Dalam terminologi Sunda, Panceg berarti teteg, ajeg, tee oyag ku kaayaan—tegak, mantap, tidak mudah goyah oleh keadaan. Namun panceg bukan sekadar kaku berdiri. Di dalamnya ada kesadaran, ada ketenangan, ada keteguhan batin yang tidak mudah tercerabut oleh angin zaman.
Bulan lalu sempat disentuh tentang taklifi—tentang beban, amanah, dan kapasitas manusia menerima tanggungan hidup. Sekilas saja: beban tidak pernah dititipkan melampaui kemampuan. Tetapi setelah beban diterima, apa yang menjaga langkah agar tidak berhenti di tengah jalan? Apa yang membuat seseorang tetap ajeg ketika lelah datang? Di sanalah Panceg menemukan nadinya.
Dalam salah satu tulisan di CakNun.com berjudul “Istiqamah Berproses di Maiyah”, terdapat kalimat yang jernih dan membumi: “…di Maiyah selalu diajarkan untuk melakukan tiga kebaikan secara terus menerus… menanam, puasa, dan sedekah… tiga kebaikan utama yang selalu istiqomah dilakukan pasti akan membuahkan hasil yang bisa ditandur”.
Istiqomah tidak dipotret sebagai gagasan besar yang melangit. Ia dihadirkan dalam tindakan kecil yang berulang. Menanam. Puasa. Sedekah. Dilakukan terus. Tanpa sorak-sorai. Tanpa gegap gempita. Bukankah panceg sering disalahpahami sebagai keras dan tak bergerak? Padahal di sini justru tampak sebagai ketekunan yang lirih.
Hidup sendiri sebenarnya tidak pernah diam. Ia berayun. Kadang condong ke kiri, kadang condong ke kanan. Ada masa kuat, ada masa rapuh. Ada saat yakin, ada saat ragu. Panceg bukan berarti meniadakan ayunan itu. Panceg adalah kemampuan menjaga titik tengah di antara ayunan tersebut. Selama gerak hidup masih kembali pada poros nilai, selama hati masih sanggup pulang ke niat awal, maka ayunan itu tidak merusak—ia justru menjadi ritme yang menumbuhkan.
Masih dari tulisan yang sama, ada pertanyaan yang menggugah: “Guru kita Mbah Nun, jauh lebih istiqomah… energi apa yang menggerakkan beliau? Dari mana energi yang beliau dapatkan? Berapa besar luas kesabaran… sehingga beliau rela tanpa pamrih menjalankan itu semua?”
Pertanyaan itu bukan untuk mengagungkan seseorang. Ia seperti cermin yang diam-diam diarahkan kepada diri masing-masing. Dari mana datangnya daya untuk konsisten? Apa yang membuat seseorang sanggup berjalan panjang tanpa kehilangan arah?
Dalam tulisan lain, “Padhangmbulan 29 Tahun: Istiqamah Menata Hati Menjernihkan Pikiran”, digambarkan bahwa istiqomah adalah proses panjang menata hati dan menjernihkan pikiran. Artinya, Panceg bukan sekadar bertahan, melainkan merawat kejernihan batin agar arah tetap lurus. Maka Panceg bukan berarti tidak pernah goyah. Panceg adalah kesediaan untuk kembali. Kembali meluruskan niat. Kembali menata hati. Kembali menyambung arah.
Dalam doa yang setiap hari terucap—ihdinash-shirathal mustaqim—terdapat permohonan agar senantiasa berada di jalan yang lurus. Lurus bukan berarti beku. Lurus berarti arah yang terus diupayakan. Apakah konsistensi selama ini lahir dari kesadaran, atau hanya kebiasaan? Apakah keteguhan berdiri di atas nilai, atau sekadar berdiri di atas ego? Taklifi mengingatkan tentang beban. Istiqomah menjaga agar beban tidak berubah menjadi keluhan. Panceg menjadikan perjalanan tidak mudah dipatahkan oleh pujian ataupun cibiran.
Namun bagaimana menjaga Panceg agar tidak berubah menjadi keras kepala? Bagaimana merawat istiqomah agar tidak sekadar menjadi rutinitas tanpa ruh? Mungkin Panceg bukan soal seberapa keras menggenggam.Melainkan seberapa dalam tertanam.
Di titik mana posisi hari ini? Sudahkah Panceg menjadi ajeg dina haté, atau masih sebatas wacana di lisan? Atau mungkin butuh pertanyaan yang lebih mendasar lagi; urusan apa sebenarnya yang sedang engkau Panceg-Kan? Mari duduk bersama dan mendiskusikan: Bagaimana merawat PANCEG agar tetap lembut, istiqomah, dan hidup di tengah perubahan yang tak pernah berhenti. (Redaksi Nujuhlikuran)








