Kadang kita merasa negeri ini baik-baik saja. Masjid ramai, pengajian hidup, doa tidak pernah sepi. Tapi di sisi lain, kita juga sering menyaksikan amanah yang bocor, janji yang ringan diucap tapi berat ditepati, dan ruang digital yang lebih panas daripada ruang tamu kita sendiri. Ada sesuatu yang seperti belum selesai dalam diri kita. Pertanyaannya: apa yang sebenarnya kurang?
Kita sering menyalahkan sistem, menyalahkan keadaan, bahkan menyalahkan zaman. Padahal mungkin yang perlu kita baca ulang adalah diri kita sendiri. Apakah kita sudah cukup kuat menjalankan tanggung jawab? Apakah kita sudah cukup jujur saat tidak ada yang melihat? Atau jangan-jangan kita ini rajin berkomentar, tapi pelan-pelan menjauh dari tanggung jawab?
Dalam Sinau Bareng nanti, kita akan membedah sebuah gagasan sederhana tapi menggetarkan: KODE ETIK +26. Sebuah ajakan untuk kembali pada dua fondasi dasar peradaban: kuat dan dapat dipercaya. Bukan teori langit yang sulit dipahami, tapi nilai yang sangat membumi, yang bisa diuji dalam pekerjaan, keluarga, organisasi, bahkan dalam hal kecil sehari-hari.
Kita tidak akan sibuk mencari siapa yang salah. Kita tidak akan debat moral panjang tanpa ujung. Kita akan menguji diri: kurang kapasitas atau kurang integritas? Atau sebenarnya kita belum menyatukan keduanya? Di situlah letak krisis kita, sekaligus peluang kebangkitan kita.
Bayangkan jika orang-orang biasa, pedagang, karyawan, mahasiswa, bapak-ibu rumah tangga, bersepakat untuk menjadi kuat dan amanah dalam lingkupnya masing-masing. Tanpa slogan besar, tanpa gaduh di media sosial, tapi konsisten dalam tindakan. Bukankah dari sanalah peradaban yang tertib dan teduh bisa lahir?
Mari hadir dan duduk bersama dalam Sinau Bareng Jama’ah Maiyah Sulthon Penanggungan Pasuruan, Sabtu, 28 Februari 2026, pukul 20.45 WIB di OTES Bumbungan. Datang bukan hanya untuk mendengar, tapi untuk menimbang diri. Siapa tahu, malam itu bukan sekadar diskusi, melainkan titik balik cara kita memaknai kekuatan dan amanah dalam hidup.
#Redaksi_SP








