Dari seluruh paparan Mas Sabrang pada sesi pembukaan Silaturahmi Penggiat Maiyah 2025, ada satu poin yang paling ter-notice dalam benak hati dan pikiran saya, yakni “resah”. Resah atau keresahan, menurut Mas Sabrang, adalah mekanisme alami manusia untuk mendeteksi bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam hidup ini. Dengan kata lain, keresahan adalah cara manusia untuk mengidentifikasi adanya masalah.
Modal awal keresahan itu pula yang sejak puluhan tahun menjadi pijakan Mbah Nun untuk terus ngancani wong-wong cilik di pinggiran. Beliau membesarkan hati manusia Indonesia sembari membaca dengan jernih bahwa bangsa ini sedang menanggung problem-problem fundamental—yang juga menjadi spirit arah value gerakan Maiyah selama ini.
Maka, tibalah pertanyaan yang diajukan Mas Sabrang dengan sangat lugas: bagaimana mau mengubah keadaan Indonesia? Jawabannya: kita harus melakukannya bersama, dan dengan cara yang sistematis. Dari titik itu, Mas Sabrang masuk membedah keberadaan “padatan” sosial-politik: partai politik, ormas, hingga lembaga-lembaga yang selama ini dipercaya sebagai alat perubahan. Tidak ada yang perlu dibantah dari tujuan baik mereka. Semua lahir dengan niat mulia.
Namun, Mas Sabrang juga mengajukan pertanyaan lanjutan sekaligus menantang kejujuran kerangka berpikir kita terhadap padatan-padatan tersebut. “Tapi, kan partai sudah mencoba itu. Ormas juga sudah mencoba mencapai itu. Kok nggak berubah tambah baik? Apa nih problemnya?,” Mas Sabrang mengajak kita untuk membongkar dan memetakan akar permasalahan dengan menguatkan kerangka berpikir.

Pertanyaan itu bukan untuk menyalahkan, atau menyudutkan, atau mencari kambing hitam, melainkan untuk membuka peta yang lebih luas. Untuk mengajak kita menguatkan kerangka berpikir sebelum melangkah ke gagasan perubahan Indonesia yang lebih besar.
Sebelum memecahkan masalah—apalagi menyentuh urusan memakmurkan bangsa—kita perlu mengurutkannya secara jangkep. Dan di titik inilah, menurut Mas Sabrang, Indonesia punya kekosongan awal: kita tidak benar-benar menaruh perhatian serius pada langkah pertama yang paling mendasar.
“Apa sih titik awal pertamanya? Sekarang gini pertanyaannya; kita punya masalah dalam hidup? Belum tentu punya. Tetapi, bagaimana bisa tahu kalau kita punya masalah dalam hidup, gimana caranya? Selalu berhenti di sini. Kenapa? Karena cara manusia mendeteksi ada masalah dalam hidup itu namanya resah,” papar Mas Sabrang.
“Ora enak e… kok ngene seh?” Itulah gejala pertama yang muncul dari keresahan, seperti penanda sekaligus alarm diri. Tapi, kata Mas Sabrang, justru pada tahap “membuat resah menjadi rumusan masalah” itulah bangsa ini terus-menerus miss. Kita tidak terlatih merumuskan masalah. Terkadang juga tidak tahu caranya; mengabaikannya, atau sengaja melompat melewatinya.
Gresik, 10 Desember 2025








