Mengawali tahun 2026, rutinan Simpul Maiyah Sendhon Waton Rembang setiap Ahad malam Senin Legi melingkar kembali di Sanggar Seni Cakraningrat Tawangsari Rembang pada 18 Januari 2026.
Setelah diguyur hujan beberapa kali, suasana menjadi lebih dingin dan nikmat.
Seperti sebelumnya malam Senin legi diisi dengan Tawashshulan dan Sinau Bareng. Bulan Januari ini bertema “Nandur Tresno”.
Menariknya, sebelum Tawashshulan dimulai sembari menunggu wedang kopi dan jahe terdapat sesi yang tak terduga, ngobrol santai tapi berilmu dari dalang cilik yang masih duduk di bangku SD yakni Jagad Jenar Ariyanto, putra Ki Sigid.
Jagad memantik pentingnya sabar yang ia contohkan dengan kegiatan mancing, berapapun hasil yang diperoleh dari memancing patut disyukuri tak peduli sedikit atau banyak yang didapatkan. Jamaah maiyah lainnya dibuat heran, pasalnya setelah dipantik beberapa pertanyaan oleh ayahnya, Jagad Jenar memberikan perspektif sendiri terhadap Fenomena AI, isu Perang Dunia. alih-alih mengikuti sampai akhir, Jagad meminta izin dulu tidak mengikuti acara formal maiyah yakni Tawashshulan dan Sinau Bareng dikarenakan besoknya sekolah pagi.

Tawashshulan dan Sinau Bareng SW Januari kali ini terhitung dilingkari sejumlah tujuh orang. Angka tujuh oleh beberapa peradaban merupakan keramat, yang orang Jawa sendiri mengartikan angka tujuh atau “Pitu” merupakan “pitulungan”. artinya rutinan Senin legi ini tak akan berjalan tanpa Taufik dan pertolongan dari Allah yang maha kuasa.
Sebelum memulai Tawashshulan diawali kirim doa dan nyambung rasa dengan perantara surat Al-faatihah kepada para leluhur Simpul Maiyah Sendhon Waton. Setelah Tawashshulan selesai istirahat sejenak untuk ngopi dan dilanjutkan dengan pembacaan mukaddimah tema “nandur tresno”. Sinau bareng malam ini mengalir, semua orang yang melingkar adalah guru sekaligus santri. semua hadirin bertindak sebagai narasumber memberikan perspektif nandur Tresno.
Moderator mengawali dengan pertanyaan dasar: Apa itu “tresno”? Apakah hanya perasaan atau laku hidup? kemudian dielaborasi secara mendalam menurut perspektif masing-masing. Ki Sigid memberkan perspektif bahwa Nandur Tresno dimulai dari mencintai diri sendiri. Pembahasan semakin segar karena dielaborasi dengan peristiwa generasi muda sekarang cenderung cepat stress, mudah mengalami kecemasan bahkan parahnya bunuh diri. Hal ini dikarenakan kurangnya dalam mencintai diri dengan mengenali diri pribadi. seseorang tak akan cinta jika dia belum mengenal.
Nandur tresno selain dari perspektif fenomena kejiwaan juga dilihat dari kesehatan secara jasad. Setiap orang hendaknya mampu mendeteksi aliran darah dan kerja-kerja organ tubuh sehingga berjalan seperti semestinya. misalnya ketika seseorang mengalami kembung, panas, mual, seseorang harus tau kenapa bisa begitu? adakah organ yang kelelahan? dengan mempelajari sistem kerja organ tubuh sendiri diharapkan mampu mengobati diri sendiri tanpa obat.
Setelah pembahasan tentang nandur tresno kedalam diri pribadi dilanjutkan dengan keluar diri pribadi jasad dan jiwa yakni kaitannya dengan pertanian. selama ini pada umumnya pertanian hanya fokus pada tanaman dan panen besar, Tidak berfokus pada kondisi tanah. Padahal kondisi tanah dalam jangka waktu sampai anak cucu sangat berpengaruh pertumbuhan tanaman. pertanian organik mencoba untuk mengembalikan tanah seperti fungsi alaminya.
Dalam kehidupan sosial nandur tresno dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad dengan menyuapi makanan setiap hari seorang yahudi buta yang jompo. Meski dicaci maki setiap hari Nabi Muhammad tak membalas caciannya, melainkan membalas dengan cinta dan kasih sayang.
Sinau Bareng awal tahun Sendon Waton terasa gayeng. Tema Nandur Tresno dielaborasi dari berbagai perspektif mulai dari diri pribadi meliputi psikologi, medis, spiritual Islam,Budaya Jawa, hingga Pertanian Organik. Diskusi malam ini dipuncaki dengan closing statement oleh semua hadirin. dtutup dengan rasa penuh syukur kepada Allah dan doa.
Rembang, Senin Legi 19 Januari 2026
(Redaksi Sendhon Waton)








