Seorang cenayang yang malang hidup di sebuah negara. Dia punya kelebihan membaca masa depan. Entah, kemampuannya diperoleh karena kesabarannya niteni, ataukah memang karunia dari Batara Kala yang dipercayainya, atau gabungan dari keduanya. Sayang disayang, cenayang itu dianggap gila oleh masyarakatnya, bocoran-bocoran tentang masa depan yang diperoleh dari visinya dan digembar-gemborkan, tidak ada yang mendengarkannya sama sekali.
Anak-anak muda mengelilinginya, bukan untuk mendengarkan cerita masa depan, tetapi hanya sebagai hiburan belaka. Padahal cenayang saat menceritakan visi masa depannya, sudah berkata bahwa masa depan negara dalam bahaya. Itulah Kutukan. Mengetahui masa depan tanpa bisa mengubahnya, mengetahui masa depan tanpa ada yang mau mendengarkan. Sang cenayang adalah orang paling resah, seresah-resahnya.
Cenayang hanya mampu bergumam lirih: “aku hanya mampu merindukan pertemuan, belum bisa mewujudkannya”
Sampai pada suatu ketika, Raja bermimpi bertemu dengan cenayang. Seluruh prajurit diminta mencari cenayang dalam mimpi raja, raja ingin mendengarkan visi masa depan negaranya dari sang cenayang. Celakanya, sang cenayang melihat dalam mimpinya, bahwa di masa depan, dia akan mati digantung oleh raja.
Siapa yang tidak takut akan kematian, sang cenayang menghindar dan selalu bersembunyi dari raja. Sang cenayang menyamar menjadi apa saja, sang cenayang mengaburkan berita masa depan agar dia tidak dipahami sebagai cenayang. Pertemuan dengan sang raja tidak pernah terjadi.
Tentu saja itu adalah kisah belaka. Tetapi kadang, dalam berbagai variasi, kita mengalami sebagaimana cenayang mengalami, terjebak dalam “ruang rindu”.
Semak edisi Februari, akan mendiskusikan kerinduan apa saja dialami anak-anak bangsa. Yuk, bertemu demi masa depan yang lebih baik, meski mungkin ada resikonya. (Redaksi Semak)








