Di bawah langit Kudus yang senantiasa membawa napas perjuangan para wali dan buruh-buruh tangguh, kita berkumpul bukan untuk sekadar merayakan angka yang berganti di kalender. Kita hadir untuk sinau bareng, membedah kembali sebuah pesan sunyi namun lantang dari Simbah kita, dalam tulisannya: “Tahun Baruku di Jalanan”.
Mbah Nun mengajak kita untuk tidak “mendongak” saat tahun baru tiba. Beliau mengajak kita menunduk, melihat aspal, melihat trotoar, dan melihat wajah-wajah yang seringkali kita lupakan dalam keriuhan kembang api. Di jalanan, tidak ada kepura-puraan.
Di jalanan, kita melihat wajah asli kemanusiaan kita; antara yang berjuang mencari sesuap nasi dan yang sekadar membuang-buang sisa hari.
Mbah Nun seolah menggugat tradisi ingar-bingar tahun baru karena keramaian hanyalah mengantar pada permukaan. Keramaian adalah gembok pintu pengetahuan dan kedalaman. Mbah Nun memilih laku jalanan, setelah sekian lama di halaman dan beranda masjid.
“Kuletakkan diriku di jalanan sesak, tempat puisi-puisi tidak berkostum, sebab tubuhnya telah dipenuhi cahaya nuraninya sendiri. Jalanan sesak oleh sahabat-sahabatmu yang engkau remehkan, yang engkau najiskan, yang engkau kafirkan, yang tidak fasih mengucapkan ayat, yang engkau sebut “abangan”, namun tak bisa engkau jamin bahwa kualitas iman mereka lebih rendah daripada kemantapan dan pameran imanmu dalam formalisme-formalisme”
Mungkin bait inilah kunci dari sikap Mbah Nun dalam memilih medan peran, di jalanan. Mengajak untuk berbuat, menuntut dan mengontrol kebijakan yang datang dari ‘kedalaman masjid’.
Mari berkumpul sambil mendiskusikan sikap dan laku beliau.. Sila merapat
(Redaksi Semak)








