TEKNOLOGI MEMAKSA PERUBAHAN TATANAN

Mengakhiri perbincangan dengan Yai Helmi malam kemaren, tersisa beberapa PR yang masih terngiang di benak saya. Apa yang kita bincangkan tempo hari menyangkut kemajuan teknologi dan bagaimana kita menyikapinya. Kemajuan yang berhubungan dengan perilaku manusia yang terdampak  teknologi di seluruh jagat.

Perbincangan kami cukup serius dan menggebu-gebu dengan ditemani putri mbarep-nya yang setia mengikuti pembicaraan kami. 

Bermula dari percakapan sederhana menyangkut berita-berita yang berseliweran di media sosial. Mulai dari kejahatan yang (dengan bangganya) di-upload di medsos, kegiatan bagi-bagi yang juga selfi, sampai kegiatan mempertontonkan kepunyaan seseorang seperti tas atau barang-barang (mewah). Barang-barang mewah yang disoroti netizen seperti jam tangan, sepatu, tas, baju bahkan sampai cincin yang dipakai oleh segolongan masyarakat tertentu tersebut. 

Maka netizen pun membuat analisis sebagaimana seorang ahli ekonomi yang menganalisis bagaimana latar belakang pekerjaan mereka, apa jabatannya, kira-kira berapa gajinya, berapa tahun dia menjabat di posisi itu, sampai penghasilan yang menurut para netizen tidak masuk akal. 

Misalnya gini, bapak RAT adalah kepala bagian di instansi Belasting di kota Ababil, negeri Wakanda. Menurut posisinya dia berpenghasilan maksimal 40 juta sebulan. Tetapi kekayaannya jauh melampaui kewajarannya sebagai kepala bagian di Instansi Belasting. Rumahnya ada beberapa, di kota ini ada sekian, di kota lain ada sekian, luasnya sekian. Punya resto yang beratas nama isterinya, mogenya ada beberapa, model A, model B dst. Mobil (mewah)-nya ada sekian. Merk ini merk itu. 

Kesemuanya itu kalau ditaksir dan dijumlah menjadi sekian ratus miliar!! Fantastisch! Demikian analisis dari netizen yang ‘menguliti’ satu sosok pejabat menengah beserta keluarganya yang menyangkut gaya hidup kemewahannya. 

Seorang guru besar di bidang ekonomi dalam sebuah bincang-bincang yang saya temui di sebuah kanal Youtube mengomentari hal itu seperti ini: “Orang seperti itu pandai dalam menyimpan harta/uang yang selama ini dia dapatkan dengan cara apapun. Tetapi dia tak pandai dalam membelanjakannya.”

Barangkali maksudnya adalah pandai dalam mencari dan menyembunyikannya, tetapi tak bijak dan terlalu vulgar dalam eksistensinya di media sehubungan dengan mengkespresikan kekayaannya. Baik show off  yang dia lakukan  sendiri maupun oleh anak isterinya.

Membicarakan tentang tulisan saya sebelum ini tentang ‘memberi yang juga untuk selfi‘, kami berbincang dengan santai, sambil nyruput teh hangat yang sedap. Perbincangan itu juga memberi ide tentang altruisme yang tak terpisahkan dengan kepentingan. 

“Waduuuh apa lagi yang bernama ‘altruisme‘ itu?” tanya saya. 

Dengan sigap saya membuka kamus besar al-Googliyyah yang akhirnya ketemu bahwa  Altruisme adalah sikap atau naluri untuk memperhatikan dan mengutamakan kepentingan dan kebaikan orang lain. Altruisme berkebalikan dengan sifat egois yang lebih mementingkan diri sendiri.

Kepentingan-kepentingan seorang altruis itu misalnya meliputi kepentingan pencitraan yang dikaitkan dengan kegiatan politik dan berujung untuk menaikkan perolehan suara dalam pemilihan nanti. Citra, Politik dan suara menjadi semacam variabel yang harus diperhitungkan seseorang dalam perannya menjadi seorang yang dermawan. Jadi, altruisme murni itu sebenarnya tak ada. Kalaupun ada jumlahnya sangat sedikit dan hampir tak pernah terekspose oleh media.

Dengan perkembangan teknologi yang ada sekarang ini, makin terasa dorongan-dorongan syahwat untuk memperlihatkan diri di hadapan khalayak/netizen. Barangkali hal ini yang perlu kita sikapi dengan bijak. Bagaimana kita mengontrol syahwat pamer ini sebagai bagian dari ekistensi diri.

Kegiatan pamer ini tidak hanya sebatas pada kegiatan yang ‘positif’ seperti kedermawanan (kegiatan memberi), memberi santunan, memberi ceramah layaknya seorang kiyai, tetapi kegiatan membenci diperihatkan, kegiatan menyiksa sesama divideokan dan diunggah, kegiatan membantai kucing dipamerkan. Apapun kegiatan manusia dipamerkan sebagai bentuk eksistensi mereka.

Akhir 1980-an ada perubahan rumusan politik yang dicanangkan oleh presiden Rusia, Gorbachev, yakni tatanan politik yang terkenal dengan sebutan Perestroika, yaitu gerakan politik untuk reformasi di dalam tubuh partainya. Gerakan ini tak lepas dari sebuah istilah yang disebut ‘Glasnost‘ atau keterbukaan atau setidaknya adalah transparansi. 

Saya tidak sedang gaya-gaya untuk menjadi ahli politik, atau pengamat politik. Tetapi saya sedang mencoba menghubung-hubungkan apakah keterbukaan yang ada dalam tatanan dunia kita ini berwal dari situ. Atau setidaknya berhubungan dengan peristiwa fenomenal itu. Aaah itu cuma angan-angan saya yang banyak salahnya daripada benarnya.

Fiqih perlu rumusan baru tentang hidup di masa medsos ini. Demikian kami merasa dan menutup bincang kita tempo hari.

Iseng saya tengok respons upload tulisan saya di FB, kawan saya, sekaligus guru saya di bidang biologi molekuler bernama Jajah Fachiroh yang meninggalkan komentar cekak aos (pendek) : ‘hancen jamane’ 

Memang sudah jamannya (seperti ini)!

29 Ramadhan 1444 H

Lihat juga

Back to top button