Silaturahmi Penggiat Maiyah 2025 tuntas digelar. Rasa-rasanya, kita semua sedang diperjalankan untuk menikmati waktu yang bergerak secara siklikal, waktu yang berputar seperti lingkaran. Namun, disadari atau tidak—konsep waktu siklikal—membawa kita naik pada lapisan makna berikutnya.
Sebuah pengalaman waktu—yang kita alami—tidak berjalan linier seperti garis yang lurus dan terus melaju. Pengalaman yang bila disadari akan membuka ruang kontemplatif diri untuk memperteguh makna. Dalam hal ini saya menyebutnya sebagai tafakkur, tadzakkur, dan tadabbur.
Sebagaimana konsep waktu yang dipaparkan Mas Jamal Jufree Ahmad pada hari kedua sesi 3, “Sangkan Paran Majelis ‘Ilmu Maiyah. Dalam sesi itu dibahas mengenai bagaimana Maiyah menjembatani pergeseran dari era pra-modern, modern, hingga era media sosial hari ini.

Rangkaian Silaturahmi berlangsung dua hari satu malam, 6–7 Desember 2025 di Rumah Maiyah, Kadipiro. Dimulai dengan Tawashshulan yang diiringi gamelan Kiai Kanjeng, lalu pembukaan oleh Mas Sabrang Mowo Damar Panuluh dan Pak Toto Rahardjo, dipandu oleh Mas Fahmi Agustian. Dari sesi ini saya mencatat sejumlah poin penting yang disampaikan Mas Sabrang—catatan yang kemudian saya anggap sebagai fondasi kita sebagai orang Maiyah.
Salah satu gagasan yang paling menancap adalah istilah “Sajen” yang Mas Sabrang peroleh dari Mbah Nun. Dalam konteks ini, Sajen tidak dimaksudkan dalam pengertian ritual magis, tetapi sebagai kuda-kuda utama dalam melangkah ke masa depan—baik untuk Indonesia, Simpul Maiyah, lingkungan terdekat, maupun diri kita sendiri.
Mas Sabrang menegaskan bahwa puluhan tahun ikhtiar Simbah Muhammad Ainun Nadjib melalui Maiyah—keliling ke pelosok-pelosok desa se-Indonesia—adalah bentuk sajen kepada Gusti Allah: upaya kebaikan, perjuangan rakaat panjang kepada Indonesia yang kondisinya semakin karut-marut.
“Kenapa disebut sajen? Karena kita sudah membuktikan kepada Tuhan. Dengan akal yang kita miliki, kita merumuskan sesuatu,” jelas Mas Sabrang.
Rumusan itu kelak bisa dieksekusi ataupun tidak, bagi Mas Sabrang itu persoalan lain. Bukan lagi sepenuhnya menjadi tanggung jawab kita. Tugas kita adalah mengerahkan daya, memetakan persoalan dengan jernih, merumuskan strategi yang tepat, akurat, dan empan papan. Tetapi pada titik tertentu, kita perlu sadar diri bahwa tidak mempunyai “fasilitas” atau dalam bahasa Mas Sabrang, tidak memiliki bahan bakar yang cukup untuk mengeksekusinya.
Jika bahan bakar mentok, maka kita berhenti pada batas yang diberikan. “Aku hanya diberi jalan sampai di sini,” kata Mas Sabrang. “Semua permasalahan sudah aku petakan detail. Takon kae, ke Malaikat pembagi rezeki. Ora tau mbagi bensin tapi kok nuntut-nuntut.”
Gagasan ini bukan untuk melemahkan semangat, tapi untuk menghibur diri secara benar dan empan papan, agar kita tidak patah ketika sudah berjuang maksimal. Bahwa ikhtiar manusia memang punya limit; tetapi limit itu bukan kegagalan. Justru di situlah letak Sajen: memaksimalkan akal, tenaga, dan cinta, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Mas Sabrang melanjutkan bahwa posisi Maiyah memang di titik ini: kita dilatih berpikir, dilatih hadir dalam Sinau Bareng rutin, dilatih memetakan persoalan secara teliti. Itulah bentuk sajen yang paling murah—dalam tanda petik—yang dapat kita persembahkan: “Gusti, aku mikir loh. Tenanan loh iki. Aku wis serius iki. Kelakon ora kelakon, ora ning pikiranku. Onok bensin barang, njenengan sing nyediakke,” ungkap Mas Sabrang.
Dengan contoh seorang pedagang yang sudah bekerja keras menyiapkan dagangannya, tetapi belum juga ada pembeli, Mas Sabrang mengajak kita memahami ikhtiar sebagai setoran kepada Indonesia—setoran yang disiapkan dengan kerangka berpikir yang benar dan niat yang lurus serat tulus, untuk kemudian dipersembahkan kepada Allah.
Gresik, 10 Desember 2025








