Perjalanan 20 tahun Bangbang Wetan menandakan bahwa perjuangan Bangbang Wetan tidaklah mudah. Cahaya (menemukan solusi permasalahan masyarakat dengan Sinau Bareng) yang harus diperjuangkan pun semakin beragam. Pada milad kali ini, di depan Plaza Internatio, Kota Lama Surabaya, Bangbang Wetan merayakan perjalanan itu dengan tajuk “Harmoni Cahaya”.
Resepsi milad Bangbang Wetan dipersiapkan dengan matang jauh-jauh hari. Para penggiat dan volunter semakin sering bertemu merumuskan dan memtangkan persiapan, ketika hari-H semakin dekat. Kesediaan meluangkan waktu dan tenaga sebagai bentuk komitmen kerja supaya optimal.
Milad Bangbang Wetan kali ini durasi acaranya lebih panjang daripada rutinan setiap bulannya. Acara dimulai lebih awal pukul 15.00 WIB, dan selesai menjelang pukul 00.00 WIB. Acara yang durasinya tak seperti biasanya ini mengisyaratkan panitia untuk pandai mengatur tenaga, pikiran dan mental.

Kebahagiaan Menyambut Senja
Pukul 15.00 WIB, Mas Ajib dan Mas Wildan, membuka acara dengan nderes Al-Qur’an Surat An-Nur. Sebelum nderes, Mas Ajib bertawasul surat Al-Fatihah untuk para leluhur, sesepuh, dan pejuang Maiyah dan Bangbang Wetan yang sudah mendahului kita. Terpilihnya Surat An-Nur lahir dari tadabbur tim nderes supaya Allah menganugerahkan cahaya yang sesuai arti harfiah nama suratnya. Harapan kami supaya acara milad Bangbang Wetan berjalan lancar dan sukses.
Setelah khusyuk mendengarkan mendaras Mas Ajib dan Mas Wildan, acara dilanjutkan dengan bincang-bincang pemuda bersama Better Youth, dengan Ustaz Zeyn sebagai pengasuhnya. Ustaz Zeyn ini sering menjadi narasumber di rutinan Bangbang Wetan. Ustaz Zeyn sore itu hadir dengan teman dan saudaranya dari Better Youth untuk berbagi pengalaman perihal perjalanan spiritual seorang pemuda.
Milad kali ini terdiri dari beragam acara yang dimulai dari nderes, diteruskan bincang-bincang soal spiritualitasme, kemudian bertransisi pada penampilan grup band Melanoice. Beberapa nomor lagu yang meteka suguhman menggetarkan semangat penonton dan penampil. Permainan musik dan pembawaan lirik lagus sarat makna mampu membuat jamaah yang hadir secara spontan menggerakkan badan dengan ringan, seperti belaian mesra angin pada pohon.
Acara sore itu semakin memuncak kegembiraannya ketika grup ludruk The LUNTAS tampil. Penampilan Cak Robert dan Cak Ipul sore itu tak henti mengundang tawa penonton dari awal sampai akhir penampilannya.
Cak Robert dan Cak Ipul merupakan penampil terakhir acara sesi sore, dan menjadi penutup senja yang indah bagi para jamaah. Setelah itu jeda salat Magrib.

Sholawat di Antara Dua Azan
Azan Magrib berkumandang. Para jamaah, panitia, dan beberapa penampila istirahat sejenak untuk bersalat Magrib. Sementara itu, para kru sound system menata mikrofon dan mempersiapkan panggung untuk rangkaian acara selanjutnya.
Setelah jeda salat Maghrib, grup hadrah Alhamdulillah tampil dengan beberapa nomor salawat dan tembang-tembang Jawa: Tombo Ati, Sluku Bathok, dan Ilir-Ilir. Jamaah malam itu ikut bersalawat dengan khusyuk sampai puncak penampilan Hadrah Alhamdulillah yang ditandai dengan prosesi Indal Qiyam.
Lantunan salawat dari grup hadrah Alhamdulillah selesai tepat ketika azan Isya berkumandang. Jamaah semakin memadati tempat di sekitar taman depan Plaza Internatio, Kota Lama Surabaya. Sisi samping panggung pun mulai terisi. Semakin padatnya jamaah yang datang menjadi pemicu panitia untuk segera memulai acara acara inti sesuai susunan acara yang dirancang dengan matang.

Prosesi Syukur Dua Dekade Bangbangwetan
Pukul 19.15, Mas Yasin dan Mas Jembar menyapa para jamaah yang sudah memadati lingkungan Kota Lama Surabaya. Mas Yasin mengungkapkan bahwa dari 2006 sampai 2026 tidak pada lamanya perjalanan, tapi pada wujud dari upaya Bangbang Wetan selama 20 tahun mencahayai sekitarnya, khususnya Surabaya.
Mas Jembar juga membuka dengan beberapa kalimat pengingat, doa dan ikrar bersama yang dibuat oleh Mbah Nun, yang senantiasa dipasang setiap bulan ketika rutinan berlangsung. Beberapa kalimat itu antara lain: Matahari memancar dari timur; yang dinanti-nanti akan muncul dari timur; orang-orang perlu berkumpul di timur; untuk menguak rahasia, bangun bersama dari tidur.
Dua ungkapan dari kedua moderator itu membuat mereka berdua dan tampak wajah jamaah semakin bersemangat menyambut sesi inti proses milad dua dekade Bangbang Wetan. Sebelum sesi bersama Mas Sabrang dan Letto Band, dan Abah Kartolo, legenda ludruk Surabaya, hadir ke atas panggung. Beliau berpesan untuk menguatkan akar cinta kita kepada Maiyah dan Bangbang Wetan secara khusus.
Selain sesi bincang awal bersama Abah Kartolo, tak kalah menarik sesi berikutnya bersama para sesepuh Bangbang Wetan yang menjadi saksi hidup perjalanan Bangbang Wetan dari lahir sampai sekarang.
Hadir pada sesi tersebut Pak Darmaji, Pak Dudung, Cak Ruud Blora, Mas Aminullah, dan Mas Diki selaku Sekjen Bangbang Wetan yang sekaligus mewakili para panitia yang bertugas. Semakin indah forum melingkar bersama sesepuh itu ketika dibersamai oleh Pak Pram, perwakilan dari Padhangmbulan Jombang, yang turut mensyukuri dua dekade Bangbang Wetan ini.

Mas Diki mengawali sesi bersama sesepuh itu dengan mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang mendukung terlaksananya acara, dan tak lupa juga kepada jamaah Maiyah se-Indonesia yang ikut bantingan, baik secara online maupun offline. Malam itu, Mas Diki mentadabburi bahwa acara dua dekade Bangbang Wetan bertajuk “Harmoni Cahaya” ini adalah takdir dari Allah. Mas Diki bersama para panitia hanya menjalankan takdir yang sudah dititahkan dan diamanahkan oleh Allah sampai acara dapat terlaksana malam itu.
Setelah Mas Diki, Mas Amin pun turut mengatakan bahwa dalam acara ini perasaannya bercampur, ada sedih dan ada gembira. Mas Amin sedih karena Mbah Nun masih istirahat dan puasa sehingga tak bisa hadir menemani kita malam itu, sedangkan alasan bergembiranya adalah Bangbang Wetan sudah 20 tahun mampu memberikan manfaat dan harmoni cahaya bagi Surabaya.
Setelah Mas Amin, moderator mengalirkan mikorofon kepada para sesepuh atau saksi lahirnya Bangbang Wetan yang berbagi soal sejarah atau akar lahirnya forum pencerahan Bangbang Wetan.
Pak Dudung mengatakan bahwa beliau bahagia malam ini karena bisa melewati dan mengantarkan Bangbang Wetan mencapai umur ke-20 tahun dengan melewati dinamika dan rintangan yang luar biasa. Pak Dudung juga bersyukur teman-teman penggiat masih gigih, dan tangguh mempertahankan forum ini.
Pak Dudung mengajak jamaah semua yang hadir untuk bertwasul surat Al-Fatihah kepada para pejuang Maiyah dan Bangbang Wetan yang sudah mendahului kita, seperti almarhum Cak Mitro, almarhum Pak Fathur Rozi, almarhum Cak Priyo Aljabar, dan semua sesepuh yang turut andil dalam lahirnya forum Bangbang Wetan.

Setelah kirim doa itu, Pak Darmaji turut bersyukur dengan rasa takjub, dengan ungkapan, “Kok moro-moro wis 20 tahun,”. Pak Darmaji merasa seperti baru saja kita rapat di MPM Simpang Dukuh, Genteng Kali, Surabaya, tak terasa sekarang sudah berusia 20 tahun. Pak Darmaji juga sedikit menegaskan bahwa di Bangbang Wetan beliau “kulakan” kerendahhatian yang kemudian akan disebarkan kepada mahasiswa-mahasiswanya di ITS sebagai dosen.
Mik bergulir ke Cak Ruud yang pada saat itu datang jauh-jauh dari Blora. Cak Ruud bercerita bahwa dulu Mbah Nun menamai Bangbang Wetan dari sebuah istilah umum, yaitu “abang-abang teko wetan”. Sinar yang mencahayai setelah diterpa oleh kegelapan. Cak Ruud juga mengatakan bahwa makna “bang” sendiri berarti sembahyang, yang mana Bangbang Wetan adalah forum yang mengajak kita sembahyang. Bukan hanya sembahyang yang mahda, tetapi juga muamalah kepada sesama manusia.
Sebagai penutup sesi melingkar bersama para sesepuh itu, Pak Pram, perwakilan Padhangmbulan, bersyukur atas milad ke-20 tahun ini. Pak Pram menegaskan bahwa kedatangannya ke sini untuk berterima kasih karena selama ini Bangbang Wetan juga turut membantu Padhangmbulan setiap rutinan. Pak pram mengajak bersama sama sekuat mungkin menghimpun nafas panjang untuk merawat maiyah.
Abah Kartolo pun ikut tahaddust binni’mah. Sebelum menampilkan persembahan milad Bangbang Wetan, Abah Kartolo bercerita tentang pengalamannya diajak Mbah Nun Maiyahan sampai jam 3 pagi. “Sampek geger koyok nang mburi”, kelakarnya. Abah Kartolo pun mendoakan semoga di dua dekade ini Bangbang Wetan semakin sukses dan jaya.

Harmoni Cahaya Bersama Letto
Membuka penampilan Letto Band, Mas Sabrang mengucapkan selamat karena Bangbang Wetan sudah bertahan selama ini dengan situasi yang tidak mudah. Ada yang memberatkan dari dalam maupun dari luar, memang itulah situasinya. “Seng sabar yo, cah” ,pesannya. Berikutnya, Mas Sabrang dan Letto membuka penampilan dengan “Permintaan Hati”, “Senyumanmu”, dan “Sandaran Hati”.
Pada jeda penampilan beberapa nomor Letto, Mas Sabrang menegaskan kembali bahwa 20 tahun Bangbang Wetan selama ini adalah tempat ngudo roso dan tempat hati mengetahui ke mana harus tetap bersandar kepada yang sejati.
Setelah penampilan pembuka Letto, waktunya Abah Kartolo untuk melakukan persembahan cinta milad dua dekade Bangbang Wetan dengan kidungan dan lawakan bersama istri (Ning Tini), dan anaknya. Saat Abah Kartolo ngidung, ingatan penulis seperti dibawa kembali pada masa ketika Bangbang Wetan merayakan milad ke-12 di Balai Pemuda. Waktu itu, Abah Kartolo ngidung di depan Mbah Nun, dan pada milad dua dekade ini Abah Kartolo tampil kembali tidak ditemani Mbah Nun, tetapi ditemani Mas Sabrang.
Tidak cukup dengan kidungan, Abah Kartolo dan keluarganya juga mempersembahkan lawakan khas ludruk yang sarat makma tentang persaudaraan. Menurut beliau, Bagaimana kita hidup tidak bisa sendiri dan sudah pasti membutuhkan orang lain. Maka, penting untuk menjaga seduluran selawase agar kita bisa hidup bersama dan memberikan manfaat bersama.
Setelah pertunjukan Abah Kartolo, Gus Miftah yang sering meenjadi narasumber rutinan Bangbang Wetan ikut melengkapi ungkapan milad Bangbang Wetan. Beliau mengatakan bahwa usia 20 adalah usia transisi menuju 21 tahun. Orang dahulu memaknai umur 21 sebagai selikur (lingguh kursi), artinya sudah memiliki tujuan dan arah hidupnya di dunia. Beliau berharap di usia menuju 21 tahun ini Bangbang Wetan semakin mantap dan matang tujuannya untuk mencahayai sekelilingnya.

Setelah Gus Miftah, Mas Sabrang mengajak untuk kita Sinau Bareng. Dimulai dari sesi tanya jawab, dengan penampilan beberapa nomor Letto di setiap jeda sesinya. Alhasil, moderator langsung membuka sesi tanya jawab bagi jamaah yang ingin bertanya atau sekadar mengucap syukur atas 20 tahun Bangbang Wetan.
Pertanyaan pertama datang dari Mas Luqman. Pertanyaannya adalah bagaimana kita menjadi cahaya tanpa menyakiti orang lain?
Mas Sabrang menjawab bahwa untuk menjadi baik, coba dulu tidak berbuat jahat. Kadang kita merasa harus memberikan cahaya, entah dalam bentuk pencerahan atau komentar di media sosial, yang kita sadari sebagai upaya menyebarkan cahaya. Padahal, belum tentu semua orang setuju dan rela dengan komentar kita. Maka dari itu, awal untuk menjadi baik adalah memeriksa dulu diri sendiri, apakah apa yang kita berikan mampu diterima oleh semua orang.
Pertanyaan selanjutnya datang dari Mas Ari Wibowo yang mempertanyakan apakah Mas Sabrang tidak terbalik ketika mengatakan Indonesia menuju cahaya di tengah kondisi saat ini?
Mas Sabrang mengatakan bahwa beliau tidak setuju ketika ada ungkapan soal Indonesia gelap. Sebab, masih banyak rakyat Indonesia yang “tenanan” dan berani tandang. Maka, Mas Sabrang mengubah retorika tersebut menjadi “Indonesia sebelum cahaya”. Bedanya, “Indonesia gelap” tidak mengandung optimisme, tetapi “sebelum cahaya” memperlihatkan kepada kita sebuah harapan bahwa sesuatu yang baru akan muncul.
Di sela-sela pertanyaan tersebut, Mas Sabrang menyelipkan beberapa nomor Letto. Sesi tanya jawab kemudian dibuka kembali. Pada malam itu, banyak penanya yang baru mengikuti Bangbang Wetan, baru merasakan Maiyahan, dan mencoba langsung mencicipi panggung Bangbang Wetan dengan bertanya.

Salah satu penanya yang baru mengikuti Maiyahan adalah Zahra dan Nara. Zahra bertanya soal visi-misi Mas Sabrang dalam hidup, lalu disambung dengan pertanyaan Nara soal bagaimana tujuan manusia yang manusiawi tanpa menyalahkan orang lain.
Mas Sabrang membeberkan tujuan hidupnya dengan menyatakan bahwa yang paling pasti dalam hidup adalah mati. Jadi, visi-misi hidup Mas Sabrang adalah mengisi waktu kosong sebelum mati dengan kemanfaatan. Dan untuk menjadi manusia yang manusiawi, Mas Sabrang memberi resep bahwa tentukan hakim dalam hidupmu. Sehingga, kamu bisa benar tanpa menyalahkan orang lain. Dengan begitu, kamu bisa berdaulat atas dirimu sendiri.
Dan sampai pada pertanyaan terakhir dari Mbak Aulia yang merasa bahwa banyak yang berbuat jahat kepadanya dan hatinya sulit untuk memaafkan. Sudah berdoa dan berikhtiar melupakan, namun masih saja banyak yang berbuat jahat dan hatinya tidak bisa memaafkan.
Mas Sabrang menjawab bahwa itu adalah cara Tuhan untuk ingin selalu dekat dengan Mbak Aulia. Semakin dijahati, semakin banyak berdoa, semakin dekat dengan Tuhan. Hal itu patut disyukuri. Semakin kamu dijahati, semakin kuat imanmu dan semakin tinggi derajatmu di mata Tuhan. “Nikmati dan syukuri,” , tutup Mas Sabrang.
Setelah menjawab, Mas Sabrang menutup resepsi Harmoni Cahaya dengan lagu “Sebelum Cahaya”, seraya berdoa semoga Bangbang Wetan terjaga hidupnya dan selalu berjuang untuk mencahayai orang-orang di sekelilingnya.
Nomor dari Mbah Nun dan KiaiKanjeng, Shohibu Baiti, doa Gus Miftah, dan gema “Kun Fayakun” menjadi sajian penutup persembahan milad dua dekade Bangbang Wetan. Para jamaah pulang dengan tertib dan khusyuk. Mereka bersiap menata kembali niat dan semangat untuk bersama-sama mengharmonikan cahaya di rutinan Bangbang Wetan selanjutnya. Suwun, rek. Semburat.







