Tentang manusia yang ingin bebas, tetapi belum selesai mengenali dirinya.
Sejumlah manusia berkumpul untuk memperbincangkan satu kata yang begitu akrab di telinga, tetapi ternyata tidak mudah ketika diminta untuk dijelaskan: Merdeka.
Kemerdekaan malam itu tidak diletakkan sebagai sekadar sejarah, bendera, atau pekik yang selesai setelah suara diturunkan. Ia dibawa masuk ke wilayah yang lebih dalam: ke kepala, hati, pekerjaan, hubungan antar manusia, bahkan sampai kepada hubungan manusia dengan Sang Pencipta.
Mas Danu menjadi moderator, membuka ruang percakapan agar setiap orang dapat menyampaikan pandangan tanpa harus merasa bahwa pendapatnya merupakan pintu terakhir menuju kebenaran.

Mukaddimah disampaikan oleh Mas Ridwan, dengan tema yang sejak awal sudah mengandung kegelisahan, kelucuan, sekaligus tamparan:
“MERDEKA NDASMU! NDASMU, MERDEKA.”
Sebuah kalimat yang sekilas seperti umpatan, tetapi justru menyimpan kemungkinan untuk membongkar kembali pengertian kita tentang kemerdekaan. Sebab kadang-kadang manusia memang perlu ditegur dengan bahasa yang membuatnya tertawa terlebih dahulu, agar setelah tawanya selesai ia mulai bertanya kepada dirinya sendiri. Sebenarnya aku ini merdeka atau hanya merasa merdeka?
Mas Aris Panah merespons tema tersebut. Menurut beliau, frasa “merdeka ndasmu!” merupakan ungkapan yang biasa disematkan kepada hewan. Dari sana pembicaraan kemudian bergerak kepada sebuah analogi tentang kecambah yang pecah. Kecambah tidak akan tumbuh apabila ia selamanya mempertahankan kulit yang membungkusnya. Ada saat ketika sesuatu harus pecah agar kehidupan dapat keluar. Barangkali manusia juga demikian. Ada batas-batas tertentu yang memang harus ditembus agar seseorang dapat bertumbuh. Tetapi ada pula batas yang justru harus dijaga agar manusia tidak kehilangan kemanusiaannya.
Mas Aris kemudian menyampaikan bahwa kemerdekaan mempunyai dua keadaan yang paling sederhana: saat tidur dan saat mati.
Tidur adalah jeda dari kesadaran dunia. Mati adalah berhentinya seluruh urusan dunia.
Di antara tidur dan mati itulah manusia menjalani hidupnya. Sibuk mencari kebebasan, sibuk mengejar kepemilikan, sibuk memperjuangkan kehendak, padahal mungkin yang paling sulit adalah membebaskan dirinya dari dirinya sendiri.
Mas Argo kemudian merespons tema diskusi dengan sebuah ungkapan yang sederhana tetapi mengandung pekerjaan batin yang panjang:
“Merdeka adalah adil sejak dalam pikiran.”

Kita sering menuntut keadilan dari orang lain, dari keadaan, dari kehidupan. Tetapi apakah kita pernah berlaku adil kepada pikiran kita sendiri?
Pikiran sering kita jadikan alat pembenaran. Kita memilih apa yang ingin kita percaya dan menolak apa yang tidak sesuai dengan kehendak kita. Padahal pikiran pun perlu diajak duduk bersama. Ia perlu diberi kesempatan untuk bertanya, meragukan, mengoreksi, bahkan mengakui bahwa dirinya mungkin keliru. Sebab bisa jadi yang membuat manusia tidak merdeka bukan karena pikirannya tidak bebas, melainkan karena pikirannya telah menjadi budak dari kesimpulannya sendiri.
Mas Ridwan kemudian membawa pembicaraan kepada pengalaman yang lebih dekat dengan keseharian. Ketika bekerja, seseorang terkadang merasa terjajah. Ada tekanan, aturan, kewajiban, target, dan keadaan yang membuat seseorang merasa bahwa dirinya bukan lagi sepenuhnya milik dirinya sendiri. Namun setelah keluar dari pekerjaan, perasaan itu berubah. Seakan-akan ketika pintu tempat kerja tertutup di belakangnya, ia kembali menemukan udara kebebasan. Ia merasa merdeka. Tetapi pertanyaan berikutnya justru lebih menarik:
Apakah yang menjajah manusia benar-benar pekerjaannya, atau cara manusia menjalani pekerjaan tersebut?
Sebab penjajahan kadang bukan terletak pada tempat di mana kita berdiri, tetapi pada cara kita memandang tempat itu.
Mas Dasa kemudian menyampaikan bahwa merdeka adalah merdeka dari pikiran, hati, dan dirinya sendiri. Sebuah kemerdekaan yang tidak berhenti pada terbebas dari orang lain. Sebab seseorang bisa saja tidak sedang dikurung siapa pun, tetapi pikirannya dipenuhi ketakutan. Ia bisa berjalan ke mana saja, tetapi hatinya terikat oleh dendam. Ia bisa memiliki banyak pilihan, tetapi dirinya sendiri tidak mampu mengendalikan keinginan. Ada penjara yang tidak memiliki jeruji. Ada rantai yang tidak terbuat dari besi. Dan ada penjajahan yang paling halus: ketika manusia tidak sadar bahwa dirinya sedang diperbudak oleh sesuatu yang ia cintai sendiri.
Mas Saiful memandang kemerdekaan sebagai regulasi, yakni kebebasan dari intervensi oleh sesuatu yang tidak semestinya menguasai diri. Namun kebebasan bukanlah kekacauan. Merdeka bukan berarti semua pintu boleh diterobos. Bukan berarti semua kehendak harus dipenuhi. Bukan berarti setiap keinginan layak diperjuangkan. Justru manusia yang merdeka adalah manusia yang mempunyai kemampuan untuk mengatur dirinya. Sebab jika kebebasan tidak disertai kesadaran, maka kebebasan dapat berubah menjadi bentuk penjajahan yang baru: penjajahan yang dilakukan manusia terhadap dirinya sendiri maupun terhadap manusia lainnya.
Pembicaraan kemudian mendapatkan kedalaman lain ketika Pak Zaki menyampaikan pandangannya:
“Manusia disetting belum merdeka.”
Sejak lahir manusia sudah berada dalam keterikatan. Ia bergantung kepada orang tua, kepada alam, kepada makanan, kepada udara, kepada waktu, dan kepada begitu banyak hal yang tidak pernah ia ciptakan sendiri. Maka manusia sesungguhnya tidak pernah berdiri sebagai makhluk yang sepenuhnya independen. Menurut Pak Zaki, kemerdekaan hakikatnya adalah ketika manusia sudah kembali kepada-Nya. Di dunia ini manusia boleh merdeka, boleh berpikir, boleh memilih, boleh berjalan ke mana saja, tetapi ada satu kata yang perlu terus dibawa dalam perjalanan:
“Tahu diri.”
Semua boleh merdeka, tetapi tahu diri. Sebab ketika manusia lupa siapa dirinya, kebebasan mudah berubah menjadi kesombongan.

Mas Bayu membawa pembicaraan kepada kisah zaman Nabi, ketika pada kelahiran Nabi terdapat seorang budak yang kemudian dimerdekakan. Dari kisah tersebut, kemerdekaan dipandang sebagai kebebasan berpikir dan kebebasan melakukan sesuatu, tetapi tetap ada batas yang harus dipahami. Di sinilah kemerdekaan menemukan kedewasaannya. Manusia boleh melakukan sesuatu, tetapi tidak semuanya harus dilakukan. Manusia boleh mengatakan sesuatu, tetapi tidak semua yang ada di kepalanya harus menjadi ucapan. Manusia boleh memilih jalan, tetapi tidak semua jalan layak ditempuh. Karena kebebasan yang tidak mengenal batas bukanlah kemerdekaan. Ia hanya pergantian bentuk dari penjajahan. Dan pada akhirnya Mas Bayu menyampaikan sebuah kalimat yang menjadi salah satu titik terdalam dalam percakapan malam itu:
“Puncak kemerdekaan adalah innalillahi wa inna ilaihi raji’un.”
Dari Allah kita berasal, kepada Allah kita kembali. Jika manusia benar-benar menyadari kedua ujung perjalanan tersebut, barangkali ia tidak akan terlalu mabuk oleh kata “aku”. Sebab segala sesuatu yang kita sebut milik pada akhirnya akan kembali kepada Pemiliknya.
Mas Dadang kemudian menambahkan bahwa kemerdekaan memiliki tahapan: dari Pencipta kepada makhluk dan dari makhluk kepada makhluk. Ada hubungan yang harus ditata antara manusia dengan Tuhannya. Ada pula hubungan yang harus dijaga antara manusia dengan sesamanya. Kemerdekaan tidak mungkin hanya menjadi urusan pribadi jika kehidupan kita selalu bersinggungan dengan kehidupan orang lain. Karena itu, manusia harus mampu mencari kemerdekaan versi dirinya masing-masing, sebab setiap orang mempunyai belenggunya sendiri. Ada orang yang harus membebaskan diri dari rasa takut, ada yang harus membebaskan diri dari kesombongan, ada yang harus membebaskan diri dari keinginan untuk selalu dipuji, ada yang harus membebaskan diri dari kebencian, dan mungkin ada yang justru harus membebaskan dirinya dari keinginan untuk selalu merasa bebas.

Malam itu tidak menghasilkan satu definisi tunggal tentang kemerdekaan, dan mungkin memang tidak perlu. Sebab sebuah pertemuan semacam ini bukanlah ruang untuk memproduksi kesimpulan secara massal. Ia lebih menyerupai tempat manusia saling meletakkan cermin. Seseorang berbicara, yang lain mendengarkan. Seseorang mengemukakan pengalaman, yang lain menemukan pengalaman dirinya sendiri. Kita datang membawa pendapat, tetapi pulang membawa pertanyaan. Dan mungkin itulah salah satu bentuk kemerdekaan yang paling sehat: kemampuan untuk tetap bertanya kepada diri sendiri. Sebab kemerdekaan bukan hanya perkara siapa yang tidak lagi menjajah kita. Kemerdekaan juga tentang siapa yang masih kita izinkan untuk menjajah diri kita. Apakah pekerjaan? Apakah pikiran? Apakah hati? Apakah keinginan? Apakah gengsi? Apakah penilaian manusia? Ataukah justru kita sendiri?
Maka kalimat “MERDEKA NDASMU! NDASMU, MERDEKA” akhirnya tidak berhenti sebagai judul diskusi. Ia berubah menjadi semacam cermin yang diarahkan kepada kepala kita masing-masing. Kita tertawa. Tetapi setelah tawa itu reda, barangkali ada sesuatu yang diam-diam mengetuk dari dalam:
“Benarkah aku sudah merdeka?” Sebab bisa jadi kita sudah terbebas dari banyak hal, tetapi belum terbebas dari keserakahan. Bisa jadi kita sudah bebas menentukan pilihan, tetapi belum mampu menentukan batas. Bisa jadi kita sudah merasa paling merdeka, tetapi belum benar-benar tahu diri. Dan barangkali manusia baru mendekati kemerdekaan ketika ia tidak lagi sibuk membuktikan bahwa dirinya bebas. Ia cukup tahu: dari mana ia berasal, untuk apa ia hidup, kepada siapa ia bertanggung jawab, dan ke mana ia akan kembali. Maka “innalillahi wa inna ilaihi raji’un” bukan sekadar kalimat penutup. Ia adalah pengingat bahwa di balik seluruh kebebasan yang kita banggakan, ada sebuah kenyataan yang tidak pernah bisa kita tawar: kita berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya.
Mungkin di situlah kemerdekaan menemukan rumahnya. Bukan pada kebebasan tanpa batas. Tetapi pada manusia yang telah mengenali batas, memahami dirinya, adil kepada pikirannya, lembut kepada sesamanya, dan akhirnya tahu kepada siapa seluruh hidupnya dipertanggungjawabkan.
Merdeka! Tetapi, tahu diri. (Redaksi Tong-il Qoryah)








