Edisi ke 78, Februari 2026/Ramadlan 1447 H, Majelis ‘Ilmu Muhammad Ainun Najib Ma’syar Maiyah Mahamanikam tidak di Samarinda. Alhamdulillah terlaksanan di Desa Bukit Raya, Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara. Julak Haris sapaan akrab kami kepada beliau yang menjadi tuan rumah di Sinau Bareng kali ini. Maiyahan “ditarik” ke arah Tenggarong berjarak tempuh 45 menit dari Samarinda. Julak Haris mengadakan acara doa bersama sekaligus buka puasa bareng warga sekitar rumahnya. Doa bersama dimulai pukul 16.30, berlanjut buka puasa bersama, sholat Magrib berjamaah, dan dipuncaki makan bareng. Sebagaian warga bertahan hingga sholat Isya dan Tarawiah berjamaah di lantai dua yang memang luas di rumah Julak Haris. 21.30 Maiyahan dimulai.
Sesi mukadimah dimulai Suhartono sebagai moderator. Sandang pangan papan itu soal bagaimana martabat kemanusian manusia dijaga dirawat dipertahankan, bukan ekonomi semata. Umumnya manusia sekarang membalik, demi ekonomi tidak perlu martabat. Kecenderungan “menelanjangi diri” demi makan, padahal pangan itu sekunder sementara papan tersier. Lebih parah lupa empan papan, tidak sadar dengan kesadaran di mana posisi. Ramadan bonus dari Allah untuk kita rehat. Merefleksikan 11 bulan yang kita lalui dan menilai bagaimana kualitas sandang kita.
Pijakan pertama dalam sinau bareng kali ini dimulai Mbah Kodir. Tidak bisa membaiki, miniminal jangan merusak. Maka agar tidak merusak dalam berpakaian haruslah dengan estetika. Tidak cukup hanya benar, tapi harus baik, dengan baik keindahan akan tampak. Seperti dawuh yang sering Mbah Nun sampaikan. Melihat hari ini sangat mudah sekali kerusak itu dipertontonkan, seolah kerusakan bukan lagi hal tabu. Ditambah ada pula kerusakan yang seolah menjadi keniscayaan dari pakaian keagamaan. Maka perlu formulasi untuk tidak menjadi bagian yang mempertontonkan kerusakan.
Dari Mbah Kodir langsung ke Yai Anam (YA). YA memulai dengan “Agama dipahami hari ini berbenturan dengan kemanusiaan”. Pengamal agama sering bergeser dari kemanusiaan, merasa “malaikat”. Padahal saat merasa malaikat disitu manusia meng-iblis-kan diri. Akhirnya terjadi bias agama dan atribut keagamaan. Tidak hanya pakaian muslim, tapi juga identitas muslim. Padahal pakaian fisik tergantung style. Tidak melambangkan identitas. YA mencontohkan dirinya yang memang sedari dulu terbiasa dengan sarung, hiangga hari ini menjadi style-nya. YA menutup sesinya dengan mengutip hadits tentang, identitas muslim.
مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang muslim adalah orang yang Kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya”
Dari YA ke Julak Haris (JH). JH memulai dengan kisahnya di tahun 80-an ke hulu Mahakam. Di sana ia ditanya Masyarakat setempat “apa pakaian mu?”. Zaman dulu pakaian itu dimaknai ilmu apa yang kamu bawa. JH baru mengerti maksud pertanyaan itu jauh setelah ia pertama kali ditanya. Dari perjalanan laku hidupnya di dunia pendidikan membuat JH sadar bahwa pakaian sesungguhnya itu Iman, islam, ikhsan. Pakaian hari ini. Ironisnya hari ini Islam banyak, namun yang menjadi cerminan ke-Islam-man sedikit bahkan tidak ada. Jika ingin mencerminakan Islam, maka harus berani bertanya ke diri sendiri “bagaimana iman kita?”. Diakhir sesinya JH memberikan Langkah awal. Ubah mindset, bukan mencari Tuhan, tapi mengenali Tuhan.
Dari prasmanan ilmu itu memantik Mas Bambang untuk bertanya. Puasa Wetonan. Sesepuh Jawa pasti mengenal ini. Fungsi sebagai pagar diri. Agar orang disekitar kita tidak terkena dampak keburukan kita. Kecenderungan pagar hari ini untuk terhindar dari keburukan orang lain. Perenungannya bagaimana sandang kita melindungi orang lain dari sifat buruk kita? Pertanyaan dialamatkan ke YA.

YA, Puasa Wetonan merupakan nilai kuat pada struktur masyarakat Nusantara. Merupakan bentuk ketuhanan yang sudah ada sebelum akhirnya diluruskan oleh penyebar Islam pertama di Nusantara. Gharizah al-Tadayyun, naluri ber-Tuhan. Dari Gus Dur. Hamba itu butuh ke-Tuhanan. Simbol agama sudah kuat. Tapi anehnya substansi agama terganggu tidak banyak yang bersuara, tidak banyak dikaji. Itulah pakaian sejati kita. Ini yang harus terpolakan, pakaikan ketakwaan yang harus sudah dibudayakan. Kebaikan itu bagaimana menghadap Allah. Hingga tidak terjadi simbol mengalahkan substansial. Dari akar kata Iman, memberi keamanan.
Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, melainkan kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab suci, dan nabi-nabi; memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, peminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya; melaksanakan salat; menunaikan zakat; menepati janji apabila berjanji; sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. Al-Baqarah 2.177
Di tengah majelis datang Mas Dedi Darmawan (MD). Pengusaha travel asal Samarinda yang ternyata sewaktu kuliah di UGM akrab dengan Maiyahan. Lama di Samarinda asik ber-Maiyahan virtual, baru malam ini dipertemukan dengan majelis Maiyahan berkat undangan YA. Sebelum memulai moderator memberikan ucapan “selamat datang kembali ke rumah Maiyah”. Setelah dipersilahkan YA, MD memulai dengan perlunya kesadaran melakukan apa yang Allah tetapkan. Kendati sulit di cuaca akhir zaman Dimana terjadinya kebalikan. Bercerminlah untuk pakaian akhlak kembali ke Rasulullah. Mengembalikan energi Muhammad kembali ke diri masing-masing. Prilaku yang tidak pernah kasar, kelembutan Rasulullah bahkan kepada orang yang berbeda keyakinan. Setiap identitas ada orangnya setiap orang ada identitasnya. MD memberi empat kunci. Pertama, di mana saja online kepada Allah. Kedua, Siap ditempatkan dimana saja. Ketiga, kapan saja siap, dengan siapa saja kita harus siap (perbaikan pola pandangan). Keempat, dengan kondisi apa saja, tetap menjadi diri sendiri.
23.30, menjelang akhir sesi. YA nyangui yang hadir dengan “Agama lahir pada Rasulullah itu substansi. Penguatan pertama itu Tauhid. Maka melahirkan masyarakat madani”.
Sebelum majelis ditutup JH diminta menambahkan. Jelas nyata pakaian itu takwa. Kembali pada kesadaran sejati. Allah. Jangan pernah absen pikirin positif. Kuncinya di rukun Iman ke-6, kesadaran menerima yang dari Allah. Ubah mindset (selalu berfikir positif). Hilangkan suudzon. Bergeraklah dengan kesadaran atas nama Allah. Kembali ke Rasulullah, kembali ke semua yang rasional. Jangan hilang obyektivitas.

Tepat pukul 00.00 majelis diakhiri, siapapun yang hadir memiliki kedaulatan untuk memproses setiap tebaran ilmu di prasmanan ilmu malam itu. Bahwa malam ini menghadirkan kesadaran untuk mencuci pakaian ketakwaan masing-masing, merupakan hidayah yang Allah turunkan. Tugas kita bersama terus berupaya agar Allah senantiasa meridhoi pakaian yang kita kenakan di setiap kehidupan yang dijalani. (Suhartono/Redaksi Mahamanikam)








