26 Tahun Gambang Syafaat. Masjid Agung Jawa Tengah, 25 Desember 2025.
Mulanya saya datang untuk memenuhi undangan, namun ketika sudah duduk melingkar dan mulai menyimak, kata: “Tamu”, pelan-pelan mulai gugur.
Di Maiyah undangan bukan status, tapi jembatan. Kita tidak disambut untuk dipersilakan, namun disertakan.
Malam itu terasa begitu khidmat, seolah menjelma ruang kegembiraan. Tentu saja gembira, siapa yang tak senang dapat dipertemukan dengan sesama Jamaah Maiyah. Terlebih dapat melihat Pakdhe-pakdhe KiaiKnjeng dalam kondisi sehat wal afiat.
Gus Aniq membuka lewat permintaan bacaan Al-Fatihah untuk Mbah Nun. Sederhana, namun menjadi pengingat untuk kembali menelusuri pangkal rahim niat. Bahwa segala sesuatu berangkat dari fitrah, tidak hanya manusia. Namun: Gagasan, Forum, Jamaah bahkan kebersamaan.
Ketika saya dan sedulur-sedulur Tembang Pepadhang tenggelam ke dalam romansa, hadir pula Redaktur Maiyah (Redma) membersamai forum pada malam hari ini. Kaget, tentu. Namun mungkin begitulah cara Maiyah memeluk jamaahnya: tidak dengan pengumuman, namun kehadiran. Datang, duduk, menyimak, dan menyatu.

Kata Mas Helmi Mustofa, “Maiyah adalah kebersamaan, bukan hanya kebersamaan antar-manusia, tetapi juga bersama Allah. Dan karena bersama Allah, kita menjadi tidak gampang sedih, cemas. Dan itulah karakteristik jamaah Maiyah”.
Dari situ kita belajar bahwa kebersamaan bukan sekadar soal ramai dan saling menguatkan, melainkan soal kehadiran Tuhan dalam cara kita membaca hidup.
Mas Jamal menimpali dengan guyonan khas Maiyah menyitir dialog Mbah Nun dengan seorang anak di Sinau Bareng, “Kambing itu saudaramu atau bukan?” Jamaah tertawa, tapi paham arah canda itu. Kambing bukan sekadar hewan, ia saudara tua sesama makhluk. Di titik itu, Maiyah mengajari kita untuk menurunkan ego manusia, agar tidak merasa paling pusat semesta.
Mas Helmi lalu melempar forum untuk berbagi kesan tentang Sambung Sedulur. Tapi karena ini Maiyah, sinau bareng lebih kuat daripada sekadar berbagi cerita. Beberapa jamaah justru membuka keresahan yang lama mereka simpan. Tidak rapi, tidak sistematis, tapi jujur.
Gambang Syafa’at selaku sohibul bait memeluk keresahan jamaah dengan hangat. Meski tidak sepenuhnya sesuai dengan susunan awal, justru di situlah wajah Maiyah terasa utuh: forum ini bukan panggung jawaban, melainkan pangkuan.
Dalam hati saya bergumam, seolah mendengar bisikan Mbah Nun: “Apa pun keresahanmu, kemarilah. Aku akan memelukmu dan menyayangimu.” Mbah Nun mungkin tidak hadir secara fisik, tapi ruhnya berjalan-jalan di antara kami, dari satu keluhan ke keluhan lain, dari satu senyum ke senyum berikutnya.

Sebenarnya saya ingin berbagi pada malam itu. Namun kesempatan tak selalu hadir bersamaan dengan kesiapan. Maka izinkan saya menyimpannya di sini.
Di Gambang Syafa’at, saya dipertemukan kembali dengan teman kuliah yang lama terpisah. Ada rasa gembira yang sederhana tapi menghentak: “Oh, jebul konco plek-ku iki Maiyah.” Dulu, semasa kuliah, ia tak pernah menunjukkan ketertarikan pada Maiyah. Berbanding terbalik dengan saya yang terang-terangan menekuninya.
Di titik itulah saya paham bahwa Maiyah tidak bekerja dengan seleksi ideologis. Ia tidak menuntut pengakuan, tidak memaksa kesamaan. Ia hanya menyediakan ruang. Dan suatu hari, tanpa direncanakan, ruang itu mempertemukan kembali sedulur-sedulur yang sempat berjalan di jalurnya masing-masing.
Maka Sambung Sedulur bukan proyek sosial, bukan slogan kebudayaan. Ia adalah peristiwa batin. Tentang bagaimana manusia dipertautkan kembali tanpa sekat status, tanpa pagar masa lalu, tanpa perlu seragam pemikiran. Cukup satu syarat: kesediaan untuk duduk bersama, mendengarkan, dan pulang sebagai manusia yang lebih utuh.
Dan Gambang Syafa’at, pada usianya yang ke-26, telah membuktikan satu hal penting: bahwa menyambung sedulur tidak butuh teriak-teriak persatuan. Ia hanya perlu ketulusan untuk terus membuka pintu, dan kesabaran untuk menunggu siapa pun yang suatu hari ingin pulang.








