Sabtu malam, 29 Agustus 2026, langit di atas OTES (Omah Tengah Sawah) tampak begitu terang. Bulan purnama menggantung sempurna, menyinari jalan-jalan desa yang sedang ramai oleh suasana perayaan kemerdekaan. Di berbagai sudut kampung terdengar suara latihan karnaval, musik yang mengalun dari kejauhan, serta hiruk-pikuk anak muda yang mempersiapkan perayaan desa mereka masing-masing.
Menariknya, hampir semua jamaah yang hadir malam itu memiliki cerita perjalanan yang serupa. Beberapa harus memutar jalan karena akses menuju lokasi tertutup kegiatan karnaval dan keramaian warga. Namun sebagaimana perjalanan hidup yang sering kali tidak selalu lurus, jalan memutar itu justru menjadi pembuka obrolan hangat ketika para jamaah mulai berkumpul di OTES.
Sekitar sebelas jamaah hadir dalam Sinau Bareng Sulthon Penanggungan edisi Agustus 2026 yang mengangkat tema “Tirai Cahaya.” Dengan suasana yang sederhana dan penuh keakraban, forum kembali menjadi ruang bertemunya berbagai pengalaman, pertanyaan, dan pencarian makna hidup.
Acara diawali dengan tawashshul yang dipimpin oleh Cak Taufiq, dilanjutkan pembacaan Surat Ar-Rahman oleh Cak Rochim. Lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang mengalir lembut membawa suasana menjadi lebih tenang. Setelah itu, Sholawat Banjari dari para pegiat Sulthon Penanggungan menghidupkan malam dengan nuansa cinta kepada Rasulullah SAW.
Dalam pengantar acara disampaikan sebuah pertanyaan yang menjadi pintu masuk tema malam itu: ”Apakah tirai ini menjadi penghalang masuknya cahaya, atau justru pelindung dari cahaya yang terlalu terang?”
Pertanyaan tersebut segera memantik rasa ingin tahu jamaah. Sebab tidak semua yang tampak terang selalu membawa keselamatan, sebagaimana tidak semua penghalang berarti keburukan. Kadang manusia perlu belajar memahami bahwa dalam kehidupan terdapat lapisan-lapisan yang tidak selalu mudah dibaca secara hitam dan putih.
Materi pengantar disampaikan oleh Mas Juned. Beliau mengajak jamaah untuk senantiasa waspada terhadap segala sesuatu yang terjadi dalam hidup. Menurutnya, manusia sering kali merasa aman ketika sedang berada dalam kondisi baik, padahal justru pada saat itulah kewaspadaan paling dibutuhkan.

Berbuat baik, memiliki kemudahan rezeki, mendapatkan berbagai keberhasilan, atau memperoleh penghormatan dari orang lain belum tentu otomatis menjadi tanda bahwa seseorang sedang berada di jalan yang benar. Semua itu masih perlu ditimbang dengan kondisi hati dan kualitas hubungan seseorang dengan Allah.
Diskusi kemudian berkembang pada pembahasan mengenai tiga hal yang sering kali sulit dibedakan: ujian, peringatan, dan istidraj.
Jamaah bersama-sama mencoba menggali korelasi di antara ketiganya. Ujian dipahami sebagai sarana pendidikan dari Allah untuk menaikkan kualitas diri manusia. Peringatan dipahami sebagai bentuk kasih sayang Allah agar manusia segera kembali ketika mulai menyimpang. Sedangkan istidraj menjadi tema yang paling banyak menyita perhatian malam itu.
Berbagai pandangan dan literasi saling melengkapi satu sama lain. Diskusi berlangsung sangat hidup, bahkan beberapa kali berubah menjadi perdebatan yang sehat. Namun seperti tradisi Maiyah yang selama ini dijaga, perbedaan pendapat tidak menjadi alasan untuk saling menjatuhkan. Sebaliknya, justru menjadi sarana memperluas sudut pandang.
Salah satu pertanyaan yang paling menarik disampaikan oleh Cak Umar: ”Bagaimana menemukan parameter bahwa istidraj sedang melanda manusia?”
Pertanyaan tersebut menghadirkan pembahasan yang cukup mendalam. Salah satu jawaban yang mengemuka adalah bahwa manusia perlu melihat keluaran atau dampak dari seluruh laku hidupnya. Selama seseorang masih menghasilkan manfaat bagi sesama, semakin sadar akan kehadiran Allah, dan terus menjaga niat untuk kembali kepada-Nya, maka kemungkinan istidraj menjadi semakin kecil.
Selain itu, ketenangan jiwa juga menjadi salah satu indikator yang penting. Bukan ketenangan karena merasa memiliki segalanya, melainkan ketenangan yang lahir dari sikap pasrah dan bersandar kepada Allah. Sebab ukuran sejati dari ketenangan bukanlah banyaknya fasilitas hidup, melainkan kemampuan melepaskan segala sesuatu kepada kehendak-Nya.
Di sela-sela diskusi yang cukup serius, suasana kembali mencair ketika Cak Sule mengisi jeda dengan membawakan lagu-lagu Bang Haji Rhoma Irama. Jamaah yang sebelumnya tenggelam dalam pembahasan yang berat kembali tersenyum dan menikmati kebersamaan malam itu.
Tanpa terasa waktu terus berjalan. Satu gagasan memancing gagasan lainnya. Satu pendapat mengundang tanggapan berikutnya. Literasi yang saling dipertukarkan membuat forum mengalir begitu alami hingga melewati pergantian hari. Tidak terasa jarum jam telah menunjukkan pukul 00.30 WIB sebagai penanda acara maiyahan segera diakhiri.
Menjelang akhir acara, Cak Sule melantunkan wirid Hasbunallah, kemudian doa dipimpin oleh Cak Taufiq. Setelah sesi foto bersama, jamaah belum langsung beranjak pulang. Obrolan ringan masih berlanjut, mulai dari agenda rutin internal Sulthon Penanggungan hingga berbagai isu sosial dan dinamika perayaan kemerdekaan di lingkungan desa masing-masing.
Malam itu meninggalkan pelajaran yang berharga. Bahwa kehidupan tidak selalu menampilkan tanda-tanda yang mudah dibaca. Kadang yang terlihat sebagai nikmat bisa menjadi ujian. Kadang yang terasa berat justru menjadi bentuk kasih sayang Allah. Karena itu, kewaspadaan menjadi bekal penting dalam menjalani kehidupan yang terus bergerak dan berubah.
Kalimat yang paling membekas malam itu adalah bahwa kewaspadaan menjadi kunci, namun adaptasi terhadap kehidupan yang dinamis juga merupakan bagian dari kebijaksanaan.
Semoga setiap langkah yang kita tempuh tidak hanya membawa kita menuju keberhasilan duniawi, tetapi juga semakin mendekatkan hati kepada Allah SWT. Sebab pada akhirnya, yang paling penting bukanlah seberapa terang cahaya yang kita lihat, melainkan apakah cahaya itu benar-benar menuntun kita pulang kepada-Nya.
#Redaksi_SP








