Jika akan bepergian ke suatu kota lantas naik bus, kita tidak perlu tau niat setiap penumpang mengapa menuju kota tersebut. Tidak perlu usil mencatat alasan kenapa orang jadi seperjalanan menuju kota itu. Kita hanya perlu menjaga adab selama perjalanan, tidak mengganggu penumpang lain, tidak merusak fasilitas bus, dan mengganggu sang sopir. Utamanya malah harus bisa saling sinergi dengan penumpang lain, misalnya berbagi perbekalan yang dibawa.
Perbedaan itu adalah dari dan milik Allah. Maka perbedaan tidak bisa dihapuskan. Keniscayaannya Allah perintahkan untuk saling mengenali dalam perbedaan.
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari benih kelelakian dan kewanitaan serta menjadikan kamu bergolongan-golongan dan berkelompok-kelompok supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al-Hujurat: 13)
Memetik dari ayat di atas, perbedaan tidak lantas untuk diseragamkan. Perbedaan kemanusiaan malah menjadi alasan untuk mengenal, dari mengenal saling melengkapi dan bersinergi terjadi.
Bangunan kemanusiaan tidak mungkin solid tanpa ada perbedaan peran, tidak mungkin kompak tanpa ada perbedaan keahlian, tidak mungkin harmonis tanpa ada perbedaan fisik. Bangunan sosial kemanusiaan memang berbeda-beda namun membentuk kesatuan. Atas nama kelurahan/desa, kota/kabupaten, provinsi, lantas menjadi negara. Menjadi bagian yang utuh.
Perbedaan keyakinan pun tidak lantas menjadi alasan adanya pertentangan. Keyakinan semestinya ada di ruang privasi dalam diri. Dari keyakinan yang tampak adalah kerelaan menerima berbagai perbedaan.
Keteguhan pada kepercayaan tidak cukup sebagai alat perekat dari perbedaan. Ia harus diolah dalam diri manusia hingga yang hadir dalam proses kemanusiaan adalah harmonisasi. Masalahnya adalah jika kepercayaan jadi bahan bakar perdebatan, maka ujungnya yang terjadi akan saling mengungguli. Jauh harapan tercapai struktur kemanusiaan yang solid, kompak, dan harmonis.
Perbedaan keyakinan yang dipertontonkan tak ubahnya ajang unjuk ego benar-salah. bukan kolaborasi yang terjadi. Perbedaan keyakinan menjadi faktor utama sulitnya terjadi persatuan. Jika keyakinan sudah disalah artikan atau menjadi anggapan kebenaran mutlak, maka kita perlu belajar. Jika dirasa perlu, membuat kesepakatan bagaimana caranya untuk berbeda namun tetap saling menjaga kemuliaan, keluhuran, kebaikan, dan kebahagiaan. Jalinan damai, baik, sentosa, dan rukun akan terwujud tanpa perlu dikampanyekan dan dijadikan jargon di baliho-baliho.
Tidak perlu meruntuhkan keyakinan masing-masing, karena kita hidup berdasarkan keyakinan yang dipegang. Kita hanya perlu membikin ruang perbedaan. Ruang itu dibangun dengan bahan takwa. Di ruang itu kita jaga bersama untuk tidak saling menindas apalagi berupaya keras melakukan penyeragaman. Di awal tahun masehi 2026 melingkar kembali belajar bersama membikin ruang perbedaan dalam diri dan dibawa ke mana pun kita berada. Melingkar belajar bersama di Majelis Ilmu Muhammad Ainun Najib, Ma’syar Maiyah Mahamanikam edisi 77.








