor; Pra-Modern, Modern, dan Social Media Era.
Namun, bukan kategorisasinya saja yang penting, melainkan bagaimana cara Mas Jamal menjelaskan kepada seluruh penggiat yang hadir saat itu. Bahwa, manusia hari ini sejatinya tidak hidup dalam satu garis waktu, tetapi dalam lapisan-lapisan waktu yang saling bertautan dan berkesinambungan. Dan, semua yang digagas oleh Mas Jamal adalah upaya mengkategorisasi pintu-pintu ilmu Maiyah.

Konsep-konsep Pra-Modern, Islam Pra-Modern, hingga Jawa/Sunda Nusantara Pra-Modern yang diuraikan justru membuat saya semakin yakin untuk memperteguh makna dhawuh Mbah Nun tentang Mengakhirati Dunia. Bahwa, hidup ini sejatinya bukan pemisahan dari dunia menuju akhirat, tetapi perjalanan spiral melingkar yang terus kembali kepada sumber: Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’un.
Allah sendiri pun berfirman melalui Surat Al-Baqarah ayat 156; الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّٰهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ. Bahwa, Allah mengingatkan kepada kita segala sesuatu di dunia ini hanya milik-Nya, dan hanya kepada-Nya kita juga akan kembali. Sebuah mekanisme kosmik yang bekerja di dalam diri manusia.
Seperti yang disampaikan oleh Mas Jamal, bahwa di sinilah posisi Maiyah dalam bersikap dan memandang kehidupan. Sebagai jalan tengah yang diikhtiarkan terus menerus untuk menata hati dan menjernihkan pikiran. Tidak terjebak pada romantisme masa lalu, tetapi juga tidak menyerah pada logika pasar, kapital, dan algoritma perkembangan teknologi melalui Social Media Era—Maiyah menjembatani pergeseran zaman di era modern dan Social Media masa kini.
Dalam “perjalanan” 2 hari 1 malam di Rumah Maiyah itu, saya merasa seperti pulang ke kampung halaman. Bukan ke masa lalu, tetapi ke pusat dalam diri. Ke tempat di mana perjalanan personal dan perjalanan peradaban bertemu dalam harmoni. Tempat di mana spiral waktu yang saya lalui sejak membaca BMJ di Jombang hingga menjejakkan langkah kaki di Kadipiro pada tahun ini, terasa jangkep-mengjangkepi.
Gresik, 8 Desember 2025
Dok. Foto: Sakti








