Curiga manjing warangka. Sebuah pepatah tua dalam khazanah Jawa yang secara harfiah berarti “keris masuk ke dalam warangka (wadahnya).” Dalam filsafat Jawa, pepatah ini tidak berhenti pada makna harfiahnya. Ia dimaknai sebagai simbol bahwa setiap kekuatan memerlukan wadahnya. Wadah ini bisa berarti batas, fungsi atau ruang kekuatan tersebut.
Simbol keris itulah yang kemudian memperoleh pembacaan baru dalam Wacana Maiyah. Mbah Nun mengibaratkan rakyat memegang pisau dan cangkul untuk mengolah kehidupan, sementara negara dan pemerintah memegang pedang untuk menjaga perjuangan rakyat. Adapun keris hadir sebagai penanda marwah, kebijaksanaan, dan arah peradaban, bukan sebagai alat untuk bertarung. Lalu, jika keris adalah marwah dan penuntun peradaban, masihkah bangsa ini memiliki “keris” Tersebut? Jika ada apakah berfungsi sebagaimana mestinya?
Kita hidup di zaman yang dipenuhi oleh orang-orang hebat, pintar, berani, bahkan berkuasa. Namun, mengapa kehidupan justru sering terasa gaduh? Barangkali ada dua gejala yang sedang kita hadapi. Pertama, Bangsa ini tidak kekurangan keris; justru banyak keris kehilangan warangkanya. kehilangan batas, fungsi, dan ruang pengabdiannya. Kedua, kita sibuk membangun berbagai “warangka”, seperti lembaga, organisasi, aturan, jabatan, dan berbagai bentuk pembangunan lainnya, tetapi lupa mengisinya dengan nilai, kebijaksanaan, dan kejernihan hati yang menjadi ruhnya.
Kegelisahan itulah yang akan kita resapi dan dalami bersama dalam Forum Bangbangwetan edisi Juli. Kita tidak sedang membahas keris dari sisi klenik, mistis, ataupun sekadar sebagai karya seni budaya. Sebaliknya, kita akan menjadikan curiga manjing warangka sebagai cermin untuk membaca diri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Bukan untuk mencari siapa yang paling benar, melainkan untuk bersama-sama menemukan kembali “warangka” bagi setiap “keris” yang Allah titipkan dalam kehidupan kita.








