Sanggar Kedirian—Majelis ‘Ilmu Muhammad Ainun Nadjib
Memasuki Panca Dasa Sanggar Kedirian atau 15 Tahun perjalanan, tentunya telah mengalami pasang surut. Lika-liku perjalanan dialami, juga di dalamnya mengalami datang dan pergi begitu saja sosok-sosok yang mengukir perjalanan Sanggar Kedirian menjadi salah satu simpul Maiyah di negeri ini.
Apapun yang terjadi, apapun yang dialami, seberat apapun duka deritanya, seberat apapun ujian dihadapi, dan tentunya juga ada canda tawa, bahagianya dan apapun yang dialami Sanggar Kedirian. Patut bersyukur Sanggar Kedirian Terus Berjalan Berjalan Terus.
Saat pandemi Covid-19, semua kegiatan berhenti, tapi Sanggar Kedirian masih bisa menjaga istiqomah berkumpul melingkar membangun cinta. Rutinan Sanggar Kedirian Terus berjalan.
Dengan penuh syukur, Menjaga asa istiqamah Sanggar Kedirian, dilaksanakan rutinan pada: Jumat malam Sabtu legi, 19 Desember 2025, pukul 19.30 sampai selesai di Kampus Universitas Islam Tribakti Kediri.
Semoga kita semua diperjalankan melingkar di dalam Rutinan Sanggar Kedirian.
Dan berikut catatan perjalanan Sanggar Kedirian dalam Silaturahmi Penggiat Maiyah 2025 di Ndalem Kadipiro Yogjakarta 6-7 Desember 2025:
Sekitar lima tahun terakhir merupakan masa yang berat bagi Jamaah Maiyah. Marja’-marja’ Maiyah telah berpulang, disusul Mbah Nun yang menempuh jalan sunyinya. Peristiwa-peristiwa ini memunculkan dinamika yang sangat bergejolak di dalam hati jamaah. Namun semua itu tidak meredupkan nyala api untuk tetap berkumpul dan sinau bareng.
Justru wajah-wajah baru dan simpul-simpul baru mulai terbentuk di berbagai daerah. Fenomena ini menjadi pemantik diskusi dalam Silaturahmi Penggiat Maiyah 2025: bagaimana Jamaah Maiyah dapat tetap bertahan dan meneruskan apa yang telah diajarkan Mbah Nun.
Merumuskan dan memformulasikan hal tersebut bukan perkara mudah, karena setiap simpul memiliki dinamika dan karakter yang berbeda. Pada akhirnya, yang dapat dipegang oleh masing-masing simpul adalah kesepakatan antar jamaah serta ikhtiar mewujudkan Maiyah sebagai nilai—bukan sekadar aksen dan simbol.
Penyematan Logo Majelis ‘Ilmu Muhammad Ainun Najib di setiap kegiatan rutinan simpul Maiyah menjadi bentuk penghormatan atas apa yang telah diajarkan Mbah Nun, sekaligus sebagai pengenal bagi wajah-wajah baru yang bahkan belum pernah berjumpa langsung dengan beliau.
Di sisi lain, cantrik-cantrik yang ditunjuk oleh Mbah Nun sebagai redaktur Maiyah—Mas Helmi, Mas Jamal, dan Pak Harianto—sedang menyusun ensiklopedi keilmuan Mbah Nun. Mereka tengah menjalankan tugas yang sangat berat: meringkas, menyederhanakan, serta menghubungkan berbagai pemikiran dan pengetahuan yang telah Mbah Nun sampaikan selama ini.
Ensiklopedi ini diharapkan menjadi panduan, buku saku Jamaah Maiyah di setiap kegiatan rutinan di masing-masing simpul, agar keilmuannya tetap bersambung kepada Mbah Nun. Menjadi nilai yang dipegang, terus berjalan, dan berjalan terus lintas generasi anak cucu Maiyah.
(Redaksi Sanggar Kedirian)








