Sabtu malam itu, hujan turun cukup lebat di beberapa wilayah Pasuruan. Langit gelap dan jalanan basah tak menyurutkan langkah para sedulur untuk kembali melingkar dalam Majelis ‘Ilmu Muhammad Ainun Nadjib yang digiatkan Paseduluran Maiyah Pasuruan. Di Gubug Kuliner Ati Jembar, Suwayuwo, satu per satu sedulur berdatangan. Gus Ishom menyambut mereka dengan senyum hangat, seolah hujan hanya latar, bukan penghalang.
Ketika hujan semakin deras, Sinau bareng pun dimulai. Tawashshulan dipimpin oleh Mas Jufri, menjadi pembuka yang menenangkan, mengikat niat dan arah majelis. Mas Rizal kemudian membuka obrolan dengan menegaskan bahwa tema malam itu—Arsitektur Jiwa—bukan tema ringan. Yang dibicarakan bukan benda, bukan bangunan kasat mata, melainkan jiwa: sesuatu yang tak terlihat, sulit diukur. Pendekatan pada jiwa adalah bahwa jiwa hanya bisa dikenali dari ekspresi/gejalanya, atau dengan amsal atau perumpamaan tentangnya.
Pembukaan awal mewedar bagaimana pencarian jiwa sudah dilakukan filsuf zaman yunani kuno, oleh orang jawa lewat paribasan jawa, juga sudah diberikan informasi oleh Al-Qur’an dan Hadis Nabi. Sehingga simpul kami, filsafat senantiasa penasaran mencari tahu bagaimana jiwa itu, jawa urun konsep roso dan sangkan-paran, agama memberikan tahu siapa penciptanya dan kemana akan menuju. Sedangkan yang kita lakukan di Maiyah adalah mengajak tiap orang mencari dan menemukan makna jiwa bersama-sama, berdaulat, dengan penuh kegembiraan dan penerimaan.
Mas Ari menjelaskan bahwa istilah arsitektur jiwa bukan istilah baru, melainkan didapat dari glosarium Mbah Nun. Ia merujuk pada ungkapan man ‘arafa nafsahu, mengenal diri sebagai jalan untuk mengenal Tuhan. Belajar arsitektur jiwa berarti belajar memahami bangunan batin kita sendiri. Salah satu tujuannya agar kejadian di luar tidak mudah menggoyahkan. Apa yang membentuk jiwa, pada akhirnya akan menentukan seberapa kuat seseorang berdiri menghadapi realitas. Bahasan berlanjut ke dinamika kesadaran dan bawah sadar, relasi antara otak dan hati, serta soal realitas dan makna yang dijadikan pemantik sekaligus pagar obrolan.
Gus Ishom kemudian mengajak jamaah menengok satu peristiwa penting dalam sejarah kenabian: Isra’ Mi’raj. Saat Nabi Muhammad berada di puncak kesedihan saat ditolak dakwahnya, kehilangan orang-orang terdekat. Allah justru mengajaknya “Plesir” untuk menghibur beliau. Kemudian Gus Ishom menyinggung kecenderungan manusia yang sering memprotes takdir, kurang berbaik sangka dan bersyukur, dan merasa Tuhan tidak adil pada dirinya. Padahal, justru di titik-titik rapuh itulah jiwa sedang dibentuk untuk kokoh, dan bisa jadi berikutnya Tuhan akan memberikan hiburan bagi seorang hamba.
Mas Ari melemparkan pertanyaan yang menggoda sekaligus menggelisahkan: jika otak begitu vital dalam mengatur kesadaran, lalu di mana posisi hati yang selama ini diyakini filsafat dan agama sebagai pusat kendali jiwa?
Pertanyaan itu memantik partisipasi para sedulur. Obrolan bergerak dari bahasa, filsafat, hingga sains. Dibahas bahwa “heart” dalam bahasa Inggris merujuk pada jantung, bukan hati dalam pengertian organ liver, sebagaimana dijelaskan dalam tradisi keilmuan Islam, termasuk oleh Imam Ghazali. Teori brain–heart axis pun disinggung, seolah menjembatani keyakinan lama dengan temuan neurosains modern. Dari sudut pandang ilmu otak, konsep “hati” bisa dipahami sebagai kerja emosi dan rasa—wilayah afektif yang tak sepenuhnya rasional, namun sangat menentukan.
Mbak Marhamah, merujuk pemikiran Johann Friedrich Herbart, memandang jiwa sebagai ruang sederhana yang diisi oleh ide-ide pengalaman yang saling bertaut membentuk massa appersepsi, yakni latar batin yang menentukan bagaimana pengalaman baru dimaknai. Appersepsi bukan sekadar mengenali, melainkan menafsirkan realitas berdasarkan struktur ide yang telah hidup di dalam diri, sehingga persepsi dan asumsi lahir dari proses ini dan dapat mengeras menjadi pola tetap. Pendidikan seharusnya menyiapkan jembatan appersepsi, sementara pada GenZ, banjir rangsangan membuat arsitektur jiwa rentan dan penuh gangguan.
Potensi GenZ sangat besar, sedang di saat yang sama arsitektur jiwanya terancam rapuh. Berlimpahnya informasi dan hiburan, menyebabkan gangguan yang menyerang bukan lagi sekadar fisik, tetapi langsung ke wilayah jiwa: kecemasan, rasa tidak aman, dan krisis identitas. Jiwa, menurutnya, bukan sesuatu yang abstrak belaka. Jiwa adalah matter, “sesuatu”, memiliki bobot, dan bisa terluka. Puasa dalam tradisi Islam menumbuhkan kesadaran spiritual, dan filsafat Yunani yang mengasah kesadaran berpikir. Keduanya membangun jiwa, dengan pintu yang berbeda.
Mas Sulthon kemudian menambahkan perspektif dari tulisan-tulisan Mbah Nun. Menurutnya, perbedaan mendasar manusia dengan makhluk lain terletak pada kesadaran. Dari sini, diskusi melebar pada makna kesadaran itu sendiri. Dia mengaitkan diskusi dengan esai-esai Cak Nun tentang mikrokosmos dan makrokosmos. Ia menyampaikan pandangan bahwa bumi tidak sadar dirinya luas, gunung tidak tahu dirinya tinggi, tetapi manusia diberi kesadaran tentang dirinya sendiri. Di situlah letak tanggung jawab manusia. Dengan akal dan nafsu yang dimiliki, manusia diuji: semakin dalam nafsu dikubur dan dikendalikan, semakin tinggi hati bisa melangit.
Mas Zuhri membawa diskusi ke wilayah psikologi dan filsafat Jawa. Ia menyampaikan bahwa dalam banyak teori psikologi modern, tidak ada definisi jiwa yang benar-benar utuh. Dalam falsafah Jawa pun, jiwa dianggap sesuatu yang sakral, sehingga tidak sembarangan ditafsirkan. Dia menguraikan tahapan kesadaran: Rohso, Rohso Sejati, Sejatining Rohso, hingga Rohso Tunggal. Istilah-istilah ruh, nafs, nyawa, sukma, qalbun, dan shadr ikut berseliweran, semuanya menunjuk pada satu poros yang sama: jiwa sebagai kesadaran.
Pada titik tertentu, forum seolah sepakat bahwa jiwa identik dengan kesadaran. Mas Ari lalu mencoba merangkainya dari sudut pandang neurosains, dengan merujuk pada kerja Default Mode Network (DMN) sebagai basis kesadaran diri, sebelum masuk pada gagasan besar tentang arsitektur jiwa. Ia mengibaratkan jiwa seperti sebuah bangunan. Ada fondasi, struktur, ruang, dan atap. Jika satu lapisan rusak atau timpang, keseluruhan bangunan akan terpengaruh.

Arsitektur jiwa manusia tersusun berlapis-lapis, dari yang paling dasar hingga paling dalam. Fondasinya adalah lapisan naluriah, tempat dorongan bertahan hidup bekerja—lapar, takut, marah, aman—yang bersifat reaktif dan belum mengenal moral. Di atasnya terdapat lapisan emosional, yang membentuk rasa cinta, cemburu, malu, dan luka batin, tempat banyak konflik manusia bermula. Selanjutnya lapisan kognitif, tempat akal, bahasa, dan identitas diri dibangun, meski sering kali akal hanya menjadi pembenar bagi dorongan emosi dan naluri. Lapisan berikutnya adalah moral dan nilai, yang memberi arah benar–salah, empati, dan keadilan, namun hanya tumbuh melalui pendidikan dan keteladanan. Puncaknya adalah kesadaran spiritual, atap arsitektur jiwa, ketika manusia melampaui ego, menemukan makna, ketenangan, dan keterhubungan dengan Tuhan dan semesta. sebuah perjalanan dari dorongan nafsu menuju jiwa yang mantap dan utuh. Bekal yang Mbah Nun berikan kepada jamaah Maiyah, menurutnya, adalah prinsip Laa Ubali. Asalkan tidak ada kemarahan dariMu, Tuhan kepadaku, aku tidak peduli dengan apa yang terjadi.
Mas Rizal berbagi refleksi. Ada kegelisahannya setelah menyimak kajian tentang terjemahan Al-Qur’an, khususnya pada kata na‘budu dalam Surah Al-Fatihah dan Surah Adz-Dzariyat. Terjemahan umum “menyembah” menurutnya kurang utuh. Akar kata Na’budu adalah ‘abid yang berarti hamba, yang menunjuk pada posisi eksistensial, bukan sekadar aktivitas ritual. Menghamba berarti seluruh hidup menjadi pengabdian, bukan hanya ibadah formal. Penekanan pada penghambaan inilah yang dinilai memberi dampak lebih luas dan lebih dalam, serta relevan di setiap situasi hidup manusia.
Menyambung lagi ke topik jiwa, gangguan jiwa muncul ketika fondasi tak aman, emosi tak diakui, akal membenarkan ego, dan makna hidup menghilang. Manifestasinya bisa berupa kecemasan, depresi, agresi, hingga kerusakan adab. “Paradigma adalah arah rumah, mental model adalah denahnya, mindset adalah suasana di dalamnya,” simpul Mas Ari. “Dan arsitektur jiwa menentukan siapa yang tinggal di sana dan siapa yang memimpin.”
Mas Ubaid, sebagai seorang yang sering berinteraksi dengan Mbah Nun kala itu, mengenang saat diminta oleh Mbah Nun untuk membawakan foto Kiai Hamid ke Probolinggo bersama ayah Gus Ishom. Mas Ubaid juga berpendapat bahwa beberapa tokoh yang mewarnai perjalanan Mbah Nun adalah Mbah Ud dan Kiai Hamid yang sering menemui beliau secara metafisik.
Pendidikan, pengalaman, dan nilai menjadi kerja arsitektural jangka panjang. Peradaban runtuh bukan karena kurang pintar, tetapi karena arsitektur jiwa kolektif bangsa yang rusak. Di situlah Maiyah mengambil peran di ruang publik: sebagai ruang Sinau bareng untuk memperbaiki arsitektur jiwa manusia Indonesia.

Tak terasa waktu merambat menuju hampir pukul dua dini hari. Hujan masih turun, obrolan masih hangat. Majelis Ilmu pun dipungkasi dengan doa oleh Mas Sulthon, menutup malam yang basah dengan kesadaran yang kian jernih.
Bismillah Terus Berjalan.
(Redaksi Paseduluran Maiyah Pasuruan)








