Warkop 86 di Dusun Dalean, Desa Guranganyar, Cerme, Gresik, tampak lengang dini hari itu. Bangku-bangku masih kosong. Layar ponsel di tangan menunjukkan pukul 01.00 WIB, Sabtu, 8 November 2025. Warung yang berdiri persis di tepi jalan raya belum menampakkan tanda-tanda aktivitas. Hanya sesekali melintas tukang sayur keliling dengan keranjang besar yang masih kosong—akan kulakan ke Pasar Benjeng. Orang-orang sini menyebut mereka sebagai Bakul Mlijo.
Secangkir kopi hitam pahit dan sebotol air mineral menemani saya yang tengah berbincang lewat WhatsApp dengan seorang teman penulis, kelahiran Banjarnegara, kini berdomisili di Malang. Percakapan kami berlangsung lama, sekitar tiga jam dua puluh menit. Ujungnya, obrolan itu mengarah pada ajakan pertemuan di Malang. Namun rencana itu batal, sebab dia sudah memiliki agenda padat sejak pagi hingga siang.
Tiba-tiba saya teringat janji lama dengan salah satu dulur JM asal Malang—Bintang, panggilannya. Janji menyambung silaturahim ke Malang yang semula saya jadwalkan Oktober lalu, namun belum terlaksana. Seketika saya mengirim pesan WA kepadanya.
“Sabtu ini ada agenda ke luar kota, atau stay di Malang aja? Kalau stay, aku dolan ke Al-Manhal ya.” Pesan itu terkirim pukul 01.48 WIB.
Lalu menyusul pesan kedua saya, “Nuntaske rencanaku ke Malang, yang seharusnya Oktober wingi tapi batal.” Tak disangka, balasan darinya datang begitu cepat, “Stay di Al-Manhal aja aku, Mas.”
Bismillah. Saya membalas, “Nanti aku ke sana, sambil berkabar lagi,” pukul 02.23 WIB, pesan WA itu saya balas.
—
Perjalanan Menuju ke Malang
Pagi harinya, saya lebih dulu mengantar Ibu ke Sememi, Benowo, Surabaya. Sesuai rencana dini hari sebelumnya, saya berangkat menuju Malang sekitar pukul 07.00 WIB dari Surabaya. Sepanjang perjalanan, ponsel sengaja saya simpan. Fokus menempuh jalanan berliku, menanjak, dan menurun menuju Rumah Maiyah Al-Manhal di Perumahan Landungsari Asri Blok D No. 72, Dusun Rambaan, Landungsari, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, dengan motor Megapro keluaran 2005.

Di tengah alas Cangar, Kota Batu, saya berhenti sejenak. Angin pagi yang lembap menembus jaket berwarna hitam yang saya kenakan. Pukul 08.37 WIB ada pesan WA masuk dari Bintang,“Sudah berangkat, Mas?”
Saya baru sempat membalas pukul 09.05 WIB, “Sudah. Wis nyampe Cangar iki.” Perjalanan kembali saya lanjutkan.
Tiba di Rumah Maiyah Al-Manhal, sekitar pukul 11.30 WIB. Obrolan pertama kami ringan. saling bertanya kabar, berbagi cerita tentang kondisi simpul masing-masing. Saya menceritakan perjalanan Damar Kedhaton; Bintang bercerita tentang Maiyah Relegi Malang.
Tak lama kemudian, kami berdua tertidur pulas setelah Dhuhur. Saya belum tidur semalaman, sedangkan Bintang semalam menemani mahasiswa konsultasi skripsi selepas rutinan Tawashshulan Jannatul Maiyah Malang Raya, Jumat Pon, 7 November 2025, yang baru usai pukul 23.00 WIB.
Saking pulasnya, saya tidak sadar jika hujan deras mengguyur lama sejak pukul 14.00 WIB hingga 17.00 WIB. Saya baru mengetahuinya menjelang Maghrib, ketika Bintang bercerita bagaimana hujan itu yang turun mengguyur begitu sangat deras, seolah ikut membersihkan kelelahan perjalanan saya hari itu.

—
Kebetulan yang Diseriusi?
Saya memilih berhusnudhon kepada momen kebetulan-kebetulan yang datang menyapa; kebetulan yang menuntun kami melangkah, bukan sekadar kebetulan tanpa arah. Ada dorongan batin yang membisiki saya diam-diam agar saya lebih serius dalam mengkaji, mentadabburi, dan men-tajribahi tanda-tanda itu, sebagai bentuk ikhtiar lahir batin mendekati-Nya.
Saya teringat caption singkat yang diunggah akun @maiyahrelegi dan @rumah.almanhal, sebagai berikut:
“Dalam setiap pertemuan, ada doa yang bergetar halus. Dalam setiap jabat tangan, ada kasih yang menyala. Mari hadir dan menyambung tali ruhani di Tawashshulan.” Yang membedakan hanya satu: saya tidak hadir secara fisik dalam Tawashshulan malam sebelumnya.

—
Menemukan Jejak Lama dalam Ingatan
Sore itu saya membuka koleksi majalah lawas yang tersimpan di Rumah Maiyah Al-Manhal — edisi sebelum istilah “Maiyah” dikenal secara luas. Tulisan di kover depan memantik rasa ingin tahu saya, “Sesudah Gus Dur dan Mega, apa lagi Kartu Reformasimu?”
Di bawahnya tertera, “Masyarakat Padang Bulan Merdeka.” “Kita ucapkan selamat atas Indonesia yang baru. Padang Bulan ingin membantu, minimal tidak ngerepotin, tidak mengharapkan apa-apa, tidak meminta atau memimpikan serta tidak kaget oleh apa pun yang dialaminya.”
Pada bagian bawah, tercantum beberapa judul rubrik tulisan: “Padang Bulan (Pengajian Komplit, ‘liar’, merdeka, mesra, hijrah), Al-Muhammady (Pendidikan Manusia dan Masyarakat), HAMAS (Jaringan dan Gelombang Semangat Cinta), Pengajian Tombo Ati (Antara Ilmu Sekolah & Ilmu Kehidupan), Haflah Shalawat (Rakyat Kecil Bernyanyi & Kenduri), Kiai Kanjeng (Asyik, Barokah, Aman Dunia Akhirat), Ibu-Ibu Havara (Jamaah Ekonomi Orang Kecil), Penerbit Zaituna (Khusus buku-buku dan Gudang Tulisan Emha), Pondok Zaituna (Anak-anak menjadi tidak yatim), Adiba (Sanggar Produksi Budaya).
Saya menduga majalah itu terbit tahun 1999 — setahun sebelum saya lahir. Dugaan itu saya yakini dari tulisan kecil berwarna putih di kover bagian belakang: Nomor I/1999.

Tiba-tiba, saya merasakan ada getaran yang aneh sekaligus menghangatkan jiwa pikiran. Seakan waktu melipat dirinya sendiri, mempertemukan masa lalu dan masa depan dalam satu ruang masa kini.
—
Poros Bangkalan–Jombang–Jogja
Sejak siang hingga menjelang tengah malam, kami melanjutkan obrolan panjang. Selain “menuntaskan” janji silaturahim dengan Bintang—nama lengkapnya Mohammad Bintang Hadiansyah Pahlevi—kami juga menapaktilasi Allahu Yarham Mbah Fuad, sekaligus mendiskusikan “warisan” simbolik dari Syaikhona Kholil Bangkalan yang diberikan kepada murid-muridnya. Pisang kepada Mbah Romly Tamim Njoso Peterongan Jombang. Kitab kepada Mbah Ahmad Dahlan Yogyakarta dan Mbah Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang. Berikutnya adalah Cincin, yang diberikan kepada Mbah Imam Zahid Menturo Sumobito Jombang.
Tiga warisan itu seperti poros Bangkalan–Jombang–Jogja, yang mengalirkan percikan hikmah sinar-sinar keilmuan. Tadabbur ini dalam rangka bentuk ikhtiar saya untuk Ngreksa Wasita Sinandhi.
Nikmatnya silaturahim dengan Bintang terasa semakin mendalam. Kami menyadari bahwa akar perjalanan kami ternyata saling beririsan. Dulu sempat hampir berjumpa di Silatnas Yogyakarta, November 2024, namun belum saling mengenal. Karena itu, kami belum ditakdirkan untuk bertegur sapa. Belakangan ini baru saya tahu, ternyata Bintang juga pernah mondok di Tebuireng. Sementara saya sendiri di Njoso. Seolah jejak warisan Bangkalan mempertemukan kami di dua pesantren yang berlokasi di Jombang.
—
Roh-roh yang Berbaris
Sebelum tulisan ini ditutup, saya merasakan derasnya nikmat bertahaduts bin ni’mah. Ada semacam aliran kesegaran nikmat batin yang makin meneguhkan keyakinan saya, bahwa tak ada pertemuan yang benar-benar kebetulan. Semua yang terjadi, sejatinya telah digaris-takdirkan oleh-Nya.
Dalam proses menyusun tulisan ini, saya sempat mengirim pesan kepada Gus Alhas, yang menjembatan awal pertemuan kami. “Itu betul namanya Bintang, ya, Gus?” (sambil mengirim tangkapan layar Google Scholar-nya). Foto hasil tangkapan layar itu saya kirim untuk memastikan nama lengkap Bintang sudah benar atau tidak.
Beliau menjawab, “Betul, Mas Feb. Gathuk tenan, ya, sesama pe-laku Maiyah.”
Kemudian saya balas begini, “Heuheu, alhamdulillah menjadi kenikmatan batin tersendiri. Mumpung pengen nulis hasil pertemuan dan diskusi wingi, langsung tak lanjut ngetik wae.”
Balasan singkat dari beliau menutup percakapan kami pagi ini, Selasa 11 November 2025. “Jossss Mas Feb. الأرواح جنود مجندة.” Kalimat berbahasa Arab yang itu berarti, “Roh-roh itu laksana pasukan yang berbaris.” Dalam hadis Nabi ﷺ disebutkan, “Roh-roh itu bagaikan pasukan yang berbaris; yang saling mengenal akan saling akrab, dan yang tidak saling mengenal akan saling menjauh.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Bahwa, ada semacam getaran batiniah antara jiwa-jiwa manusia: yang seirama akan mudah saling tertarik, yang tak sefrekuensi akan sulit menyatu. Itulah upaya tadabbur saya dalam meng-iqra’i pengalaman ini.
Dan, tiba-tiba saja saya kembali teringat Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton Gresik edisi ke-82, Sabtu, 6 November 2023, bertema “Cinta yang Sungguh-sungguh.” Dalam catatan liputan saat itu, saya menulis judulnya begini: “Cinta yang Sungguh-sungguh, Seperti Cahaya yang Nyata.” (Selengkapnya bisa dibaca di https://assets.mymaiyah.id/cinta-yang-sungguh-sungguh-seperti-cahaya-yang-nyata/). Cahaya itu, barangkali, kini sedang saya tapaki. Dalam perjalanan, momen-momen pertemuan, dan kebetulan yang tidak bisa saya anggap sebagai kebetulan tanpa makna.








