Durmagati adalah tokoh dalam pewayangan Jawa yang dikenal sebagai salah satu dari seratus Korawa, putra-putra Destarata. Ia dikenal dengan wataknya yang jenaka, penuh semangat, dan ceplas-ceplos dalam tutur kata. Namun di balik kelucuannya, Durmagati kerap tampil tanpa pendirian yang kuat—mudah terpengaruh, ikut arus, dan lebih suka menyesuaikan diri dengan opini mayoritas daripada berdiri di atas prinsip. Sifatnya yang demikian menjadikannya sosok yang menghibur, tetapi juga mencerminkan kerapuhan moral saat dihadapkan pada pilihan yang menguji integritas.
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kau ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya. (Al-Isra’: 36)
Di tengah hiruk-pikuk zaman sekarang, sifat Durmagati ternyata masih sangat relevan. Di era informasi yang deras dan opini yang mudah menyebar melalui media sosial, banyak manusia modern justru menyerupai Durmagati—cepat berkomentar, vokal menyuarakan pendapat, namun sering kali tanpa dasar pemikiran yang matang atau keteguhan hati. Mereka mudah terbawa arus, ikut-ikutan, dan kehilangan kemampuan untuk berdiri secara kritis. Fenomena ini menciptakan masyarakat yang ramai, tetapi hampa makna; lantang, tetapi tanpa arah.
Dalam konteks seperti ini, Mbah Nun sering mengingatkan agar kita tidak menjadi “orang yang gumunan, getunan, kagetan“, yaitu orang yang mudah terguncang, terpancing emosi, dan kehilangan ketenangan hanya karena perkara sesaat. Mbah Nun mengajarkan pentingnya tata hati, kesadaran batin, dan keberanian untuk diam di tengah hiruk-pikuk, agar bisa membedakan mana suara hati dan mana suara keramaian.
Maka dari itu, melalui refleksi atas tokoh Durmagati, kondisi sosial saat ini, dan hikmah dari nasihat Mbah Nun, dapat ditarik bahwa kelucuan dan kecepatan bersuara tidak cukup tanpa landasan batin yang kuat. Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh godaan untuk ikut-ikutan, yang paling dibutuhkan bukanlah suara paling keras, melainkan hati yang paling tenang dan pikiran yang paling jernih. Hanya dengan itu, manusia bisa berdiri utuh sebagai pribadi yang utuh, bukan sekadar bayang-bayang yang ikut menari di dinding zaman. (Redaksi Tembang Pepadhang)








