Selasa(30/6), Majelis Ilmu Bangbang Wetan edisi Juni 2026 terlaksana di halaman kampus STIKOSA-AWS, Nginden Jangkungan, Sukolilo, Surabaya. Suasana halaman kampus dihias lampu-lampu berwarna kuning keemasan yang dirangkai menyambung, membuat desain panggung tanpa atap menjadi menarik di pandangan, dan mengandung kesan nyaman duduk santai di halaman. Suasana halaman kampus seirama dengan tema “Husnudzon Menuju Cahaya”, yang menjadi pemantik Sinau Bareng malam itu. Kehadiran beberapa narasumber dari berbagai latar belakang, dan dibagi menjadi dua sesi, itu terasa lengkap.
Ustadz Ahmad Zayn, CEO Better Youth; Gus Miftah Jauhari, Pengurus PDUF MUI Jawa Timur; dan Mbak Emma Alfa Nadia, Akademisi&Doktor lulusan UNAIR, yang menjadi narasumber sesi pertama. Sedangkan Mas Aminullah, Gubernur Bangbang Wetan; dan Mas Sabrang MDP menjadi narasumber sesi dua. Rasi W, Mahasiswi FISIP UNAIR; dan SuarMarabahaya, juga tak kalah pentingnya menjadi penampil malam itu.
Jamaah Maiyah malam itu banyak yang hadir sebelum adzan Isya berkumandang. Tampak tak sedikit jamaah yang menghampiri stan Pojok Ilmu untuk membeli wedang atau melihat-lihat gelaran merchandise dan berbagai buku yang sebagian besar karya Mbah Nun dan Mbah Fuad. Setelah adzan Isya, jamaah mulai mendekat ke panggung, duduk di tempat yang sudah disiapkan oleh Mas Doni dan kawan-kawan penggiat Bangbang Wetan urusan lapangan dan acara.
Pukul 20.00 WIB, Mas Ajib yang ditemani Wildan membuka acara dengan mendaras Al-Qur’an, bersalawat dan mewiridkan Wirid Maiyah bersama jamaah yang hadir. Pada sesi awal ini jamaah tampak serius dan fokus mengikuti jalannya acara, tak sedikit yang sampai menitikkan air mata.
SuarMarabahaya malam itu menampilkan beberapa nomor andalannya yang memukau jamaah dengan aransemen nada yang khas, melengkapi suasana di setiap nomor yang dibawakan. Penampilan SuarMarabahaya menjadi penanda sesi Sinau Bareng yang pertama dimulai. Ustadz Zayn, Mbak Emma dan Gus Miftah, hadir di atas panggung setelah penampilan SuarMarabahaya.
Respons Jamaah dan Narasumber Terhadap Kondisi yang Dialami Masyarakat Indonesia
Diky Wijaya dan Amin berkolaborasi memandu jalannya sesi Sinau Bareng. Sebelum narasumber memaparkan pandangan dan ilmunya, Diky dan Amin menyapa dan berinteraksi dengan jamaah. Pada kesempatam itu, tak sedikit jamaah yang mengaku baru pertama hadir dan merasa nyaman, setelah sebelumnya banyak mengikuti ilmu Maiyah dari tayangan YouTube, sehingga menamakan dirinya jamaah youtubiyah.
Malam itu, perempuan yang mengenakan baju biru dongker, merasakan dampak kurs USD naik atas Rupiah. Salah satunya pada harga kebutuhan rumah tangganya, terlebih harga kosmetik di marketplace. Ia bersiasat menghadapi krisis dengan membeli barang yang dibutuhkan ketika ada harga promosi. Berbeda dengan jamaah laki-laki yang berambut gondrong dan memakai kopyah Maiyah, yang mengaku tidak ambil pusing terhadap melambungnya harga kebutuhan hidupnya, karena yang terpenting baginya bisa makan setiap hari saja sudah cukup.
Selanjutnya, Ustadz Zayn membuka pemaparannya dengan mengingatkan Jamaah Maiyah, bahwa mereka sudah sejak dulu dipersiapkan oleh Mbah Nun agar tahan di setiap kondisi, dengan menjadi manusia yang tidak mudah kagetan dan gumunan. Cara menempuhnya yaitu berhusnudzon dengan berikhtiar yang terbaik sesuai kemampuannya masing-masing.
Ustadz Zayn malam itu mengajak berikhtiar yang terbaik untuk meneguhkan hati jamaah dalam menghadapi masa krisis ini. Jika kita mengalami kegelapan tidak ada cara lain, menurutnya, selain mendekati sumber cahaya yaitu Allah.
“Cara mendekati Allah sebagai sumber cahaya adalah berhusnudzon yang dibarengi dengan ikhtiar,” pungkasnya
Pemaparan Mbak Emma pada kesempatan berikutnya tak kalah menarik. Jamaah diajak berpikir dengan kerangka logika interpretasi untuk menganalisis setiap kejadian, agar tak salah memaknai, serta tetap dalam koridor berhusnudzon terhadap setiap takdir Allah atas hidup kita. Takdir Allah berupa turunnya hujan menjadi sangat berbeda respons dan sikap masing-masing manusia, tergantung prasangka dan pemaknaan dalam hidupnya.
Orang yang mengadakan hajatan lebih sering berprasangka turunnya hujan sebagai bencana bagi acaranya, sehingga ia membutuhkan pawang hujan untuk mengusirnya dari lokasi hajatan. Berbeda respons dan sikap petani terhadap hujan yang kehadirannya sangat dirindukan dan dinilai berkah untuk mengairi sawah, dan menunjang kebutuhan bercocok tanam.
“Jadi, logika interpretatif-lah yang bisa kita gunakan untuk memandang takdir Allah, supaya kita tetap berhusnudzon di setiap kejadian yang tampak buruk jika dipandang menggunakan logika faktual,” tutupnya
Malam itu, sesi pertama berakhir pada pemaparan Mbak Emma. Mas Aminullah dan Sabrang MDP beranjak dari transit menuju panggung. Pada jeda sesi pertama ke sesi kedua, Rasi W, Mahasiswi FISIP UNAIR, berpuisi membawakan karyanya sendiri berjudul, “Satu Surat untuk Reformasi yang Sedang Mesra-mesranya”. Ia berpuisi dengan suara lantang, tegas dan penuh semangat. Jamaah yang menyimaknya malam itu ikut terhanyut dalam suasana semangat, dan meresponsnya dengan seruan di setiap jeda Rasi membacakan puisinya.
Kehadiran Mas Sabrang MDP yang ditemani Mas Aminullah di atas panggung, secara spontan menjadikan jamaah secara serentak bertepuk tangan. Mas Sabrang membalas tepuk tangan itu dengan senyuman. Rektor Bangbang Wetan malam itu mengenakan kemeja warna putih dengan rambut yang terikat rapi. Sebelum beliau menyampaikan wawasan dan pengetahuan yang mendalam, moderator meminta Gus Miftah menyampaikan pengetahuannya seputar tema, dan kesan pertama kehadirannya di Majelis Ilmu Bangbang Wetan.
Gus Miftah yang mengenakan kemeja dan songkok hitam itu, membuka percakapan dengan menceritakan pengalamannya bertemu Mbah Nun pertama kali di Malang dalam acara sholawatan sekitar tahun 1995. Pengurus MUI Jatim tersebut waktu itu berkeinginan mendalam agar suatu hari nanti bisa bersilaturahmi dengan Mbah Nun. Gus Miftah malam itu merasa keinginannya dikabulkan oleh Allah karena bisa bersilaturahmi dengan Mas Sabrang. Gus Miftah berharap suatu saat Mas Sabrang bisa menjembatani niatnya bersilaturahmi dengan Mbah Nun.
Gus Miftah tak ketinggalan juga menyumbang sudut pandang perihal tema. Menurutnya, sebab dan akibat itu datangnya dari Allah dalam khasanah Asy’Ariyah. Dari sana lahirlah sikap yang merasa tidak bisa dan tidak mempunyai apa-apa di dunia, maka berhusnudzon adalah sikap mutlak seorang hamba untuk bisa dipercaya dan diperkenankan oleh Allah untuk berbuat sesuatu yang terbaik.
Pengurus MUI Jatim itu, melengkapi pemaparannya dengan mengutip kalimat Mbah Nun, yang selalu mengajak jamaah agar senantiasa ridha terhadap ketentuan Allah yang kita alami, supaya Allah kemudian ridha dalam setiap niat baik yang kita lakukan. Menurutnya, pembahasan husnudzon dan ridha sangat mudah dijelaskan di forum Maiyah, sebab Mbah Nun sejak dulu senantiasa mengajarkan kerangka berpikir dari surat Al-Fajr ayat 28: irji’ī ilā rabbiki rāḍiyatam marḍiyyah (Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya).
Gus Miftah terkesan dengan nama Majelis Masyarakat Maiyah, yang menurut pemaknaannya, nama itu lahir dari kesadaran Mbah Nun di majelis ilmu yang utama adalah masyarakat sebagai subyek utama.
“Jamaah Maiyah menurut saya adalah cahaya kecil. Saya beroptimis Jamaah Maiyah mampu menyebarkan nilai-nilai Maiyah termasuk sikap berhusnudzon di tempat masing-masing Jadi, forum Maiyah bukan sedang mencari cahaya tetapi sedang menyebarkan cahaya atau Jamaah Maiyah-lah cahaya itu sendiri, “ tutupnya yang disambut dengan tepuk tangan jamaah.
Mas Aminullah sependapat dengan pemaparan Gus Miftah, bahwa Jamaah Maiyah itulah cahaya yang diharapkan dapat menyebarkan kabar gembira salah satunya adalah sabar (dengan keyakinan pertolongan Allah segera datang) ke tempat masing-masing. Gubernur Bangbang Wetan itu juga menyampaikan intelektual bangsa sebenarnya banyak lahir dari kota Pahlawan Surabaya, sayangnya sepanjang sejarahnya sampai hari ini tak ada yang mencatatnya. Beliau berharap, dari Maiyah-lah bibit-bibit pahlawan mulai dicatat supaya kelak tak kehilangan jejak sejarah untuk dipelajari anak-cucu kita.
Makhluk Beradaptasi untuk Bertahan Hidup
Mikrofon malam itu akhirnya bergulir kepada Mas Sabrang, yang dinantikan wawasan dan pengetahuan mendalamnya oleh jamaah. Beliau diharapkan juga merespons tema dan keadaan krisis yang melanda rakyat Indonesia akhir-akhir ini.
Menurut Marja’ Maiyah berkemeja putih itu, keributan akibat krisis yang melanda Indonesia ini, selain butuh optimisme dan husnudzon untuk melaluinya, kita juga butuh memahami situasi seperti sekarang ini, sebab tidak mudah menyimpulkan pihak mana yang benar dan yang salah.
Mas Sabrang sejak dulu sebenarnya tidak setuju dengan kondisi Indonesia yang dinyatakan gelap. Indonesia sebenarnya bukan gelap, tetapi Indonesia belum mendapatkan cahaya. Tidak ada istilah Indonesia Gelap, yang ada Indonesia Sebelum Cahaya. Menurut Marja’ Maiyah itu, menuju cahaya tidak cukup dengan kegelapan. Kita selama masih hidup di dunia tak bisa secara tiba-tiba menyuruh orang untuk berubah, karena posisi kita di dunia sama, dan isi otak orang berbeda-beda. Berbeda ceritanya jika kita sudah di surga, kita mau meminta cahaya atau apapun saja tinggal minta ke Allah langsung, sebab memang itulah janji Allah di surga bagi hamba-Nya. Sebaliknya, jika di dunia, janji Allah adalah apa yang kita dapatkan itu berasal dari apa yang kita tanam.
Pertanyaannya, Apa yang ikut kita tanam sehingga sampai pada situasi Indonesia seperti sekarang ini? Lantaran Maiyah adalah forum Sinau Bareng, Mas Sabrang berharap, Jamaah Maiyah tidak terbawa angin situasi seperti sekarang ini, tanpa tahu situasi dan akarnya, agar kita tahu ke depan harus bagaimana.
Rektor Bangbang Wetan itu menjelaskan situasi dan akar masalah yang kita hadapi, menggunakan kerangka kerja yang diciptakan oleh Allah. Sebab, kerangka kerja dari Allah itu bisa diamati, dan diambil pelajarannya. Hasilnya adalah kita bisa memahami situasi sekarang, dan paham akan melangkah bagaimana ke depannya. Yang perlu digarisbawahi, masalah sebesar sekarang ini, tidak akan bisa selesai dengan waktu yang singkat, tidak akan mudah menyelesaikannya. Kalau kita mau berpikir, terkadang urusan diri, keluarga, dan sekitar kita lebih penting daripada merasa bertanggung jawab urusan negara.
Pertanyaan kenapa unta tidak ada di Indonesia, menjadi pintu masuk Mas Sabrang untuk menjelaskan kerangka kerja yang diciptakan Tuhan untuk kita maknai dan ambil pelajaran darinya. Unta tidak ada di Indonesia karena lingkungannya tidak tepat terhadap kehidupan unta. Lingkungan yang tepat bagi unta adalah di padang pasir. Perlu diketahui, padang pasir sebagai lingkungan hidup unta lebih dahulu ada, baru kemudian unta ada untuk beradaptasi di sana. Kerangka kerja dari Tuhan itu adalah prinsip: semua makhluk di muka bumi beradaptasi terhadap lingkungan untuk bisa bertahan hidup. Contohnya, unta bisa tidak minum selama tiga hari dan sekali minum bisa lima liter air, itu disebabkan unta harus beradaptasi dengan lingkungan padang pasir.
Perlu kita ketahui, ada lingkungan jenis lain yang dapat memengaruhi perilaku manusia atau makhluk hidup. Contohnya, dalam dunia sepakbola, peraturan kartu kuning, kartu merah dan peraturan lain memengaruhi perilaku pemain sepakbola untuk tidak melakukan tindakan atau pelanggaran seenaknya. Peraturan dibuat sebagai lingkungan bagi yang hidup di dalamnya, agar berperilaku sesuai peraturan tersebut. Dalam negara, UU membuat perilaku semua masyarakat yang hidup di dalamnya berubah.
Cuaca yang Memengaruhi Perilaku Manusia
Selain UU yang tertulis, ada UU yang tidak tertulis yang memengaruhi perilaku orang untuk berubah. Misalnya, dalam hal pelayanan masyarakat, penyalahgunaan jabatan sering terjadi. Petugas akan mempermudah proses seseorang dalam mengurus sesuatu jika disuap, dan mempersulit seseorang yang tak menyuap. Penyalahgunaan kekuatan jabatan itu membuat cuaca baru, yang membuat kita dipaksa untuk beradaptasi terhadap situasi, supaya kita bisa mencapai tujuan yang ingin kita capai dengan semudah dan secepatmungkin.
Lantaran cuaca mengubah perilaku manusia dalam jangka panjang, level pembuat cuaca itu seharusnya adalah wali. Contohnya, bapak sebagai wali anak di keluarga menentukan cuaca seperti apa yang berlangsung di rumah. Bapak yang mudah marah-marah tanpa alasan di rumah, membuat perilaku anak berbeda dengan bapak yang membiasakan berdialog dan mengobrol dengan anak.
Cuaca yang berlangsung di Indonesia dibuat oleh berbagai pihak. Ada kekuatan hukum dengan cuaca yang dibuat oleh UU. Ada cuaca yang dibuat oleh ekonomi, yang tanpa kita sadari membuat orang kaya lebih dihormati daripada orang pintar dan alim. Berbanding terbalik dengan cuaca yang dibuat pesantren yang lebih menghormati orang yang berilmu dan tinggi akhlaknya, daripada orang kaya. Mirisnya, cuaca yang dominan di masyarakat adalah lebih menghormati orang yang kaya.
Cara berpikir yang kita miliki sekarang ini adalah warisan dari cuaca pendahulu kita yang semakin bergeser. Level pembuat cuaca itu seharusnya wali karena harus bisa melihat jangka panjang, sebab cuaca tidak bisa terlihat dampak baik atau buruknya pada saat itu juga. Contohnya, cuaca yang dibangun oleh Allah melalui Dasa Titah kepada Nabi Musa. Pada perintah kedelapan, Allah melarang manusia mencuri karena, menurut pemaknaan Mas Sabrang, mencuri lebih mudah daripada memproduksi. Jika semua orang mencuri dan tidak ada yang memproduksi, populasi di wilayah itu akan mengalami kepunahan. Maka, mencuri itu dilarang, sebab untuk menjaga populasi dan kestabilan produksi.
Cara berpikir yang salah dan terus diwariskan adalah merasa mencuri hanya dosa kecil, padahal ia sedang mewariskan cuaca yang salah. Maka, dibutuhkan penegakan hukum yang tegas bagi pencuri agar tak mewarisi cuaca yang salah, dan tak mengulangi kejadian seperti sekarang ini di kemudian hari.
Bersedia Hidup di Cuaca yang Berbeda
Orang yang bisa bertahan dan menempuh cahaya sesuai harapan adalah orang yang bersedia hidup di cuaca yang berbeda, dari cuaca yang dibentuk oleh lingkungan dan pemerintah. Jika pemerintah tidak bisa menyediakan cuaca yang berbeda, kita buat lingkaran-lingkaran kecil dengan cuaca yang berbeda. Maka, peran Maiyah adalah membuat lingkaran sendiri dengan cuaca yang berbeda dari sekitar.
Mas Sabrang malam itu tidak ingin mengajak Jamaah Maiyah memberontak terhadap pemerintah, tetapi bentuk sikap beliau atas ketidaksetujuan terhadap cuaca yang disediakan pemerintah. Konsep negara dan pemerintah itu ciptaan manusia, sedangkan kita manusia ciptaan Tuhan, maka tidak ada paksaan patuh kepada pemerintah. Kepedulian Mas Sabrang kepada pemerintah lahir dari persetujuan yang beliau warisi sejak lahir. Jika cuaca yang diberikan pemerintah mengarah kepada kehancuran, Mas Sabrang mengajak Jamaah Maiyah sebagai makhluk Tuhan untuk membuat cuaca sendiri.
Sistem Berpikir Dual Loop Change
Orang yang berani berpuasa itu yang dapat mengubah situasi (minimal pada skala komunal). Tanggung jawab jawab kita pada skala keluarga dan sekitar kita. Menjadi miskin tak jadi masalah menurut Mas Sabrang, asalkan kita mempunyai cuaca yang bisa diperjuangkan. Sebab, satu-satunya cara perbaikan untuk Indonesia adalah perubahan cuaca tersebut.
Dalam sistem berpikir ada yang namanya dual loop change, yaitu perubahan itu terjadi ketika ada sistem dengan cuaca baru yang muncul di tengah cuaca buruk yang semakin kacau.
Perlu diketahui, Mas Sabrang malam itu meluruskan persepsi masyarakat yang mengatakan bahwa beliau tidak setuju demo, sebenarnya tidak tepat. Demo itu terjadi karena tidak terjadinya komunikasi. Mas Sabrang bersedia menjadi tenaga ahli DPN-pun agar dapat secara langsung memberi masukan dengan berhadapan langsung dengan pemerintah.
Walaupun sampai perjalanannya masukan Mas Sabrang jarang didengar, karena masukannya tak dianggap sebagai ancaman. Sedangkan dalam cuaca yang dibangun pemerintah lebih mendengar orang yang mengancam dengan demo, daripada Mas Sabrang dan Maiyah yang telah berjalan selama 40 tahun Sinau Bareng sebagai bentuk mencintai Indonesia. Mas Sabrang malam itu bersumpah tak sejengkal pun ingin mengkhianati Mbah Nun yang sangat mencintai Indonesia.
Berbeda dengan cuaca Indonesia, cuaca yang kita bangun dan pertahankan bersama Mbah Nun dan Mas Sabrang selama 40 tahun ini, adalah mencintai Indonesia tanpa pamrih. Kita bersedia Sinau Bareng memikirkan betul bagaimana nasib bangsa dan langkah ke depan, merupakan bentuk cinta tanpa syarat dan pamrih dari Indonesia.
Jamaah Maiyah menurut Mas Sabrang, sedang membangun gelembung kecil di antara cuaca besar yang tidak bersahabat. Mungkin saat ini kita belum saling terikat sebagai sambungan ekonomi, kekuatan hukum, dan kekuatan militer, tetapi jika suatu saat kita menemukan ikatan sambungan itu, kita bisa menjadi subnegara atau negara di dalam negara. Tapi, sebelum hal itu terjadi, Mas Sabrang meminta kepada pemerintah untuk menunjukkan jalan lain untuk bisa mencintai bangsa, karena kita saat ini hanya menjadi bagian dari kerusakan kulateral, yang berasal dari cuaca yang tidak bersahabat.
Mas Sabrang mengingatkan Jamaah Maiyah agar tidak mudah menyalahkan pihak, karena semua pihak merupakan korban cuaca yang terjadi sekarang ini. Sebab, cuaca yang berlangsung sekarang ini dibangun oleh beberapa titik. Sekali lagi, Mas Sabrang dengan jujur menyatakan bahwa banyak Jamaah Maiyah yang sayang kepadanya, mengekspresikan rasa sayangnya dengan berbagai macam cara, terutama pada saat beliau dilantik menjadi Tenaga Ahli DPN. Mas Sabrang tahu betul harus melalui jalan menjadi tenaga ahli itu, karena ia tidak mau berjalan berdasarkan prasangka. Mas Sabrang harus menyaksikan langsung data yang sebenarnya, untuk kemudian bisa berbicara dan menyimpulkan untuk membuat cuaca baru.
Membangun Kembali Kapal Yang Akan Tenggelam
Mas Sabrang mengajak Jamaah Maiyah melihat situasi Indonesia dengan mempelajari Tragedy of The Commons. Menurutnya, kondisi finansial Indonesia tidak pernah keluar dari outlook BBB, sekarang BBB outlook-nya minus. BBB adalah rating finansial yang dibuat oleh di antaranya Moody’s dan S&P, untuk menunjukkan seberapa besar risiko finansial pada sebuah negara.
Kita diajak berwaspada untuk tidak berpikir parsial: yang memandang Indonesia sedang menghancurkan dirinya sendiri, sebab ada peran negara lain yang ikut serta dalam kehancuran Indonesia. Tujuan negara lain menghancurkan Indonesia supaya negara tersebut tidak berkembang besar.
Bentuk perang yang dilakukan negara lain itu bermacam bentuknya: perang fisik, ekonomi, kognitif, informasi, dan seterusnya. Ada serangan ke Indonesia bukan dalam bentuk serangan misil, tetapi serangan ekonomi dengan caranya sendiri. Tetapi karena Indonesia juga rapuh karena sibuk perang dengan dirinya sendiri. Misalnya pada sepakbola, di antara klub masih banyak yang sikut-sikutan, daripada bareng-bareng membangun timnas. Maka, akibatnya kondisi krisis seperti sekarang ini tidak bisa dihindari.
Pada situasi yang tidak mudah seperti sekarang ini, harapan Mas Sabrang, kita bisa lebih bijaksana di dalam menghadapi masalah dan menentukan cara yang tepat untuk melangkah ke depan. Sebab, dua tahun ke depan perjalanan Indonesia mungkin tidak mudah dilalui.
“Mengacu perkataan Mbah Nun, memang tidak semua darah (manusia) bisa diajak berpuasa, tapi jika kita mau berpuasa dan menjaga cuaca akan bersambung sekoci-sekoci yang sebelumnya terpisah. Maiyah harus menjadi sekoci berikutnya, dengan dasar pijakan bahwa kita merasa tidak bisa menyelesaikan masalah Indonesia. Kalau kita menyaksikan ada kapal yang mau tenggelam, kita harus bersedia membuat sekoci agar kita bisa membangun kembali apa yang akan tenggelam ini, ” ajak Mas Sabrang di penghujung pemaparannya.
***
Suarmarabahaya tampil lagi pada penghujung sesi Sinau Bareng sebelum dilanjutkan sesi tanya jawab. Mereka menampilkan beberapa nomor andalannya, salah satunya yang menarik adalah nomor Perahu Retak karya Franky Sahilatua, yang liriknya ditulis oleh Mbah Nun. Mereka memberi pengantar bahwa lagu Perahu Retak tidak sekedar karya lagu biasa, liriknya bisa dijadikan bahan perenungan untuk membaca kondisi yang kita alami sekarang ini.
Konsep Demokrasi Musyawarah untuk Mufakat
Pada sesi tanya jawab, pertanyaan dari Erdogan T, mahasiswa UNAIR asal Pasuruan, tentang sejarah lahirnya Indonesia yang menurutnya kurang keserangkaian jalur sejarah politik (dulu sebelum merdeka model pemerintahan kerajaan, setelah merdeka tiba-tiba menjadi demokrasi). Ia mencari solusi dan cara menentukan sikap dan langkah sebagai generasi penerus membuat cuaca yang tepat.
Pria yang memakai baju kotak-kotak hijau itu juga bertanya tentang perkembangan teknologi blokchain dan AI yang perkembangannya pesat, dan hanya dikuasai segelintir orang. Menurut pengamatannya sekarang, ia berada pada posisi belum paham betul pada teknologi tersebut, tapi dipaksa mengikuti perkembangannya yang sangat pesat. Ia merasa kalah sebelum bertanding soal teknologi oleh segelintir orang yang menguasainya. Ia juga resah minta solusi kepada Mas Sabrang cara tepat menyikapi perkembangan teknologi.
Mas Sabrang merespons konsep demokrasi yang tidak memiliki akar sejarah Indonesia, yang sebenarnya lahir dari founder yang tidak begitu tutup mata untuk meng-copy paste konsep negara yang digunakan di Indonesia. Misalnya, konsep demokrasi “musyawarah untuk mufakat” di Indonesia berbeda dengan konsep demokrasi di negara lain.
Musyawarah untuk mufakat yang ada di sila keempat dari Pancasila, merupakan konsep demokrasi yang berasal dari perkawinan akar sejarah Indonesia. Sayangnya, kita tidak menggunakannya konsep itu pada pemilihan umum, dan untuk berdiskusi supaya terjadi mufakat.
Maka, kemampuan musyawarah untuk mufakat itu perlu diajarkan kepada seluruh rakyat Indonesia. Proses menuju musyawarah untuk mufakat itu sulit ditempuh, sebab budaya yang berlangsung saat ini masih berebut menangnya sendiri dan menyalahkan yang lain.
Menuju musyawarah untuk mufakat membutuhkan kedewasaan diri karena bukan soal menang kalah, tetapi memecahkan masalah dengan menemukan definisi dan akar masalah bersama.
Mas Sabrang setuju dengan keresahan Erdogan tentang Indonesia yang sedang kehilangan jati diri, salah satunya soal konsep gotong-royong. Kita akan merasa menjadi pengkhianat bangsa jika kita sadar bahwa rasa kebangsaan khas Indonesia yaitu gotong-royong, dengan sengaja kita hilangkan dari praktik berbangsa dan bernegara.
Mengubah Cara Menghitung Otomatis Mengubah Strategi Politik
Pada cuaca Indonesia yang saling berebut kemenangan dan kekuasaan dengan menghalalkan segala cara, menurut Mas Sabrang, tidak perlu dilawan dengan demo, yang perlu diubah adalah cara menghitung. Sekarang yang berlangsung di Indonesia untuk menghitung dan memillih pemimpin menggunakan konsep one man one vote, sedangkan algoritma untuk menghitung suara itu ada berbagai macam, salah satunya adalah borda count.
Konsep borda count adalah cara menentukan suara dengan mengurutkan siapa yang kita senangi sampai siapa yang tidak kita senangi, yang masing-masing urutannya mempunyai bobot nilai. Borda count dipakai dalam pemilihan pemain sepakbola terbaik Ballon d’Or. Kesimpulannya, ketika kalkulasi suara kita berubah, perilaku politiknya otomatis berubah. Kalkulasi itu adalah cuaca yang membuat orangnya beradaptasi terhadap cuaca tersebut.
“Tidak perlu memakai cara yang rumit untuk mengubah sistem, cukup dengan mengubah cara menghitung membuat berubah strategi politiknya,” tegas Mas Sabrang.
Strategi Brute Force Melawan Perkembangan Teknologi yang Semakin Cepat
Menjawab pertanyaan tentang perkembangan teknologi, Mas Sabrang menceritakan perjalanan perkembangan teknologi sampai terjadi adaptasi sosial berlangsung sekitar 50-60 tahun. Sedangkan perkembangan teknologi pada 10 tahun terakhir berlangsung sangat cepat.
Contohnya, perkembangan AI pada 2 tahun terakhir mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Perkembangan teknologi yang semakin cepat ini membuat kita sulit melakukan interpolasi, maka yang bisa kita lakukan sekarang adalah strategi brute force, yaitu langsung mengeksekusi atau melakukan setiap cara yang kita punya.
Dengan cara brute force itu, siapa tahu satu dari kita dapat berdampak baik bagi yang lain. Pada kerangka berpikir komunal, kita tidak masalah menjadi korban untuk terus mencoba brute force, asalkan anggota yang lain mendapat manfaatnya. Sebenarnya kekuatan kita sebagai bangsa adalah gotong-royong yang diaplikasikan dalam strategi brute force.
Mas Sabrang mempunyai harapan besar perubahan cuaca Indonesia kepada generasi Z. Sebab, generasi Z sudah mengalami sendiri dampak susahnya hidup, mempunyai cukup informasi untuk merunut ke belakang untuk tahu masalahnya, dan kelak akan menjadi mayoritas untuk menentukan arah selanjutnya nasib bangsa.
Masalahnya adalah generasi tua tidak memberi kesempatan generasi umur 45-55 tahun untuk memegang tampuk kekuasaan, sehingga sekarang mengalami ketertinggalan model sistem pengelolaan negara yang masih memakai cara era tahun 1998, untuk menata keadaan sekarang ini yang berkembang terus.
Hipotesis Mas Sabrang untuk mengganti cuaca Indonesia adalah dengan mencari anak muda yang berusia antara 45-55 tahun untuk memimpin Indonesia tak kurang dari 5 tahun, bukan untuk membangun negara, tetapi untuk menyiapkan sistem ekuilibrium yang baru untuk generasi berikutnya.
Keterputusan pemegang kekuasaan dengan generasi baru membuat Indonesia ketinggalan sistem ekuilibrium sesuai zaman yang sedang berlangsung sekarang. Ketaktersambungan dan kesulitan beradaptasi dengan zaman yang sedang berlangsung membuat Indonesia terlindas dan perlahan punah.
Infrastuktur Kepercayaan yang Mengawinkan Blockchain dengan AI
Kepercayaan satu sama lain menjadi akar masalah dalam suatu kumpulan termasuk di Indonesia. Orang bisa berkumpul karena sama-sama percaya pada sesuatu yang sama. Negara Indonesia seharusnya percaya terhadap proses hukum, karena hal tersebut merupakan infrastuktur dari kepercayaan. Karena untuk memastikan pemerintah adil adalah dengan bersandar kepada UU.
Ketika sandaran UU itu sudah ada, kita kehilangan kepercayaan sebagai suatu komunitas. Pada kondisi sekarang ini kita susah percaya kepada siapa saja. Contohnya, layanan ojek online menjadi infrastuktur kepercayaan antara pengemudi ojek online dengan penumpang. Sebelum ada layanan itu, penumpang dengan pengemudi sering ribut perihal tawar menawar harga kesepakatan, karena di antara keduanya sama-sama tidak ingin dibohongi. Ketika sistem hadir menjadi penengah keduanya, masalah kepercayaan teratasi karena keduanya meyakini sistem tersebut berlaku adil bagi kedua belah pihak.
Masyarakat sebenarnya mencari keadilan dan kepercayaan satu sama lain dalam sebuah negara. Maka, kita harus merinci kembali apa saja infrastuktur kepercayaan selain hukum. Misalnya, blockchain meletakkan kepercayaan kepada algoritma. Tidak menjadi masalah jika berlangsung pada sistem deterministik. Kalau urusan kepercayaan terhadap uang tidak jadi masalah, beda cerita jika urusan manusia, blockchain harus ditemani AI, karena AI yang bisa mengubah deterministik menjadi kognitif, yang bisa menurunkan ambang batas adopsi dari masyarakat.
Mas Sabrang menyetujui bahaya AI jika dikuasai oleh segelentir orang, tetapi perjalanan AI belum selesai sampai di sini. Peran Indonesia seharusnya perang pada ide, untuk melawan perkembangan ide yang dilakukan AI sedemikian cepat.
Pada era kepemimpinan Pak Jokowi, Mas Sabrang sudah mengingatkan risiko media sosial jika pemerintah tidak mengambil langkah yang tepat untuk mengontrolnya, karena perkembangan media sosial termasuk perang kognitif, yang bisa masuk mengontrol perilaku penggunanya di dalam kehidupan sehari-hari tanpa batas.
Erdogan T, malam itu mengonfirmasi ke Mas Sabrang, inisiatifnya membangun koperasi sebagai solusi dari permasalahan ekonomi itu sudah tepat atau ada cara lain. Karena menurutnya koperasi merupakan tiang pancang ekonomi bangsa Indonesia, yang tepat dilaksanakan di Maiyah, yang telah lama melaksanakan ekonomi mandiri.
Mas Sabrang merespons bahwa salah satu maksud Mas Sabrang membuat sekoci baru pada pembahasan sebelumnya, adalah membuat entitas koperasi. Karena dalam satu komunitas ada banyak tali, salah satunya tali ekonomi yang sepengamatan Mas Sabrang belum ada. Selama ini tali ekonomi di Maiyah sebatas infaq jamaaah setiap acara berlangsung, maka tali ekonomi di Maiyah harus ada menurut Mas Sabrang. Tali ekonomi yang paling cocok adalah koperasi.
Sebelum ke sana, Mas Sabrang mengajak Jamaah Maiyah untuk mempelajari dan memahami koperasi Bung Hatta, Mondragon, Mutual Kredit, dst. Mas Sabrang selama ini riset cukup dalam memahami tentang koperasi dan mencari solusi dari sana.
Mas Sabrang memberi peringatan bahwa koperasi tidak bisa hanya didirikan dengan semangat. Sebab, yang paling menjadi masalah dari pengelolaan koperasi adalah governance, risk, and compliance (GRC), yaitu kerangka kerja terpadu yang menyelaraskan tata kelola perusahaan, manajemen risiko, dan kepatuhan terhadap regulasi. Jamaah Maiyah yang jumlahnya banyak harus ada yang bisa menghitung risiko, modeling dan proyeksi. Maka, di sinilah kegunaan AI, yang bisa kita gunakan untuk scaling besar dengan sangat cepat. Yang tak kalah pentingnya juga adalah ada modal awal koperasi.
“Tidak ada yang bisa memprediksi apa yang akan terjadi. Semua kemungkinan dan semua kekhawatiran semua bisa terjadi, yang baik maupun yang buruk. Pada semua yang terjadi risiko terbesar yang pasti adalah mati. Mulai sekarang mulai kita persiapkan untuk mati. Karena orang yang bersiap dan berdamai dengan kematian, tidak ada lagi hal di dunia yang membuatnya takut. Jika kita ingat: Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, sebelum kita mati kita harus siap mati, sehingga kematian dan kesusahan dunia tidak ada yang menakutkan kita, karena sesusah-susahnya pun kita akan kembail ke rangkulan Tuhan dengan membawa cerita yang bisa kita banggakan.” Kalimat penutup Mas Sabrang menandai Sinau Bareng Majelis Ilmu Bangbang Wetan edisi Juni 2026 selesai, dan dipuncaki prosesi indal qiyam yang dipimpin oleh Ajib Khairul Umam.
Surabaya, 2 Juli 2026









