Kita sering memahami bahwa kita tengah mengalami keresahan ketika mulai menebak-nebak letak masalah. Ini kayaknya masalahnya di sini… atau mungkin di situ. Namun, sebagaimana diungkap Mas Sabrang dalam pembukaan Silaturahmi Penggiat Maiyah, 6 Desember 2025 di Rumah Maiyah, Kadipiro, Yogyakarta, proses membaca keresahan itu sering tidak menghasilkan respons yang tepat. Kita merasa resah, tetapi cara kita meresponsnya masih saja salah.
Itulah sebabnya, dalam Maiyahan, setiap topik yang dikaji hampir selalu dibangun dari tema-tema yang membahagiakan, yang menyenangkan, dan yang menggembirakan hati. Bukan karena Maiyah tidak serius, tetapi karena manusia memerlukan ruang cerah sebelum diajak masuk ke tataran detail teknis dan kerumitan persoalan.
Mas Sabrang menyebut bahwa standar keresahan manusia itu kurang lebih sama: hati yang tidak tenang. Dari titik itu—dari momen pertama ketika hati tidak damai—kita bisa mulai menggali masalah secara jangkep. Walaupun pada akhirnya nanti muncul berbagai permasalah yang beragam.

Tahap pertama, kata Mas Sabrang, adalah mengubah keresahan menjadi rumusan.
Setelah rumusan terbentuk, barulah bisa memunculkan “organisasi” yang berfungsi secara kolektif untuk menyelesaikan masalah berdasarkan rumusan itu.
Di titik ini, Mas Sabrang mengajak kita memasuki lanskap yang lebih luas: bagaimana padatan sosial seperti Ormas atau Partai Politik menyusun AD/ART dan misinya. Lalu, pertanyaan reflektif beliau suguhkan sebagai fondasi awal kerangka berpikir.
“Menurut njenengan, AD/ART dan misi kelompok itu datangnya dari mana? Mosok ngarang? Biasane ngarang itu. Nek ora copas ya diedit setitik. Padahal urutannya harusnya jelas: kamu resahnya di mana? Lalu kamu rumuskan. Cara merumuskannya itu tidak mudah, di situ ilmu bekerja,” lanjut Mas Sabrang, “Kemudian dirumuskan, masalahnya apa? Dalam keadaan A sekarang seperti ini, saya pengen keadaan yang lebih baik itu seperti apa?”
Dari pemaparan itu, saya pribadi mencoba menerjemahkan menggunakan kerangka analisis SWOT—Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats. Bagi saya, membaca keresahan diri dan membaca SWOT adalah dua mekanisme yang saling melengkapi. Yakni, bagaimana melihat sisi internal (individu/kelompok) dan eksternal (kondisi di luar kendali diri/kelompok).
Dalam bahasa Mas Sabrang disampaikan pertanyaan kembali untuk melatih kerangka berpikir kita agar jangkep, “Sing ngehalangi sopo? Sing ndukung sopo? Awake dewe nduwe apa? Ora nduwe apa? Dirumuskan detail, terus dadi ngerti. Oh, mampune mung segini, yawes, lakune sakmene wae.”
Contoh-contoh sederhana pun diberikan Mas Sabrang Misalnya, ada penggiat yang resah melihat generasi muda enggan menjadi petani. Ada pula yang resah melihat anak-anak tidak lagi suka membaca. Dan menurut Mas Sabrang, keresahan itu sendiri bukanlah masalah.
Setiap Simpul Maiyah pasti punya keresahannya masing-masing. Semua keresahan pasti berbeda sesuai karakter daerah dan pengalaman. Dari situlah Mbah Nun—melalui Maiyah—sejak dulu melatih kita untuk sinau bareng, belajar membaca masalah, belajar mendengar, dan belajar berdiskusi.
Kita ngobrol, kita belanja ilmu dari banyak arah, lalu kita menyusunnya sebagai rumusan dan formula. Setelah formula itu muncul, baru bisa dilakukan pemetaan, berikutnya bisa dibangun pemadatan. Namun Mbah Nun selalu mengingatkan bahwa Maiyah jangan sampai menjadi ormas, organisasi, ataupun padatan lainnya.
Maiyah tidak sampai pada tahap pemadatan. Tahap itu, kata Mas Sabrang, biarlah menjadi wilayah partai politik, ormas, karang taruna, dan struktur-struktur yang memang dirancang untuk itu.
Kemudian, Mas Sabrang menutup bagian ini dengan kalimat yang menancap di benak pikiran hati, “Tapi mereka punya modal jelas. Arek-arek nduwe modal sing jelas. Ketika aku nyemplung nang kono ngerti masalah apa sing arep tak pecahkan. Dadi nek aku melbu Ormas pengen mecahke masalah, ternyata diajak nyolong—gampang, aku metu wae.”
Ketika seseorang sudah mengenali keresahan, rumusan, dan tujuan dirinya, ia memiliki daulat. Ia tidak mudah digeser angin kanan-kiri. Ia tidak mudah dimanfaatkan. Ia tahu kapan masuk, kapan keluar, kapan bertahan, dan kapan menolak.
Dan itulah inti pendidikan dan arah gerakan value Maiyah. Dalam bahasa pemaknaan versi saya adalah bagaimana kedaultan diri tumbuh dari kemampuan membaca keresahan, merumuskannya, lalu memetakan sebagai jalan untuk bergerak.








