
Hasil untuk "mukaddimah Semak"
Ditemukan 7 hasil (6 artikel, 1 simpul).
Simpul Terkait

Artikel Terkait

Gung Ruang Gung Jati
Pada dasarnya fitrah manusia selalu berkeinginan suci dan secara kodrati cenderung pada kebenaran (hanif). Dengan kesadaran atau pikirannya, manusia selalu menginginkan sesuatu yang lebih baik begitu pun seterusnya. Manusia akan berupaya membuat hidupnya berharga atau bisa dianggap berharga bagi sekelilingnya, mengeksplorasi diri melalui tindakan dan berbagai kegiatan. Sistem kehidupan manusia pun selalu berkembang dari waktu […]

Hayati Menghayati
Kata hayati berasal dari akar kata Arab ḥayāt (حياة) yang berarti hidup. Dalam bahasa Indonesia, “hayati” bisa dimaknai sebagai: menghidupkan nilai. Sedangkan “menghayati” ialah bentuk aktif—proses. Kalau “hayati” adalah keadaan, maka “menghayati” adalah jalan menuju keadaan itu. Di tengah derasnya arus zaman yang bergerak cepat, manusia sering kali terjebak pada sekadar menjalani tanpa benar-benar menghayati. […]

Misleuk
Dalam bahasa Sunda, misleuk berarti terpeleset. Salah langkah. Meleset dari arah semula. Bukan jatuh dari tebing. Bukan pula sengaja menyimpang. Tetapi langkah yang keliru karena jalan licin, atau karena kurang waspada. Misleuk itu manusiawi. Yang berjalan pasti berpotensi misleuk. Yang diam saja yang tidak pernah terpeleset. Namun yang sedang dihadapi hari ini bukan sekadar kesalahan […]

Warasatul Maiyah
Hidup selalu berputar, itulah daur kehidupan. Ada yang datang, ada yang pergi, ada yang melarikan diri, dan ada yang kembali. Ada yang meminta, ada yang memberi; ada yang menuntut, ada yang pasrah. Ada yang saling menguatkan, dan ada pula yang mencoba melemahkan. Manusia diasah oleh kehidupan. Ada yang semakin tajam karena berpikir jernih, ada yang […]

Meneropong Arah Rumah
Dunia sedang kocar kacir. Segala ruang informasi semakin getol memberitakan pergolakan: geopolitik, ekonomi, narasi pengetahuan, dan berbagai kepentingan lain. Persilangan ruang dan waktu, nilai, kemerdekaan dan keterpenjaraan, bahkan persilangan diri kita sendiri — sering mendorong kita untuk memuaskan diri dengan ‘hanya’ mengamati kejadian yang besar dan jauh di kota seberang, negeri seberang, bahkan kalau mungkin […]

Bābul ‘Ilmi
Jika ilmu diibaratkan sebagai sebuah “kota”, mengapa ia memiliki “pintu”? Apa yang sebenarnya dijaga oleh pintu itu, akses, adab, atau cara memahami? Lalu, apa yang terjadi jika seseorang masuk tanpa melaluinya? Di zaman sekarang, ketika informasi terasa terbuka ke segala arah, apakah kita masih mengenal konsep “pintu”, atau justru merasa bisa langsung masuk ke mana […]




