Background Ambience
Khusyuk
Mukaddimah

Khusyuk

Mukaddimah Suluk Surakartan Juli 2026

MyMaiyah.id
MyMaiyah.id

Ada satu hal yang belakangan sering mengusik. Mengapa banyak di antara kita begitu mudah tertarik pada sesuatu yang baru, tetapi begitu sulit bertahan cukup lama untuk benar-benar mengenalnya? Hari ini ingin belajar ini, besok pindah ke yang lain. Hari ini yakin dengan satu tujuan, beberapa waktu kemudian sudah tergoda oleh kemungkinan yang berbeda. Padahal, jika dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya, waktu yang kita miliki tetap sama: dua puluh empat jam dalam sehari. Lalu sebenarnya apa yang berubah? Apakah zaman, atau justru cara kita memandang dan menghidupi waktu itu sendiri?

Boleh jadi yang berubah bukanlah waktu, melainkan perhatian manusianya. Kita hidup pada masa ketika hampir tidak ada jeda antara diri kita dan informasi. Segala sesuatu datang bersamaan, meminta untuk dilihat, didengar, dipikirkan, bahkan diinginkan. Kita merasa bebas memilih apa saja, tetapi di saat yang sama perhatian kita terus berpindah-pindah sebelum sempat berakar. Akibatnya, banyak hal hanya singgah sebentar di kepala, sedikit yang benar-benar menetap menjadi pemahaman, apalagi menjelma menjadi laku hidup. Apakah kita yang kurang cerdas?, atau karena algoritma informasi hari ini terlalu banyak berebut perhatian kita?.

Kalau begitu, mungkinkah perhatian memang bukan perkara sepele? Dalam banyak kajian psikologi, perhatian adalah pintu pertama bagi lahirnya minat. Minat yang dipelihara akan membuat seseorang betah tinggal lebih lama. Dari tinggal yang lebih lama itulah seseorang mulai tenggelam dalam pekerjaannya, sampai lupa pada hiruk-pikuk di sekelilingnya. Bukankah pengalaman seperti itu tidak terlalu jauh dari apa yang kita kenal sebagai khusyuk? Dan ketika kekhusyukan tidak lagi terasa dipaksakan, barangkali ia berangsur menjadi tumakninah; tenang, mantap, tidak tergesa-gesa. Mungkin dari ruang batin semacam itulah kesabaran dabat tumbuh.

Dalam edisi Suluk Surakartan kali ini, barangkali kita tidak sedang mencari cara agar menjadi generasi yang lebih instan, lebih cepat, atau berambisi yang grusa-grusu. Tetapi mungkin kita bisa belajar bersama satu hal yang lebih sederhana: bagaimana menghadirkan perhatian secara utuh. Sebab boleh jadi, sebelum seseorang kehilangan arah hidup, ia lebih dahulu kehilangan kemampuan untuk benar-benar khusyuk. Jika perhatian adalah awal dari segala perjalanan, ke manakah selama ini kita membawanya? Dan kepada siapa sesungguhnya perhatian itu kita serahkan? (Redaksi Suluk Surakartan)

Bagikan:
MyMaiyah.id

MyMaiyah.id

Tulisan Terbaru dari MyMaiyah.id

HOME