Kita hidup di zaman yang sering disebut sebagai era post-truth—istilah yang menggambarkan keadaan ketika opini dan emosi sering lebih dipercaya daripada fakta dan kebenaran. Sesuatu bisa dianggap benar karena banyak yang membagikan (viral/trend). Sebuah kabar terasa sah karena sesuai dengan perasaan. Lalu, di tengah keadaan seperti ini, apakah kebenaran masih dicari, atau hanya dipilih sesuai selera? Apakah keberpihakan kita lahir dari niat karena Allah, atau sekadar karena kedekatan emosional?
Pro-eksistensi Ilahiah—adalah keberanian untuk “ada bagi yang lain” dengan niat yang lurus dan berpihak pada kehendak Ilahi. Bukan sekadar membela, tetapi membela dengan dasar nilai. Bukan sekadar ikut arus, bukan sekadar membela suara yang paling keras, tetapi berpihak pada nilai dan keadilan. Konsep semangat hidup bersama secara dinamis, harmonis, dan proaktif di tengah kemajemukan. Lebih dari sekadar berdampingan, yang bermakna terlibat aktif dalam menjamin keamanan, kelestarian, dan bertumbuhnya keberadaan orang lain yang berbeda, menjadikan perbedaan sebagai modal kolaborasi, bukan ancaman.
Memilih keberpihakan atau niat baik kepada penempuh jalan fi sabilillah untuk menumbuhkan realitas kerjasama antar manusia yang bersandar pada kehendak ilahi.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an, surat Al-Hujurat ayat 9: “Dan jika ada dua golongan orang beriman berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari keduanya berbuat zalim terhadap yang lain, maka perangilah yang berbuat zalim itu hingga kembali kepada perintah Allah. Jika ia telah kembali, maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.”
Ayat ini mengajarkan bahwa ketika ada konflik, tugas pertama adalah mendamaikan. Bukan memperkeruh. Bukan menyebarkan potongan cerita. Bukan menambah bara.
Dan jika harus berpihak, berpihaklah pada keadilan—bukan pada fanatisme.
Bukankah puasa melatih kita untuk adil pada diri sendiri?
Bulan Ramadhan yang berarti tazkiyatun nafs—(penyucian jiwa), seharusnya melahirkan pribadi yang memiliki Pro-eksistensi Ilahiah—keberadaan yang sadar untuk hadir membawa kebaikan karena Allah.
Hadir sebagai penenang, bukan penyulut.
Hadir sebagai penjernih, bukan pengabur.
Hadir sebagai pendamai, bukan provokator.
Semoga Ramadhan ini bukan hanya momen mengubah jadwal makan kita, tetapi juga mengubah cara kita bersikap.
Bukan hanya memperbanyak ibadah ritual, tetapi juga memperdalam ibadah sosial.
Karena mungkin ukuran keberhasilan Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi seberapa jujur mempertahankan keseimbangan bersikap adil. Seberapa sungguh-sungguh kita menjalani kehidupan di era post-truth, untuk terus melanjutkan perjalanan yang berpihak pada nilai Ilahiah, memperlebar rasa saling percaya diantara kita
demi kebaikan bersama.
Wallahu a‘lam bi-sh-shawab.








