Catatan ini tidak ditulis untuk melaporkan keberhasilan. Tidak ada target capaian. Ia sekadar menyimpan jejak bagaimana satu lingkar kecil pernah terjadi, agar tidak lenyap begitu saja setelah kursi dirapikan dan hujan reda.
Sinau Nulis ini berangkat dari niat sederhana merespons anjuran Mas Jamal (Redma) tentang reportase dan ingin ngobrol bersama Setia Naka Andrian selaku salah satu juru sastra ikonik di Tembang Pepadhang. Dua kali niat itu tertunda. Pertama karena tubuh kalah oleh kurang tidur. Kedua karena hujan. Kali ketiga, kami sepakat: niat yang tidak dijalankan hanya akan menjadi cerita pengantar tidur.
Maka diputuskanlah: sinau nulis #2, karena sebelumnya Tembang Pepadhang sempat melaksanakannya (2018). Naka mengusulkan, saya mengeksekusi sebisanya dengan membuat flyer. Tidak istimewa. Cukup jujur. Soal tempat sempat mengambang, hingga Kang Ulum membalas pesan singkat: Kopi Sufi siap. Kalimat pendek yang menyelesaikan banyak urusan.


Menjelang acara, sempat terlintas rasa ragu: jangan-jangan tak ada yang datang. Acara dadakan, tanpa publikasi panjang. Tapi Naka menutup keraguan itu dengan guyonan yang membumi:
“Kita kan tidak cari massa untuk nyaleg, apalagi jadi nabi.”
Kami tertawa, sekaligus lega.
Pukul 18.25, Kang Ulum mengabari lewat WhatsApp bahwa Naka telah tiba. Saya berangkat menyusul dengan sepeda matik, menempuh sekitar 22 menit perjalanan, mengenakan rompi caknun.com seperti membawa pengingat diri: datang untuk belajar, bukan pamer isi kepala.
Di Kopi Sufi, Naka dan Kang Ulum sudah duduk berhadap-hadapan dengan laptop. Meja kayu di tengah ruangan lebih menyerupai tungku obrolan daripada meja kelas. Sambil menunggu yang lain, kami berbincang ngalor-ngidul. Naka menanyakan tahun lulus SMA, jurusan kuliah. Pertanyaan dasar, tapi malam itu justru membuka jarak personal yang sebelumnya tak pernah kami lalui. Sinau nulis rupanya juga sinau saling mengenali.
Obrolan sempat menyinggung situs Tembang Pepadhang yang domainnya mati. Kata-kata yang pernah hidup kini menggantung. Arsip, ingatan, dan keberlanjutan kembali menjadi soal.
Tepat pukul 19.26, Ikmal dan Dika datang. Dika menunggang Honda Win 100 motor yang tidak ramai, tapi setia. Sejak itu, lingkar benar-benar terbentuk. Naka membuka acara dengan ramah, menanyakan nama satu per satu. Tidak langsung materi. Orang dihadirkan lebih dulu, baru gagasan menyusul.
Forum semi resmi pun dimulai. Naka berbicara santai. Kedua tangannya masuk ke kaus, seperti kantong kanguru, kebiasaan yang membuat suasana tidak tegang. Sesekali ia meneguk dari tumbler. Tumbler itu pula yang menjadi bahan guyonan kami dan Kang Ulum: pura-pura hilang, pura-pura dicari. Tawa kecil hadir agar obrolan tidak berubah jadi khotbah.
Pelan-pelan, materi menyusup di sela suasana. Naka menyebut bahwa menulis bukan soal siapa yang mampu, tapi siapa yang mau. Banyak orang bisa, tapi enggan memulai. Banyak yang mau, tapi takut salah. Menurutnya, tulisan tidak selalu harus baik dan benar. Yang lebih penting: indah dan tepat. Ia mengutip Alif Danya Munsyi dari buku: Bahasa Menunjukkan Bangsa.


Kang Ulum pamit sebentar ke masjid. Ia kembali membawa satu kresek gorengan. Seperti pengingat tak tertulis bahwa obrolan panjang perlu ditemani kunyahan. Dan kami pun memakannya bergantian setelah dipersilakan.
Naka lalu menyinggung EYD. Bukan sebagai hukum mati, melainkan alat agar tulisan tidak menyulitkan pembaca. Aturan, katanya, tidak untuk membelenggu, tapi untuk menolong. Dari situ ia berbicara tentang AI. Tidak diposisikan sebagai musuh, tidak pula sebagai penolong mutlak. AI cukup dijadikan rekan refleksi, teman bercakap untuk menguji pikiran, bukan pengganti proses batin.
Sekitar pukul 20.40, Abdur dan Tonil tiba. Lingkar melebar. Kang Ulum memutar lagu-lagu KiaiKanjeng dengan volume lirih, sekadar rengeng-rengeng, cukup terdengar agar ruang tidak kosong. Di sela itu, Kang Ulum terlihat membungkus buku berjudul: Kaliwungu dalam Lintasan Ruang dan Waktu. Dalam hati saya bergumam: mungkin memang begitulah kerja orang yang menjaga pelataran sastra Kaliwungu. Mengurus yang hadir sambil merawat sejarah.
Materi berlanjut. Naka bercerita tentang menulis ulang buku agar memahami, bukan sekadar tahu. Ia mengaku berutang pada puisi. Dari puisi ia mengenal kata. Dari kata ia belajar menulis. Ia mengutip Prof. Muhadjir: menulis pendek itu tidak gampang. Ringkas itu mahal. Maka penulis perlu palugada tulisannya bisa dikonsumsi umum, bukan hanya catatan pribadi.
Ia kemudian mengutip moto majalah Tempo: enak dibaca dan perlu. Dua syarat yang sering dianggap remeh, padahal justru menentukan umur sebuah tulisan. Enak dibaca berarti penulis bersedia menata kalimat agar tidak menyakiti mata dan pikiran pembaca; perlu berarti tulisan itu hadir bukan untuk pamer kepandaian, melainkan menjawab kegelisahan zaman. Tanpa kelezatan, tulisan akan ditinggalkan; tanpa keperluan, ia hanya menjadi arsip sunyi yang tak pernah benar-benar dibuka.
Naka pun mengutip lagi dari Ayu Utami: kita menawarkan sesuatu tidak hanya data, tapi juga cerita. Dari situ ia menyebut Hikayat Kebo, “Jurnalisme sastrawi”. Tulisan yang bercerita, katanya, akan bertahan lebih lama. Ia menyinggung arsip Belanda Liden selalu punya buku cetak. Jika suatu hari internet runtuh, tulisan cetak masih bisa menyelamatkan ingatan.
Setelah itu, forum mengupas esai yang pernah saya kirim ke assets.mymaiyah.id/. Diskusi berlangsung setara, tanpa nada menggurui. Pukul 21.20, Kang Sutris datang membawa kopi lelet tambahan energi bagi malam.
Tepat pukul 22.00, Naka pamit. Ipar tirinya datang. Sebuah istilah yang muncul karena mertuanya menikah lagi. Hidup, seperti tulisan, sering lebih rumit daripada definisi.
Hujan turun, tapi lingkar tidak langsung bubar. Yahya datang menyusul, terlambat namun semangatnya utuh. Obrolan berlanjut ke Silatnas dan pesan-pesan Cak Zakki. Jamaah yang hadir berbeda simpul dengan Sinau Bareng edisi Desember, maka pengulangan bukan kemunduran, melainkan penjagaan makna.
Catatan ini tidak ditutup dengan kesimpulan. Karena simpul tidak bertugas menyimpulkan dunia. Ia hanya menjaga agar peristiwa kecil tidak benar-benar hilang.
Sinau nulis selesai tanpa sorak. Tapi barangkali memang begitu cara kerja lingkar: pelan, kecil, dan diam-diam menanam ingatan.








