Di kampung kesadaran kita, rasanya ada yang perlu kita luruskan bersama tentang cara bertani. Bukan bertani padi, kelapa, atau sawah, tapi bertani manusia. Kita mendirikan ormas, organisasi, jamaah, komunitas dengan niat menjadi ruang semai. Namun pelan-pelan, tanpa sadar, ruang-ruang itu berubah menjadi kebun milik pribadi. Benih kesadaran ditanam bukan supaya tumbuh merdeka, melainkan supaya kelak bisa dipanen sebagai loyalitas, kekuasaan, atau pembesaran nama seseorang. Paternalisme pun tumbuh subur, karena tanahnya kita sirami sendiri dengan ketundukan yang jarang diajak berpikir.
Padahal dalam pertanian yang sehat, petani tidak berharap tanamannya terus bergantung. Ia mengolah tanah, memberi air, menjaga dari hama, lalu memberi ruang agar akar mencari jalannya sendiri. Tetapi dalam banyak ruang sosial kita, pemimpin justru ingin menjadi satu-satunya sumber kehidupan. Organisasi yang semestinya menjadi tempat pembibitan manusia berubah menjadi barisan yang seragam: rapi, patuh, tapi miskin keberanian untuk berbeda. Ketika satu patron tumbang, sering kali yang tumbuh bukanlah tanah baru yang lapang, melainkan pohon lain dengan bayang-bayang yang sama.
Malam nanti kita diajak menengok ulang cara kita menanam. Juguran Syafaat ingin menjadi ruang semai, bukan tempat memanen tepuk tangan. Tempat manusia belajar berakar pada nilai-nilai yang diyakini bersama, bertumbuh sesuai fitrahnya, bukan menurut kepentingan siapa pun; dan kelak berbuah kebaikan tanpa perlu terus bergantung atau mengikatkan diri pada siapa yang lebih dulu hadir. Sebab pertanian manusia yang sejati tidak melahirkan barisan pengikut yang sekadar rapi, melainkan manusia dewasa yang mampu menumbuhkan kehidupan di mana pun ia berpijak.
(Redaksi Juguran Syafaat)








