Dari dulu kita sering memahami sebuah bangsa dan negara dengan analogi kapal. Hal itu muncul mungkin karena Indonesia adalah negara maritim, sehingga kapal menjadi analogi yang dekat dengan kita. Secara teknis pun, kapal memang cocok diibaratkan sebagai negara dibandingkan dengan alat transportasi lainnya. Sebab kapal tidak bisa berhenti dan berjalan di sembarang tempat. Jalurnya tanpa marka, yang membuat seorang nahkoda tidak hanya pandai mengemudi, tetapi juga pintar membaca cuaca, ombak, dan arah angin. Hal ini menandakan bahwa kapal adalah analogi yang tepat untuk menggambarkan suatu negara.
Berhubung Maiyah salah satu aspek kuncinya adalah menelusuri jalan nubuwwah atau jalannya para Nabi terdahulu, maka ketika membahas sebuah kapal, yang terlintas secara khusus adalah Nabi Nuh dengan kisah tentang bahteranya yang sangat fenomenal dan menyimpan makna, baik secara eksplisit maupun implisit.
Pada diskusi Bangbang Wetan edisi bulan ini, kita tidak fokus pada teknologi kapal, maintenance infrastruktur kapal, maupun mitigasi bencana yang dilakukan oleh Nabi Nuh. Namun, kita berusaha fokus mencari nilai (value) yang ada pada seluruh peristiwa yang berkaitan dengan kapal Nabi Nuh. Tujuannya agar kita dapat berjalan di jalur nubuwwah secara nilai.
Mbah Nun dalam berbagai literaturnya, baik berupa tulisan maupun dalam Sinau Bareng, sering memaknai dan mencari hikmah dari kapal Nabi Nuh. Dengan lensa tadabbur, terdapat dua pemaknaan Mbah Nun mengenai kapal atau bahtera Nabi Nuh tersebut.
Pertama, Mbah Nun menyampaikan gagasan tentang Kapal Nuh Abad 21. Kapal Nuh abad 21 digambarkan tidak lagi bergerak menuju muara, bahkan haluannya oleng dan mobat mabit ke berbagai arah karena kemudinya diperebutkan oleh banyak orang yang mengaku mukmin dan muslim, merasa paling benar, dan ingin memimpin. Sesungguhnya mereka bukan sedang menumpang Perahu Nuh, melainkan menaiki kapal nafsu masing-masing: berlomba menonjolkan diri, saling menunjuk, mengepalkan ego, dan meneriakkan klaim kredibilitas, integritas, kompatibilitas, serta elektabilitas sebagai alasan untuk menjadi nahkoda.
Gambaran ini disampaikan Mbah Nun dalam seri Daur IV: Kapal Nuh Abad 21, yang menunjukkan bahwa masih banyak pemimpin yang, dalam bahasa Suroboyoan, “epok-epok”: menutupi segala sifat buruknya dan menonjol-nonjolkan kebaikannya, yang sebenarnya merupakan kewajiban dasar seorang pemimpin untuk melakukan kebaikan itu. Namun, hal itu seakan-akan dianggap sebagai sesuatu yang luar biasa. Ini menunjukkan bahwa elektabilitas dan validasi telah menjadi tujuan utama kepemimpinan di era sekarang.
Di samping itu, karena pemimpin atau nahkoda kapal di abad 21 ini memiliki nafsu yang sangat tinggi untuk dirinya sendiri, alhasil Kapal Nuh seakan-akan hanya menjadi kertas kosong. Kapal Nuh seakan-akan tidak memiliki tujuan. Padahal sudah jelas tujuan Kapal Nuh adalah menyelamatkan seluruh makhluk. Namun, setiap pergantian kenahkodaan, tujuan kapal itu seolah hilang, bahkan dimanipulasi sesuai dengan keinginan dan ambisi nahkodanya. Hal inilah yang membuat haluan Kapal Nuh abad 21 menjadi oleng.
Dengan kondisi Indonesia saat ini, yang setiap lima tahun menghadirkan lembaran baru ambisi para calon pemimpin negara, kita seakan lupa bahwa Indonesia bukan negara tanpa tujuan yang terus berganti setiap lima tahunan. Negara Indonesia memiliki landasan yang kuat sejak 1945, mulai dari garis besar haluan negara, UUD 1945, Pancasila, hingga berbagai landasan hukum lainnya. Namun, di era sekarang, haluan itu seakan kabur dan tertumpuk oleh nafsu serta ambisi para pemimpinnya, yang sering kali tidak koheren, bahkan dimanipulasi konteksnya terhadap landasan-landasan bernegara tersebut.
Dengan kondisi itu, Kapal Nuh abad 21 yang kita ibaratkan sebagai negara Indonesia ini tidak hanya oleng, tetapi bahkan sudah hancur menjadi puing-puing. Rakyat menjadi bingung dan “nelongso”: mana Kapal Nuh abad 21 yang benar-benar menyelamatkan, menenteramkan, mendamaikan, dan menyejahterakan penumpangnya?
Kemudian yang kedua, Mbah Nun menekankan bahwa Maiyah dimaknai sebagai Bahtera Nuh di tengah banjir kegila-duniaan, kaserakahan, kekufuran, dan kemunafikan yang melanda manusia modern. Kita dikepung oleh kebohongan, kepalsuan nilai, serta mekanisme hidup yang menjauhkan manusia dari hakikat kehidupan yang dikehendaki Allah Swt., sehingga sering kali kita merasa tidak berdaya dan membutuhkan pertolongan-Nya. Banjir tersebut bukan kehendak Allah, melainkan akibat dari hubbun-dunya dan nafsu manusia dalam pusaran modernisasi dan globalisasi. Dampaknya, anugerah keindahan dan kesejahteraan Indonesia justru berubah menjadi rasa inferior, keterpurukan, dan kehinaan.
Bencana yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini memang merupakan sunnatullah. Namun, jika dilihat lebih dekat, sesungguhnya bencana itu juga terjadi karena ulah manusianya sendiri, yang terkepung oleh nafsu dan ambisi untuk meraih sebanyak-banyaknya dunia. Hal ini membuat Indonesia, yang awalnya merupakan anugerah Tuhan, berubah menjadi bencana bagi seluruh bangsa Indonesia.
Maiyah akan bersama-sama membangun bahtera itu kembali: berkumpul, menyatukan puing-puing bahtera agar kembali menjadi bahtera yang kokoh dan kuat. Dalam hal ini, Syekh Nursamad Kamba menyampaikan bahwa atas rahmat dan kasih sayang Tuhan, Nuh hadir kembali sebagai simbol ratapan dan rintihan nurani manusia, sesuai makna asal namanya. Kebangkitan Nuh merepresentasikan suara batin manusia yang mengajak untuk kembali kepada Tuhan—atau setidaknya kembali kepada nurani, jika makna ketuhanan telah banyak dimanipulasi. Seruan ini menegaskan bahwa hanya dengan kembali kepada nurani, manusia dapat menemukan “perahu” atau bahtera yang menyelamatkan dari badai kehancuran.
Mari bersama-sama kita rumuskan: apa saja puing-puing yang telah hancur dari Kapal Nuh itu? Bagaimana kita merangkainya kembali agar menjadi kapal yang kuat? Dan sejauh mana jamaah Maiyah mampu mempersatukan puing-puing tersebut? Kita sinau barengkan semua itu pada edisi BangbangWetan bulan Januari. Teko yo rek.
(Redaksi Bangbang Wetan)








