Majelis Ilmu Muhammad Ainun Najib
Malam itu Maiyahan dimulai dua orang. Syafril Teha Noer (Buya) dan Suhartono. Sementara yang lain masih dalam perjalanan. Dimulai dengan pertanyaan bagaimana manusia tetap menjaga kewajaran dalam kesetiaan berjuang me-manage. Seperti dalam daur Mbah Nun berjudul “Kewajaran”.
Buya memulai dengan cerita di mana keadaan membuat masa kelas 2 SD dihabiskan hidup bersama paman dan keluarganya. Sebagai kemenakan perasaan sebagai warga kelas dua membuat Buya kecil mewajarkan beberapa hal yang tidak wajar bagi umumnya anak seusianya.
Umumnya anak jika lapar hanya tinggal meminta ke orangtua, maka orangtua akan mempersiapkan dan mempersilakan. Tidak halnya dengan Buya kecil, ketika lapar menunggu dipersilakan makan. Belajar dari keadaan. Pijakan pertama dalam kewajaran manusia. Dari kisah masa kecil Buya diperas dalam pemaknaan untuk bisa beradaptasi pada realita.
Menahan lapar, kewajaran manusia adalah menemukan cara merumuskan masalah. Memahami keadaan yang membuat harus menahan lapar diperlukan hingga secara sadar bahwa setiap keadaan harus dilalui dengan adanya campur tangan Tuhan. Begitulah proses memelihara anggapan akan ada waktunya makan. Maka dalam proses pergulatan rasa apapun, dari contoh menahan lapar membuat kewajaran manusia tetap terjaga berupa tidak lepas dari standar moral.

Dari Buya dilanjutkan ke Muhammad Haidir (Mbah Kodir). Mbah Kodir memulai dengan menelisik arti kata ‘wajar’ dari kamus besar bahasa Indonesia. Kata wajar artinya sesuai keadaan atau norma. Namun ironisnya yang terjadi kata wajar sering ditempatkan pada hal-hal negatif atau kerusakan. Mbah kodir mengambil contoh dari prilaku pembuatan SIM atau perpanjang masa berlaku SIM. Rahasia umum untuk urusan tersebut agar lebih muda dan efisien dengan menggunakan jalur non resmi (calo). Hal ini anehnya sudah dianggap sebagai suatu kewajaran.
Kembali ke Buya. Maka perlu menemukan ketepatan yang sejati dengan fasilitas akal. Dengan akal berupaya menemukan kewajaran Al-Qur’an sebagai kesadaran kewajaran keagamaan. Menggali lebih dalam dari daur Mbah Nun-Kewajaran maka manusia wajib memastikan kewajaran jalan alam semesta. Dengan akal kita terhindar dari mengingkari tugas-tugas yang wajar. Maka kita perlu sudut pandang lain. Proses pengelolaan pada alam semesta perlu rambu-rambu untuk mencegah berlaku tidak wajar.
Sesi terakhir Dari Mas Panji. Memulai dengan pertanyaan “kewajaran apa sama dengan pemakluman”. Dari pertanyaan, Mas Panji membawa majelis untuk mentadabburi surah Al-Hajj ayat 46. Tidakkah mereka berjalan di bumi sehingga hati mereka dapat memahami atau telinga mereka dapat mendengar? Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang berada dalam dada.
Dari ayat ini untuk menemukan kewajaran manusia terbentuk tiga tingkat frame yang harus dicapai. Frame logika, menciptakan kausalitas. Dari sini terbentuk kesadaran untuk tidak secara tiba-tiba diwajibkan sesuatu kepada manusia dari manusia lain. Frame estetika, memahami pertumbuhan pada setiap manusia. Dari sini tercipta kearifan dalam merespon berbagai hal. Terakhir frame nurani, tercipta sensitivitas nurani hingga memandang segala hal dengan hati yang terbuka.

Pada akhirnya memahami kewajaran manusia adalah kesetiaan berjuang me-manage dan mengadilkan takaran harus diterapkan pada setiap lini kehidupan manusia yang bersinggungan dengan alam semesta dan sesama manusia. Kewajaran manusia menciptakan kesadaran manusia, membikin kehidupan menjadi wajar.
(Redaksi Ma’syar Mahamanikam/Suhartono)








