وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ
Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran). (QS. Ali ‘Imran: 140)
Kehidupan selalu berputar sesuai dengan Iradah-Nya. Berbagai macam hal berdatangan silih berganti dengan tiada henti. Kita dipertemukan dengan berbagai macam kejadian. Ada yang membahagiakan, menyedihkan, dan ada juga yang mengkhawatirkan.
Kita juga disodorkan berbagai macam pilihan. Antara beriman atau kafir, memilih yang haq atau bathil, mencari keberkahan atau la’nat. Menjadi pejuang atau pecundang, perampas atau pemberi, menyayangi atau menyakiti, mencintai atau membenci.
Permasalahan yang datang juga banyak tingkatannya. Ada yang mudah dipahami sehingga gampang dibereskan. Ada yang rumit dan sulit dimengerti sehingga perlu ekstra pikiran dan tenaga untuk mengidentifikasi, merumuskan dan menyelesaikannya. Dan ada juga yang ajaib, sehingga jalan keluarnya hanyalah pasrah pada Allah SWT.
Semuanya itu terus berputar, bersiklikal dalam arus kehidupan. Baik dalam putaran kehidupan kita sebagai individu, keluarga, masyarakat, dan sampai Negara. Lantas bagaimana kita menyikapinya?
Kita sebagai Jamaah Maiyah, yang sekaligus juga memiliki gelar kemesraan; “anak /-cucu Mbah Nun”. Pastinya sudah tahu, kalau Mbah Nun yang sangat mencintai anak-cucunya, sudah banyak memberikan bekal-bekal pengetahuan dan ilmu-ilmu kehidupan kepada kita semua. Baik yang kita peroleh dalam proses Maiyahan ataupun juga melalui tulisannya.
Mengenai kehidupan yang terus berputar dan keadaan zaman yang datang silih berganti. Pernahkah kita merenungi, kenapa Mbah Nun menulis di caknun.com dengan kolom tersendiri yang berjudul; “Daur”?. Secara makna, daur adalah proses atau rangkaian kejadian yang berulang-ulang secara teratur dari awal sampai akhir, lalu kembali ke awal lagi.
Salah satu tulisan Mbah Nun di kolom Daur yang berjudul “Telaga Cahaya”, baca https://www.caknun.com/2018/telaga-cahaya/. Di dalamnya terdapat kata-kata ;
“Setiap kali Markesot selesai melantunkan satu ayat, muncul sejumlah anak panah dari seluruh arah, menancap ke badannya. Markesot ambruk. Tak bisa mempertahankan diri. Terkadang telentang, saat lain tengkurap, terjungkal, terjerembab, meringkuk.
Tapi selalu juga ia menggeliat dan berusaha bangun kembali. Ia membaca lagi, ditaburi panah-panah lagi, terjatuh lagi, bangun lagi, membaca lagi, terjengkang lagi, bangkit lagi, membaca lagi”
Kalau dalam nilai ilmu Maiyah pasti kita memahami konsep kehidupan sejati. Bahwa dalam hidup yang dinilai adalah prosesnya, perjuangannya. Darimana, pergi kemana dan kembali pada-Nya.
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.
Dari tahun 2016-2018 Mbah Nun menulis di kolom daur tersebut bahkan sampai mencapai 319 judul. Sungguh ini adalah bekal cinta yang diberikan oleh Mbah Nun kepada kita semua, untuk menapaki dan menjalani kehidupan yang terus silih berganti sampai menuju ke yang sejati.
Kita sebagai anak cucu Mbah Nun, harusnya “Titen”. Untuk apa beliau memberikan itu semua.? Dan apa yang beliau inginkan pada anak cucunya?.
Oleh karena itu, pada Maiyahan bulan ini, Mayarakat Maiyah Cirrebes akan belajar bareng dengan tema “Titen”. Untuk menemukan dan meneguhkan kembali nilai-nilai Maiyah yang telah diberikan Mbah Nun kepada kita semua. Dengan tidak lupa pula untuk selalu ber-tawashshulan, mengemis pada Allah SWT, agar menunjukkan arah, dan melangkahkan kita pada perjalanan yang sesuai dengan Iradah dan kasih sayang-Nya.
(Redaksi Cirrebes/Iib Ubaidilah)








