Silaturahmi Penggiat Maiyah 2025 yang berlangsung pada 6-7 Desember di Rumah Maiyah, Kadipiro, Yogyakarta bagi saya bukan sekadar menjadi ruang berjumpa dengan dulur-dulur lintas provinsi, tetapi juga momentum untuk menata ulang fondasi gerakan Maiyah itu sendiri—utamanya belajar menanam kesadaran dari dalam diri.
Pada hari pertama sesi pembukaan, Mas Sabrang Mowo Damar Panuluh menyampaikan fondasi dasar kerangka berpikir spirit value gerakan Maiyah yang perlu kita ugemi bersama. Sejumlah rumusan penting terkait daulat diri, orientasi gerak, serta skala kontribusi Maiyah di tengah perkembangan zaman dikupas tuntas.
Apa yang beliau paparkan menjadi cara pandang yang mengajak kita memahami kembali posisi dan kesadaran akan tanggung jawab sebagai bagian dari ekosistem gelombang Maiyah. Termasuk bagaimana kita memosisikan diri pada skala membaca takdir kita sebagai manusia yang lahir dan hidup di Indonesia.
Tidak cukup bagi saya untuk mendengarkan saja. Apa yang Mas Sabrang paparkan terasa terlalu padat dan berat untuk dicerna seketika oleh pikiran, apalagi memori ingatan yang, seiring bertambahnya usia, semakin rawan bocor. Maka, selain mencatat manual lewat buku catatan, saya juga merekam suara. Tidak ada pertimbangan apa pun selain eman kalau semua itu dibiarkan menguap begitu saja.
Durasi 17 menit 51 detik itu saya simpan sebagai dokumen, lalu saya transkrip secara verbatim. Dari situ, saya olah kembali dan susun menjadi empat tulisan berbeda. Ini menjadi tulisan terakhir saya. Maka, apa yang saya sajikan di sini tentu adalah versi saya dalam upaya mengingat sekaligus merefleksikan poin-poin yang saya tangkap dari Mas Sabrang.
Seturut dengan agenda Silaturahmi, ingatan saya nyantol pada tema “Mengenali Fadhilah, Menjadi Ahli” yang diangkat dalam Silatnas Penggiat Maiyah 2019 di Semarang, yang juga saya ikuti saat itu. Spirit itu rasanya tetap relevan hingga hari ini sebagai rakaat panjang transformasi diri yang tidak pernah berhenti dari waktu ke waktu.
Sudah pasti yang saya tulis ini masih jauh dari kata sempurna dan banyak kekurangan untuk dilengkapi. Sebab itu, Silatnas bagi saya bukan sekadar agenda tahunan, melainkan ajang untuk saling bersinergi, saling mengelaborasi, saling berbagi, sekaligus terus berproses merapatkan barisan dalam satu gelombang frekuensi Al-Mutahabbina Fillah.

Masih dalam spirit yang sama, saya teringat pula pesan Mas Sabrang dalam Silatnas Penggiat Maiyah 2019 bahwa, “Modern problems need modern solutions.” Ikhtiar mentranskrip verbatim, lalu merefleksikan, dan menyusunnya kembali—termasuk mendayagunakan asisten AI—menjadi bagian kecil dari ikhtiar itu.
Semua proses tersebut membuat saya menyadari bahwa merumuskan tulisan-tulisan ini bukan hanya aktivitas literasi, tetapi latihan kecil untuk menangkap ulang cara berpikir Maiyah. Bermula dari resah, lalu dirumuskan, baru kemudian menemukan bentuk yang pas untuk dieksekusi. Pada titik ini, saya menangkap apa yang disampaikan Mas Sabrang dalam Silaturahmi Penggiat Maiyah 2025 menjadi semacam pintu masuk menuju lantai dasar pemahaman yang lebih komprehensif.
Saya membukanya melalui ungkapan ketika Mas Sabrang menganalogikan orang Maiyah punya keinginan yang diaktualisasikan sebagai ikhtiar memecahkan permasalahan dalam lingkungan tertentu, misalnya di sebuah organisasi.
“Arek-arek nduwe modal sing jelas. Ketika aku nyemplung nang kono ngerti, masalah apa yang ingin aku pecahkan. Sehingga, kalau kamu melbu sebuah ormas pengen memecahkan masalah, ternyata diajak nyolong, gampang kowe untuk metu dari situ,” beber Mas Sabrang.
Bahwa, ketika kita masuk di sebuah Ormas, kita sudah membawa rumusan untuk menyelesaikan sebuah permasalahan. Lalu, kita menemukan kenyataan bahwa rumusan itu bertolak belakang dengan sejatinya apa yang disebut sebagai value itu sendiri. Maka dalam posisi seperti ini kita bisa berdaulat, misalnya mengambil keputusan secar sadar untuk keluar dari ormas tersebut.
“Jadi, kamu tahu letak diri di mana. Tahu daulatnya itu di mana. Tanpa itu, kita tidak akan berdaulat. Kita akan kegeser kanan-kiri nih. Angin ke kanan ikut ke kanan, angin ke kiri ikut ke kiri. Itu yang disebut Simbah sebagai daulat. Ayo berdaulat, rek” ajak Mas Sabrang.
Disadari atau tidak, lanjut Mas Sabrang, kita wajib mengetahui posisi kita dalam hidup ini; manfaat apa yang bisa kita tularkan ke lingkungan, keresahan apa yang kita rasakan, dan bagaimana keresahan itu dirumuskan menjadi solusi.
Kalau memakai ilmunya Mbah Nun, kata Mas Sabrang, sebenarnya sangat sederhana, “Kowe resah ning ndi? Kowe resah ning lingkungan, berarti Kowe sedang memecahkan permasalahan lingkungan.” Karena itu, Mas Sabrang melanjutkan apa yang berulang kali disampaikan Mbah Nun; mengenali fadhilah diri, lalu menjadi ahli di lingkar lingkungan terdekat.
“Sehingga bisa merumuskan, sopo toh penjahate? Sopo toh kancane? Sebab’e piye? Kowe pengen ning endi? Eling arahnya ke mana, waspada perjalanannya menuju ke sana seperti apa,” lanjutnya.
Nah, fondasi Maiyah, kata Mas Sabrang, letaknya di situ. Bagaimana mengonversikan keresahan menjadi rumusan yang bisa diwujudkan dalam tindakan yang nyata. Jika ada yang bertanya, “Kok Maiyah gak action?” Ya sik tho, iki sinau. Sinau untuk merumuskan keresahan. Kalau tanpa rumusan, tiba-tiba action, kita hanya menjadi alat dari yang punya tujuan.
Jika kita tarik pada skala perjuangan Mbah Nun berpuluh-puluh tahun selama ini, salah satunya terlibat dalam momentum reformasi hingga kemudian turun ke akar rumput untuk menyapa sekaligus menemani rakyat kecil—Mas Sabrang menegaskan bahwa keputusan-keputusan itu tidak dilakukan serampangan. Semuanya bermula dari keresahan, lalu dirumuskan, barulah lahir gerakan yang kita kenal sebagai Maiyah.
Mbah Nun melihat ada beberapa poin penting memang harus dibereskan dari bawah, lanjut Mas Sabrang, karena yang di atas sudah tidak bisa diapa-apakan, terus bagaimana? “Karena yang di atas ora isok diapak-apake. Arepe ngopo? Masalah yang mereka pecahkan hanya perkara apik-apik’an mobil. Ora onok liyane. Lah, itu kan bukan masalahmu,” tegas Mas Sabrang, membuka keluasan cara berpikir kita.
Mbah Nun, kata Mas Sabrang, mengajak kita ke arah gerakan yang lebih efektif dunia-akhirat, fokus utamanya adalah memecahkan masalah yang benar-benar menjadi keresahan kita di lingkungan terdekat. Contohnya membuat pakan pelet ikan untuk memancing. Jika itu menjadi keresahan kita, ya monggo dieksekusi. Sebab, ada sebagian orang yang memang punya masalah serupa; pengen mancing dan dapat ikan banyak. Itu juga bisa menjadi kekuatan ekonomi. Yang penting bagaimana fondasi niat awal yang dibangun yakni menjadi manusia yang berguna. Khoirunnas anfa’uhum linnas. “Kudu sugih, tapi ya slamet ning hadapan e Gusti Allah,” jelas Mas Sabrang.
Berikutnya, Mas Sabrang masuk pada konteks Penggiat Simpul Maiyah. Penggiat harus paham bahwa kita ini metanya. Meta berarti kita menyediakan ruang sebagai tempat orang belajar mengonversi keresahan menjadi rumusan. Maka menurut Mas Sabrang, problem ini yang perlu kita pecahkan bersama; bagaimana Penggiat Simpul Maiyah menyediakan tempat belajar bagi orang-orang untuk mengubah keresahan menjadi rumusan.
Karena itu, logis ketika perspektif kita berbeda-beda, dan itu bukan masalah. Sebab, setiap orang membawa keresahan yang berbeda. Tidak cukup kita pulang ke daerah masing-masing hanya membawa kata-kata lalu menaruhnya di media sosial. Oke, itu mungkin memecahkan masalah eksistensi pribadi, lanjut Mas Sabrang, tetapi tidak cukup untuk mengisi skala gerakan atau esensi dari proses merumuskan masalah itu sendiri.
Mas Sabrang juga mengingatkan soal obrolan beliau dengan Mbah Nun yang sampai pada pertanyaan: Maiyah mau dibawa ke mana? Mau diorganisasikan? Mau dijadikan yayasan? Mungkin bisa dijadikan yayasan, tapi bukan sebagai Maiyah itu sendiri. Karena Maiyah lahirnya emergent. Kelahirannya diyakini sebagai sesuatu yang diijabahi oleh Tuhan, dan didorong oleh banyak hati yang menyetujui. Maka pertanyaannya, posisi kita di mana?
Posisi Maiyah ini di skala mana? Ormas sudah banyak. Partai Politik sudah ada. Maka tugas kita, sambung Mas Sabrang, bukan membuat struktur tandingan, yang perlu kita lakukan adalah memperbanyak Maiyah—sebagai gelombang kesadaran batin-lahir—yang banyak dan pantul-memantul agar generasi muda bisa mengisi ruang-ruang padatan itu sehingga lebih sehat.
Pada akhirnya, jika kembali pada fondasi dasar, inti Maiyah adalah menjembatani agar semua keresahan hati bisa dipecahkan, dan dirumuskan menjadi solusi yang sehat, efektif, selamat dunia-akhirat.
Gresik, 10 Desember 2025







