Kita sedang melangkah di bulan kedua tahun 2026. Januari kemarin kita awali dengan kawitan—sebuah laku syukur bersama, membuka tahun bukan dengan gegap gempita, melainkan dengan niat belajar dan menata diri lewat sinau bareng. Bulan ini, Waro` Kaprawiran mengajak kita singgah pada satu tema yang terdengar sederhana, namun menyimpan ruang renung yang luas: Roroning Atunggil.
Secara kasat mata, ia bisa kita baca sebagai dwi tunggal, dua yang menjadi satu, atau sekadar angka dua puluh satu. Angka yang kita pakai sebagai penanda rutinan: tanggal 21 dalam kalender Jawa, bulan demi bulan. Namun barangkali angka ini tidak berhenti sebagai penunjuk waktu. Bisa jadi, ia sedang mengajak kita menoleh pada soal kesatuan—tentang bagaimana dua hal yang tampak berseberangan justru saling berjumpa dalam hidup sehari-hari.
Istilah roroning atunggil ini kita jumpai pada baris pungkasan bait ke-12 Pupuh Pangkur dalam Serat Wedhatama, karya KGPAA Mangkunegara IV. Sebuah serat yang memuat pupuh-pupuh macapat—Pangkur, Sinom, Pocung, Gambuh, dan Kinanthi. Pada bait tersebut tertulis:
Sapantuk wahyuning Allah,
Gya dumilah mangulah ngelmu bangkit,
Bangkit mikat reh mangukut,
Kukutaning jiwangga,
Yen mangkono kena sinebut wong sepuh,
Liring sepuh sepi hawa,
Awas roroning atunggil.
Pupuh Pangkur sering dipahami sebagai ruang wejangan: fase ketika seseorang belajar memangkur hawa nafsu dan merapikan ego, agar bisa melangkah dengan kejernihan. Maka menarik untuk direnungkan, mengapa roroning atunggil justru muncul di ujung pupuh ini. Apakah ini sebuah penekanan, atau isyarat yang sengaja diletakkan agar pembaca berhenti sejenak dan bertanya?
Mungkin roroning atunggil bisa kita bayangkan sebagai pertemuan dua arus. Seperti kisah Nabi Musa tentang Majma’ al-Bahrain, tempat bertemunya dua laut. Di titik perjumpaan itulah, ikan bekal yang telah mati justru hidup kembali dan melompat pergi. Sebuah kejadian yang sederhana, nyaris sepele, tetapi terjadi tepat di wilayah pertemuan—bukan di satu sisi, bukan pula di sisi yang lain. Seolah ada pesan halus bahwa kehidupan, kesadaran, dan kejutan makna justru sering muncul di batas-batas yang tidak kita duga.
Di sisi lain, roroning atunggil juga bisa kita dengar seirama dengan gagasan ummatan wasathan—sikap tengah-tengah yang tidak larut dalam ekstrem mana pun. Bukan netral yang pasif, melainkan keseimbangan yang aktif: menjaga jarak dari berlebih-lebihan, tanpa kehilangan arah. Sebuah posisi yang menuntut kewaspadaan, kepekaan, dan kesediaan untuk terus menimbang.
Barangkali dua gambaran ini—Majma’ al-Bahrain dan ummatan wasathan—sedang saling menyapa. Keduanya berbicara tentang pertemuan, tentang keseimbangan, tentang keberanian berada di ruang yang tidak sepenuhnya nyaman, tetapi justru menyimpan kemungkinan hidup. Lalu, bagaimana jika kita tarik lebih dekat ke kehidupan kita sendiri?
Mungkin roroning atunggil hadir saat kita menimbang antara pekerjaan dan keluarga, antara tradisi yang kita rawat dan realitas digital yang kita jalani hari ini. Atau saat kita berada di persimpangan, ketika dua nilai, dua kepentingan, atau dua pilihan bertemu dan menuntut satu sikap.
Sinau bareng malam ini tidak ditujukan untuk mencari satu kesimpulan. Kita hanya duduk bersama, saling mendengar, bertukar cerita, dan membuka ruang pikir. Siapa tahu, dari pengalaman sehari-hari, dari bacaan, atau dari kegelisahan masing-masing, muncul percikan makna yang membuat kita lebih peka.
Monggo, mari kita obrolkan bersama—pelan-pelan—tentang roroning atunggil yang mungkin sedang kita jalani, tanpa kita sadari. (Redaksi Waro` Kaprawiran)








